Kabar Terkini

Setelah Belajar Musik


Anda ikut kursus musik? Atau bahkan Anda sekolah musik? Seberapa jauh Anda dididik? Jadi apakah Anda setelah melalui pendidikan musik itu? Mungkin inilah yang jadi pertanyaan banyak orang, terutama ketika mendapati bahwa Anda belajar musik.

Ya, memang harus diakui bahwa banyak pendidikan musik tersentralisasi pada segi keterampilan bermain instrumen. Mungkin apabila Anda beruntung, Anda bersentuhan dengan beberapa sisi akademis dari seni musik itu sendiri. Beberapa bahkan belajar lebih lanjut mengenai pengajaran, dan manajemen seni pertunjukan Ya, namun sayangnya banyak pendidikan seni dikatakan lebih banyak menciptakan seorang buruh seni musik dan musisi sekedarnya daripada cendekiawan yang dibesarkan oleh pendidikan seni.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk menjelekkan peran seorang pemusik, sama sekali tidak karena musisi tentunya adalah pekerjaan yang mulia dan menjadi tulang punggung pertunjukan seni. Namun seringkali spesialisasi yang mendalam dari seorang musisi akan penguasaan instrumennya membuatnya memiliki sedikit waktu untuk secara bebas belajar hal-hal lain di luar dunia teknis musik dan bahkan instrumennya. Tidaklah mengherankan apabila kita menemukan seorang pelajar yang bercita-cita sebagai musisi mengurung diri belajar musik secara serius, untuk mampu mengukir setiap nada menjadi bermakna mendalam.

Adakah yang salah? Tentu saja tidak. Tidak ada cari lain untuk mengasah kemampuan selain belajar tiada henti. Yang menjadi masalah adalah di dunia yang semakin mengandalkan karakter ekstrovert seseorang, seringkali musisi menjadi tertinggal di dunia yang semakin meluas karena pendidikan yang mereka lalui tidak menempatkan soft skill musisi dalam porsi yang dibutuhkan oleh lapangan kerja saat ini. Saat ini musisi tidak hanya dituntut sebagai seorang pribadi yang mampu bermusik, tapi juga mampu menjadi juru bicara. Ia pun seringkali harus mampu dan fasih berperan sebagai public relations atas karya-karyanya dan mungkin untuk dirinya sendiri. Brand image seorang musisi sedikit banyak melekat pada pribadinya, terlebih di dunia musik klasik Indonesia yang saat ini bergantung pada pekerjaan musisi freelance. Selain itu tidak banyak musisi yang mendapat kesempatan untuk membentuk diri menjadi seorang cendekia yang mampu menjadi wajah dari seni itu sendiri, berbicara tentang perkembangan seni dan pandangan yang mereka pilih dalam berkarya.

Di sisi lain musisi juga semakin ke sini semakin dituntut untuk memiliki kemampuan entrepreneurial yang tinggi disertai kemampuan manajerial yang tidak rendah. Apalagi di Indonesia, dengan ruang yang masih sedemikian besar untuk berkembang, musisi harus jeli membuka lahan baru dan mengelolanya secara profesional dan mengembangkannya. Ia serta merta harus menimba ilmu untuk menjadi seorang cendekiawan yang mampu secara cerdas berpikir, mendiagnosa simptom dan memecahkan masalah layaknya seorang pengusaha, dan bukan masalah yang berkaitan dengan not balok dan teknik bermain musik, tetapi masalah bisnis.

Sulitnya mengalami pendidikan yang lengkap semacam itu, seringkali menjadi ganjalan bagi seniman suara untuk bertahan hidup. Dengan sedikitnya lapangan kerja di dunia musik dan juga kurang dikembangkannya kemampuan entrepreneurial, seringkali musisi muda harus berpaling pada dunia lain di luar musik. Namun sayangnya lapangan pekerjaan di luar seni juga tidak sedemikian banyak yang mau menyerap angkatan kerja baru ini dikarenakan alasan yang sama, mereka dididik bukan untuk berkerja dalam lapangan kerja yang berbeda, seperti korporasi yang umumnya kita kenal.

Kenyataan bahwa Sarjana Seni Musik dan musisi muda yang mumpuni tidak mendapat pekerjaan di musik seringkali cukup menarik simpati banyak orang, terlebih apabila sang musisi muda ini berkomitmen tinggi dan hanya mau bekerja di satu bidang spesifik yang ia inginkan. Tapi pertanyaannya sekarang adalah apakah ini adalah masalah panggilan jiwa, ataukah memang dunia seni kita sudah jenuh sehingga tidak memiliki ruang bagi seniman ini untuk berkarya, ataukah memang ia tidak memiliki keterampilan lain yang dianggap berharga untuk berkerja di berbagai bidang baik musik ataupun tidak. Memang tidak ada yang tahu penyebab utamanya.

Namun pendidikan tinggi musik, ataupun tempat-tempat kursus ada baiknya jika tidak lagi hanya mementingkan kemampuan teknis bermusik, namun juga pengembangan keterampilan hidup sang calon seniman ini. Selain itu juga pembentukan seseorang musisi muda sebagai seorang cendekiawan juga menjadi hal yang sangat krusial, apalagi kalau seorang cendekiawan yang berkarakter dan peduli pada masyarakat. Seringkali teramat berat, meskipun demikian, ini adalah implikasi sebuah pendidikan bermutu, ya bahkan pendidikan musik sekalipun.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: