Kabar Terkini

Kreativitas yang Bernilai Ekonomi


Beberapa minggu lalu dalam debat calon presiden tersebutlah mengenai Ekonomi Kreatif yang sedianya disepakati kedua calon presiden akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi nasional yang harus dikembangkan. Jujur saja, pertanyaan apakah ekonomi kreatif itu sedianya memang menjadi bagian dalam perkembangan bangsa ini sebenarnya memang sudah muncul sejak pemerintahan yang berjalan saat ini. Namun sering kali kita bertanya, apakah ekonomi kreatif itu bersinggungan dengan seni termasuk di dalamnya seni?

John Howkins dalam bukunya “The Creative Economy: How People Make Money from Ideas” (2001) mendefinisikan Ekonomi Kreatif sebagai “penciptaan nilai sebagai hasil dari sebuah ide“. Di sini dalam ekonomi kreatif, terlihat bahwa ide adalah sungguh dianggap sebagai sebuah buah karya intelektual yang memiliki nilai ekonomi di masyarakat. Indonesia sendiri dalam Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional 2009-2015 (2008) Ekonomi Kreatif didefinisikan Ekonomi Kreatif sebagai “Era baru ekonomi setelah ekonomi pertanian, ekonomi industri, dan ekonomi informasi, yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.”

Saat ini, kita melihat bahwa buah pikiran, ide dan pengetahuan yang dihasilkan oleh sumber daya manusia dianggap sebagai motor utama dalam kegiatan ekonomi, bahkan menjadi industri. “Industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut”, inilah juga yang dianggap sebagai Industri Kreatif dalam Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional 2009-2015.

Tentunya kita semua mengetahui bahwa karya musik adalah hasil dari daya kreasi dan daya cipta individu yang dianggap sebagai produk kreatif. Namun seringkali, seni mendapat tempat yang sedemikian sakral di hati para penggeraknya yang seringkali tidak dapat diganggu gugat. Banyak pihak yang seringkali tersinggung dengan melihat musik seni sebagai salah satu bidang yang patut dikembangkan dalam ekonomi dan industri kreatif. Alergi dengan kata “ekonomi” dan “industri”, mungkin itulah penyakit yang menjalar di banyak tempat saat ini, terutama di kalangan seniman.

Yang menarik adalah seni seringkali dianggap berseberangan dengan kegiatan ekonomi oleh para seniman dan industri dianggap sebagai biang keladi utama yang merusak idealisme para seniman. Padahal sama sekali tidak demikian. Pun citra “Seniman harus melarat” itu seakan mendarah daging di dalam perspektif kita, seakan bahwa seniman yang melarat dan ditinggal pengikutnya adalah citra seniman idealis sejati yang melawan arus zaman, sebuah pemikiran romantis yang bergelora.

Di masa kini dengan keterbukaan informasi, kemungkinan untuk berkreasi dan menemukan pangsa pasar yang lebih luas lewat teknologi informasi, apakah mungkin “seniman melarat” adalah sebuah hasil dari keenganan pribadi tersebut untuk mampu mengoptimalkan nilai ekonomi karya seni mereka? Bisa jadi mereka berhenti berkreasi sehingga terinjak-injak arus inovasi yang semakin kuat di masyarakat. Memang bisa saja kemelaratan itu dihasilkan oleh kurangnya akses, dan hal inilah yang harus difasilitasi oleh banyak pihak. Namun seniman manapun pada dasarnya tidak boleh berhenti berinovasi dalam berbagai aktivitas mereka. Ini adalah keniscayaan.

Selama para seniman bisa makan dan mendapat uang dari seni, dapat dikata bahwa mereka sebenarnya telah menggunakan nilai ekonomi seni dan kreativitas mereka sebagai nilai tukar untuk menyambung hidup. Dan dari seniman melarat atau seniman kaya, sebenarnya mereka telah menjual karyanya sebagai sebuah produk yang dinikmati oleh berbagai kalangan, masalahnya adalah apakah karya tersebut laku atau tidak di pasar. Karenanya tidaklah pantas apabila seniman kemudian alergi terhadap kata “ekonomi” karena inilah yang sebenarnya mampu mencari nafkah di masyarakat lewat karyanya.

Dan bagaimana seniman tersebut berinovasi pada karyanya adalah kata kunci bagi seniman penggerak ekonomi kreatif ini. Seringkali kita melihat bagaimana seakan seorang seniman menjual idealismenya dan membuat karya dengan nilai seni yang lebih rendah lalu kemudian menyalahkan bahwa pasar/masyarakat kurang reseptif terhadap karyanya yang memiliki nilai seni yang tinggi. Memang kita tidak mampu menyatakan bahwa nilai seni itu selalu sejalan dengan nilai ekonomi. Meskipun demikian di masa kini dengan akses yang luar biasa, menyalahkan pasar sebagai kurang reseptif terhadap karya seni adalah logika yang terbalik. Apakah mungkin sebenarnya adalah sang seniman sendiri yang terlalu larut dalam “idealisme”nya dan lupa untuk berkreasi lebih jauh agar karya tersebut menjadi karya yang punya nilai seni sekaligus nilai ekonomi?

Dengan semakin terhubungnya manusia di planet ini, pasar itu ada untuk segala macam hal. Pertanyaannya adalah apakah seniman selain menciptakan karya seni, juga semakin pintar dalam mencari celah jalur menuju para penikmatnya? Mungkin ini yang harus semakin dipikirkan. “Economic Value” dari berbagai hal menjadi kunci apakah kekayaan intelektual itu bernilai di masyarakat atau tidak. Memang harus dikatakan bahwa di masa kini, azaz manfaat itu semakin kuat – semakin bermanfaat sesuatu, semakin memiliki nilai ekonomis ia. Pertanyaannya adalah apakah seni yang Anda ciptakan hanya untuk duduk teronggok dan terlupakan, atau memang diciptakan selain untuk ekspresi diri si seniman juga untuk dinikmati dan dimanfaatkan para penikmatnya? Industri hanyalah berfungsi menjadi sebuah sistem terintegrasi yang mendukung proses penciptaan nilai tersebut. Tentunya bukan sesuatu yang salah, apalagi apabila karya intelektual termasuk seni tersebut mampu menghidupi para pekerjanya – ini yang disebut sebagai Industri. Apakah itu industri kecil-kecilan ataukah industri besar, tergantung dari para intelektual seni tersebut dan tentu karya seni yang dihasilkan. Industri opera di Eropa adalah industri milyaran Euro, demikian juga seni musik di Amerika Serikat. New York Philharmonic sebagai orkes tertua di Amerika Serikat hidup dengan pengeluaran 71juta dollar dan pemasukan 60juta dollar di tahun fiskal 2012. Jelas, musik seni adalah sebuah industri tersendiri yang mampu menghidupi pertunjukan, rekaman, property, pariwisata, edukasi dan banyak sub-bidang lainnya. Tentu saja ia adalah sebuah jalur industri tersendiri, sebuah kenyataan yang memang harus diterima. Dan untuk bertahan, kompetisi adalah suatu hal yang wajar.

Nah, yang memang sulit selanjutnya adalah membedakan antara “menjual karya seni” dengan “melacurkan karya seni”, diskusi yang seringkali tidak akan habis dalam Berdagang, sekedar untuk uang ataukah memang untuk sebuah kecintaan atas karya seni tersebut. Kreativitas memang sepantasnya mendulang nilai ekonomi, soal Anda etis dalam mendulang nilai ekonomi tersebut, itu adalah pilihan sekaligus sikap diri Anda sebagai seorang pribadi.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: