Kabar Terkini

Membahas “Disonansi” Musik di Media Massa? Ga Salah??


NYTimes dissonanceKebayangkah Anda seorang pengamat musik di Indonesia menulis dengan cerdik dan apik mengenai fitur “disonansi pada musik” dalam sebuah surat kabar nasional?

Jujur saja mungkin Anda yang sudah cukup lama membaca surat kabar 20-30 tahun lalu pernah membaca tulisan-tulisan begawan musik seperti Slamet Abdul Sjukur dan Suka Hardjana akan melihat tulisan dengan kedalaman dan keberanian macam itu. Tapi sekarang? Sepertinya tulisan macam ini cuma akan dikesampingkan oleh para editor dan redaktur dengan alasan bahwa tulisan itu terlalu spesifik, atau mungkin malah sebaliknya, para pembaca terlalu lemah untuk paham.

Berikut adalah link dari tulisan salah satu kritikus favorit saya Anthony Tommasini di harian New York Times. Ya, berani mengupas tentang fitur disonansi dalam surat kabar nasional AS dan menyajikannya dengan cerdik, ringan namun tetap informatif. Contoh-contoh pun ditulis dengan informatif yang mungkin walaupun kita tidak mendengar secara langsung namun menggambarkan secara manis sensasi dari disonan yang ditulis oleh para komponis.

Memang harus dimengerti bahwa keindahandan sensasi musik tidak bisa seratus persen digambarkan lewat kata-kata. Tapi tetap salut dengan keberanian dan kualitas penulisannya! Jujur, saya tidak bisa berhenti membaca walau terpaksa memicingkan mata melihat laman mobile yang sedemikian mini di layar smartphone. Pun dengan cerdas di lama web, NYTimes juga menyuguhkan potongan klip yang berisi Tommasini di depan piano menjelaskan apa yang ia maksud dalam artikelnya lewat permainan piano.

Mari berdoa agar kita punya media dan tentunya penulis dengan kecerdikan dan wawasan seperti ini di Indonesia masa kini.

Sedikit intip bagaimana saya membaca artikel ini:

20140602-093840-34720960.jpg

Berikut adalah link artikel NYTimes yang sama yang sedikit lebih manusiawi…

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: