Kabar Terkini

Dari Taman Suropati hingga Panggung GKJ


Surapati1a (2)Anak-anak berusia 5-6 tahun berbaris rapi. Memegang busur biola dan instrumen biola saja mungkin belum fasih, tapi bersama dengan anak-anak ini juga hadir pelajar remaja yang baru saja belajar bermain biola di panggung Gedung Kesenian Jakarta hari Minggu sore ini. “Gita Senja Metropolitan” itulah tema yang diangkat oleh Taman Suropati Chamber di tahun 2014 ini untuk menyemarakkan Jakarta Anniversary Festival di bulan Juni ini.

Jujur, ini bukanlah kali pertama penulis hadir dalam konser yang diselenggarakan oleh Taman Suropati Chamber yang berorientasi pada pengembangan minat serta pemberdayaan komunitas. Beberapa tahun yang lalu dengan pertimbangan ini adalah ensembel pendidikan, penulis memutuskan untuk tidak mengulas penampilan mereka di Gedung Kesenian Jakarta di blog ini. Namun lain halnya tahun ini.

Di tahun 2014 atau sekitar 7 tahun sejak berdirinya komunitas yang bermarkas di Taman Suropati Menteng setiap Minggu pagi ini, harus diakui bahwa memang kita tidak dapat melihat komunitas yang dikomando Ages Dwiharso ini hanya dari kualitas permainan semata. Yang lebih menarik adalah visi yang diemban sekaligus juga konsistensinya dalam mengembangkan komunitas dan minat akan alat musik gesek. Dan bagaimana kelompok ini mengoptimalkan ruang publik seperti taman kota di Jakarta Pusat ini untuk pendidikan seni.

Taman Suropati Chamber memang menjadi media pembibitan bagi para insan-insan muda yang tertarik untuk bermusik, terutama bermain instrumen gesek. Mereka yang buta nada sekalipun dibimbing dalam semangat kekeluargaan untuk belajar instrumen dengan biaya yang minimum. Alhasil, akses kepada pendidikan musik yang seringkali amat terbatas menjadi lebih terbuka. Musik dengan instrumen gesek khas musik klasik Barat bukan lagi menjadi alat yang angker namun menjadi sarana belajar dan bekerja sama. Bukan hanya di gedung konser dan sekolah musik mewah, namun juga di taman dan terbuka bagi semua orang.

Surapati2a (1)Sebagai media pembibitan, Taman Suropati Chamber di tahun ini menampilkan 3 buah ensembel yang masing-masing mewakili kelompok keterampilan para anggotanya. Kelompok Bibit seperti disampaikan di awal adalah kelompok yang diawaki oleh para pelajar-pelajar muda dan sore itu menampilkan lagu-lagu daerah seperti “Bolelebo”, “Injit-injit Semut” berirama Rhumba dan “Sang Kodok” berirama Cha-cha. Kelompok Akar dan Batang adalah mereka yang berada satu level di atasnya yang menampilkan dua nomor berirama Rhumba “La Paloma”, “Dondong Opo Salak” dan “Bungong Jeumpa” khas Aceh dalam gaya Bossanova.

Ages sendiri memimpin dari depan piano dan didukung dengan orkes keroncong yang merangkap orkes latin di belakang. Gitar, cak, bongo dan perkusi, cello dan contrabass mengisi seksi ritme. Sedang anak-anak bermain berdiri lengkap dengan kostum pakaian daerah yang berwarna-warni semarak. Pun para instruktur yang setiap minggu setia mengajar para pemain juga hadir bermain bersama dengan anak-anak didiknya.Babak pertama pun ditutup dengan kehadiran pengajar senior piano Farabi Haruyo Prabowo bersama biolinis belia Abraham membawakan Czardas karya Vittorio Monti yang mengingatkan hentakan-hentakan tarian khas Eropa Timur.

Taman Suropati Chamber pun tampil di babak kedua sebagai pemuncak konser. Taman Suropati Chamber yang telah berdiri selama 7 tahun ini didukung pemain-pemain yang telah memasuki tingkatan lanjut yang juga dibibit dari dalam dan juga para instruktur bermain bersama, membawakan nomor populer “Quizas”, “Torna Sorriento” dan “Becak”. Tiara Sudira yang juga adalah anggota orkes kamar ini membawakan “Selendang Sutera”. Tampil juga dalam acara ini, Lisa Arianto sebagai vokalis membawakan “Semalam di Cianjur” dan “Kicir-kicir”. Pun juga hadir saxophonis Didiek SSS yang membawakan nomor jazz populer “Spain” bersama seksi ritme, piano, biola dan flute Sony Dengah yang fasih dan ringan berbalas dengan Didiek yang mengawali nomor ini dengan bagian tema lambat dari “Concierto Aranjuez” karya Rodrigo. Ia pun ‘dipaksa’ menemani Lisa Arianto dengan berimprovisasi yang ia lakukan dengan sigap. Tembang bermoda keroncong pun mengalun di antara musik berirama latin.

Harus diakui bahwa dari segi kualitas permainan, kita tidaklah arif melihat orkes ini sebagai orkes yang sudah “jadi”. Bahkan Ages sendiri mengakui bahwa mereka adalah kelompok nekad yang berani membawa anak yang masih fals bermain biola ke panggung GKJ. Meskipun demikian, harus diakui bahwa penampilan seperti ini juga menjadi pemicu peserta didik untuk mau berlatih lebih dan belajar. Di sisi lain, Taman Suropati Chamber yang digawangi pelajar-pelajar senior dan para instrukturnya sebenarnya dapat lebih dikembangkan lebih jauh dengan pemilihan repertoar dan orkestrasi yang lebih rumit. Sayangnya dalam penampilan kali ini tampak bahwa orkes kamar ini belum didorong hingga sedemikian jauh, padahal mereka memiliki kapabilitas yang cukup.

Akhirnya memang kita harus memberi apresiasi pada kelompok ini yang terus setia menggerakkan kehidupan berkesenian di ibukota ini. Nama Orkes Taman Suropati bisa jadi sudah menjadi trademark tersendiri yang disegani karena konsistensi dan komitmennya sejak 2007. Namun perjuangan membuka musik untuk khalayak yang lebih luas tidak akan pernah usai, sama seperti kekayaan seni yang tidak pernah berbatas. Dan dalam perannya membuka cakrawala musik dalam sistem pendidikan nasional yang semakin tuli dan tak acuh terhadap seni musik di ruang publik, Taman Suropati Chamber telah berkontribusi dengan sangat apik.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

5 Comments on Dari Taman Suropati hingga Panggung GKJ

  1. hoo.. ko mike nonton konsernya ya tadi sore..
    semoga dengan adanya komunitas musik ini, makin meningkatkan akses untuk belajar alat musik gesek yaa..
    btw, if you ever heard, di perpustakaan pusat ui depok juga ada komunitasnya. mereka latihan setiap sabtu siang..

  2. Iya… Sudah pernah denger tapi blm pernah berkunjung ke penampilan mereka sih… Pengen sih sekali2 liat ke sanaπŸ™‚

  3. mbok ya ada videonya gitu loh jadi yg di depok ini bisa kebayang jg gimana bunyinya

  4. Nice post!πŸ™‚ hmmm hampir sama kayak yang digagas anak muda di suatu daerah, kalo nggak salah namanya “trotoart” cuma mereka konsisten mengembangkan jalur seninya nggak terbatas. dan uniknya lokasinya di trotoar. Alhamdulillah kalo memang ada lembaga yang mendukung proses kreatif bibit-bibit muda pecinta musik. daripada dibiarkan dan tak tersalurkan malah akhirnya melakukan hal melanggar hukum.πŸ™‚
    Hmm.. Mungkin suatu saat harus ada kolaborasi dengan musisi yang sudah mapan :3

  5. Yap, kolaborasi itu sangat memungkinkan kok… Kmrn pun taman suropati ada kolaborasi juga…πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: