Kabar Terkini

Penting Mana: Kompetisi atau Kolaborasi?


BMS 1Baru saja tersiar kabar bahwa salah satu paduan suara kebanggaan Indonesia, Batavia Madrigal Singers, yang sudah sedemikian kaya dengan segudang prestasi internasional baru saja menambah perbendaharaan gelarnya di ajang internasional. Di ajang grandprix ini BMS yang dipimpin oleh konduktor kawakan yang sudah 20 tahun malang melintang di dunia paduan suara nasional, Avip Priatna, mengecap kemenangan di Tours dalam kompetisi bergengsi Florilège vocal de Tours. Namun apakah ini puncak ajang ataukah ada hal yang lebih besar akan datang?

Kali ini prestasi BMS adalah merebut prestasi juara 3 dalam kategori Mixed Choir dan juara dua dalam kategori Renaissance. Pun ditambah dengan penghargaan interpretasi terbaik untuk lagu Salve Regina karya Hoffman. Sebuah prestasi yang sebenarnya patut dibanggakan. Memang lawan mereka kali ini yang merebut juara umum juga berkaliber dunia dengan prestasi pernah memenangkan kompetisi bergengsi European Grand Prix for Choral Singing di tahun 2006. Memang pemenang dari Tours berhak atas tiket berkompetisi dalam European Grand Prix di tahun berikutnya, sehingga mungkin saja University of Utah Chamber Choir ini mampu memenangi European Grand Prix di tahun depan yang diikuti oleh 6 juara umum kompetisi bergengsi paduan suara di Eropa, siapa tahu.

Namun demikian sebenarnya harus dikatakan bahwa puncak perjalanan BMS dalam turnya kali ini sama sekali bukanlah perlombaan atau menang-kalahnya dalam kompetisi ini. Memang bisa jadi ini adalah target yang terus menerus dikejar oleh paduan suara yang tahun ini sudah berkiprah lebih dari 15 tahun dan terus berprestasi dalam berbagai kompetisi internasional sejak tahun 2011. Yang sebenarnya menarik dalam turnya kali ini adalah BMS kembali mengutamakan terjalinnya kerja sama dan penampilan bersama di berbagai tempat. Pertama adalah konsernya di Kedutaan Besar Indonesia di Paris, Prancis dan tentunya konser kolaborasi dengan Coro Chamber Choir Inggris yang disponsori oleh Kedutaan Besar Indonesia di London.

Memang harus dikatakan di negara Indonesia, kompetisi dan kemenangan mendapat nilai yang luar biasa tinggi dibandingkan dengan kerja sama dan pencapaian artistik ‘semata’. Seringkali pencapaian artistik hanyalah untuk mendukung kemenangan, sama seperti bagaimana kita lihat perseteruan dua kubu calon presiden yang sekarang ini marak sekali media sosial. Memang pertarungan paduan suara di ajang kompetisi tidak seperti kampanye kita yang penuh dengan black campaign, namun esensi dari kompetisi tidaklah untuk berdiri dalam dirinya sendiri, melainkan untuk mendukung pencapaian artistik yang lebih tinggi lagi.

Kolaborasi dan konser di luar negerilah yang seharusnya mendapat perhatian penuh. Ya, penampilan-penampilan mereka di konser-konser inilah yang seharusnya mendapat perhatian penuh dan terus didukung. Pada saat inilah sebenarnya keindahan musik dan membina relasi lewat nada-nada di antara orang-orang berbagai bangsa dan negara mencapai puncaknyan, bukan karena ajang siapa yang lebih baik dari siapa, tapi dalam semangat saling belajar dan berinteraksi dalam lagu dan suara. Tentu yang menarik adalah kerja sama yang akan terjalin dengan Coro Chamber Choir di London.

Coro Chamber Choir sendiri bisa dikatakan sebagai paduan suara seumur dengan BMS. Dibentuk tahun 2001, Coro yang seperti BMS diawaki oleh pecinta-pecinta paduan suara amatir,  juga telah menunjukkan kualitasnya lewat prestasi di berbagai kompetisi seperti BMS, Arrezo dan Tours adalah beberapa dari kompetisi yang diikuti oleh Coro dan dimana mereka menyabet gelar. Pun dalam usianya yang belum sampai 1.5 dekade, mereka sudah menunjukkan tajinya, seperti halnya BMS. Pun kerja sama ini terjalin berkat hadirnya salah seorang anggota BMS yang sekarang tinggal di London dan turut bernyanyi dalam paduan suara ini. Tampil bersama tentunya berbeda dengan tampil sebagai kompetitor. Dan manisnya bermusik selalu terasa apabila dinikmati dalam kebersamaan seperti kolaborasi ini.

Tentunya kerja sama seperti ini dan penampilan-penampilan di paduan suara di luar negeri yang seperti ini yang harusnya menjadi fokus. Bukanlah sekedar kemenangan belaka. Dan sejujurnya, kisah macam inilah yang ditunggu-tunggu karena berkisah tentang kebersamaan dan mengusahakan kualitas bersama, bukan cuma sekedar menang-kalah yang seringkali lebih asik jadi topik artikel dalam suratkabar dan tabloid. Pengalaman paduan suara pun akan ditingkatkan apabila bekerja sama dengan paduan suara yang sungguh mumpuni.

BMS tahun ini menurunkan banyak penyanyi mudanya untuk berkompetisi memang harus membayar harga bahwa inilah salah satu proses pembibitan para seniman-seniman vokal muda dengan harapan akan semakin berkualitas dan mampu menunjukkan prestasi di masa yang akan datang. Dan tentunya kerja sama dengan Coro Chamber Choir adalah sungguh menjadi pengejawantahan yang sebenarnya dari ide ‘musik yang menyatukan’. Tidak bisa disangkal bahwa memang kompetisi menjadi barometer eksisnya BMS di luar negeri, demikian juga Coro. Namun demikian, BMS sudah membuka jalan sejak beberapa waktu lalu bahwa bermusik bukan cuma sekedar berkompetisi, namun juga membina relasi, bukan hanya dalam acara kompetisi namun sungguh mampu mewarnai kekayaan dan kehidupan berkesenian di dalam dan luar negeri. Dan tentunya kerja sama ini adalah bentuk pengakuan atas kualitas BMS. Sekali lagi selamat dan tentunya kolaborasi ini sangat patut kita nantikan dan simak.

Sekarang pertanyaannya adalah seiring dengan semakin banyaknya paduan suara Indonesia yang berkiprah di luar negeri, seberapa banyak paduan suara yang terpikir untuk berkolaborasi dengan penggerak paduan suara luar negeri, seperti layaknya BMS? Ataukah hanya menjadikan ajang kompetisi sebagai pencapaian terakhir dan lanjut dengan tamasya di luar negeri?

~ Gambar ilustrasi diambil dari cover FB Renata Raissa.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Penting Mana: Kompetisi atau Kolaborasi?

  1. mungkin ini adalah indikasi, belum banyak pegiat paduan suara yang mampu merancangkan kegiatan berpaduan suara selain mengikuti kompetisi. sehingga kompetisilah yang menjadi agenda tertinggi yang seakan harus dicapai. seakan melupakan esensi, bahwa kompetisi hanyalah bagian dari aspek pembelajaran.
    Padahal mau tidak mau harus diakui, beban finansial keikut sertaan dalam kompetisi seringkali, atau bahkan memaksa sebuah kelompok paduan suara untuk mengandalkan bantuan dari pihak luar, baik berupa sponsorship mauoun donasi. saya rasa wajar, kalau ini menjadi embrio pertanyaan, kapan paduan suara bisa mandiri, hidup tanpa bantuan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: