Kabar Terkini

Melambung dalam Polifoni, 149 tahun PS St. Caecilia


PSSC1

149 tahun di tahun 2014, mungkin Paduan Suara St. Caecilia Katedral Jakarta adalah salah satu paduan suara tertua di Jakarta dan mungkin Indonesia yang hingga kini masih berdiri dan terus aktif berkegiatan. Dan tentunya memasuki satu setengah abad, tentunya usia itu bukanlah pencapaian yang biasa-biasa saja.

Di dalam gedung Gereja Katedral Jakarta yang berusia 113 tahun inilah, PSSC, demikian paduan suara ini dikenal, menyampaikan pujian-pujian lewat suara yang melambung memenuhi gereja bergaya neo-gothic ini. Harus dikatakan bahwa PSSC pun telah menjadi bagian dari sejarah gereja ini. Tak heran bahwa musisi Budi Utomo Prabowo yang pernah menangani paduan suara ini mengatakan bahwa paduan suara yang pada penampilan ini didukung oleh 25 orang vokalis ini secara karakter seakan sudah menyatu dengan bangunan gereja ini.

Memang pada konser doa malam ini yang bertajuk “The Spirit of the Lord” PSSC tampil dengan cukup apik. Nomor-nomor musik dari nyanyian gregorian seperti “In Acensione Domini” dan “Data est mihi” terjalin dengan karya-karya polifoni zaman renaisans seperti “Ascendens Christus in Altum”, “Gloria in Excelsis Deo” karya T.L. de Victoria dan “Veni Creator Spiritus” karya Palestrina yang mengangkat tema gregorian dengan judul lagu yang sama dan dikembangkan dalam bentuk polifoni khas abad ke 16 yang menjadi ciri khas polifoni sakra Italia. Tampil sebagai konduktor adalah Alexander Louciano dan Julita Suriyanto.

Selain karya klasik gereja, juga dihadirkan karya dari Ateninger “Factus est repente” dan karya von Bruck “Komm, heiliger Geist, Herre Gott”. Lalu sebagaimana tajuk konser ini, karya Edward Elgar berjudul “The Spirit of the Lord” menjadi penutup kemasan konser malam itu sembari diiringi oleh permainan organ Agustina Indrawati.

Penggarapan tata suara yang memang menyatu dengan akustik bisa jadi adalah kekuatan PSSC yang sedemikian ketara. Pun pilihan paduan suara ini untuk membawakan karya-karya polifoni renaisans adalah pilihan yang tepat dikarenakan karakteristik vokal PSSC yang memang berkarakter lembut dan cenderung cerah. Seringkali apabila paduan suara ini mampu mewujudkan akor-akor murni, suara serasa melambung tinggi hingga ke langit-langit gereja. Sungguh adalah sebuah anugerah tersendiri bagi sebuah paduan suara mampu bekerja dalam gedung dengan tata akustik seperti Katedral Jakarta. Memang perlu diperhatikan lebih lanjut dalam penggarapan karya-karya gregorian terutama dalam mengambil interval-interval hingga karya terbina secara intonasi, terutama di bagian awal di mana paduan suara masih belum sepenuhnya panas.

Secara keseluruhan, konser berlangsung sederhana namun khusyuk. Di seksi sopran, paduan suara tampil dengan kejernihan yang tertata, pun di sisi alto yang cukup solid namun sayangnya seringkali kurang mendapat sorot dalam penggarapan. Di sisi bass dan tenor yang sebenarnya cukup bertenaga dapat lebih tergarap secara artikulasi terutama dari segi pengucapan teks lagu berbahasa Inggris, Latin dan Jerman ini. Yang menarik adalah bagaimana paduan suara ini menyanyikan setiap kata dengan maksud yang tersampaikan dengan jelas dan kuat, terlepas dari keterbatasan yang ada. Mungkin di sisi inilah, musik yang apabila dinyanyikan dalam aspekĀ keimanan para penyanyinya memiliki warna yang berbeda.

Namun agaknya yang perlu mendapat perhatian khusus adalah sebenarnya penangkapan penggarapan para dirigen akan konteks pengembangan polifoni dalam setiap alur suara. Konteks harmoni yang seringkali menjadi andalan maestro kontrapung polifoni abad ke-16 dalam menciptakan emosi dalam pergerakan pun bisa lebih disorot lebih jauh dan dibentuk. Ditilik dari sudut yang berbeda, produksi suara yang lebih terfokus dan konsisten dapat lebih terbina untuk menciptakan artikulasi yang lebih mengena.

Paduan Suara St. Caecilia Katedral Jakarta di usianya yang memasuki 1.5 abad bisa jadi berkembang lebih jauh lagi, mengingat dalam sejarahnya paduan suara ini dengan setia melayani dan mempersembahkan musik dalam ibadah maupun konser-konser. Perannya pun sebagai kakak tertua yang banyak menelurkan alumni-alumni yang masing-masing aktif sebagai penggerak musik gereja di banyak paduan suara di Jakarta juga perlu diperhitungkan. Pada menyambut ulang tahun ke-150 tahun depan, paduan suara ini diharap bukan saja semakin matang dalam usia, namun juga semakin mantap dalam kualitas bermusik. Semoga.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: