Kabar Terkini

Pemilu Besok, AFTA Tahun Depan, Ekonomi Kreatif Kapan?


Ketika nomor 1 dan 2, kata “kiri” dan “kanan” menjadi bermuatan politik yang teramat sangat pekat beberapa minggu ini, mari kita melihat bagaimanakah kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden melihat ekonomi kreatif sebagai bagian dari kekuatan ekonomi bangsa.

Di tahun 2009, saya pernah menuliskan bahwa calon presiden pada waktu itu tidak memiliki pandangan yang jelas akan bagaimana ekonomi kreatif dan seni menjadi bagian dari penggerak ekonomi dalam visi misi dan sama sekali tidak terungkap dalam debat capres lima tahun yang lalu. Lihat tulisan saya tahun 2009 di sini. Walaupun demikian pemerintah SBY dalam kabinetnya secara strategis menempatkan ekonomi kreatif dalam pembinaan bersama dengan pariwisata dalam Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Cukup menggembirakan walaupun tentunya butuh perhatian dan perbaikan di sana-sini. Belum lagi definisi ekonomi kreatif yang sering kali mengutamakan nilai ekonomi dibandingkan kekayaan kebudayaannya itu sendiri, yang kemudian sering menjadi bahan perdebatan beberapa pihak.

Sebenarnya cukup melegakan bagaimana dalam debat presiden yang kedua, calon presiden Joko Widodo mengangkat ekonomi kreatif dalam pertanyaannya kepada calon presiden Prabowo Subianto. Sedikit sempat terpeleset dalam mengerti definisi ekonomi kreatif, Jokowi yang kemudian menyampaikan pentingnya ekonomi kreatif dalam pembangunan bangsa lantas mendapat persetujuan Prabowo akan pentingnya pengembangan ekonomi kreatif ini, ditimpali dengan penjelasannya bagaimana anak Prabowo juga berkiprah di bidang ini.

Agaknya pengembangan ekonomi kreatif ini menjadi penting. Seperti dalam tulisan saya sebelumnya yang lebih berkonsentrasi dalam dampak ekonomi kreatif terhadap pribadi (link), ekonomi kreatif mau tidak mau menjadi salah satu komponen ekonomi ke-Indonesia-an yang utama. Kekayaan intelektual harus mendapat fasilitasnya untuk terus dikembangkan dan menghidupi para penciptanya. Pun kedua calon tampak tak henti-henti menegaskan pentingnya ekonomi sebagai bagian dari ketahanan nasional. Memang duit ternyata berpengaruh terhadap bagaimana dunia memandang Anda, termasuk memandang bangsa.

Enam tahun yang lalu pun saya menyinggung akan hadirnya AFTA dalam dunia perdagangan Indonesia yang tentunya akan semakin mengubah bagaimana Indonesia berelasi dengan negara lain, termasuk di dunia seni musik (see Indonesian Musicians beyond Free Trade Era). Sudah berkoar-koar lama dan hampir penuh satu periode kepemimpinan. Sekarang di tahun 2014, kesepahaman dan implementasinya semakin dekat.

Sudah saatnya kita bertanya pada tenaga ahli seni musik di Indonesia, seberapa siapkah mereka menghadapi terjangan tenaga kerja ahli dari negara-negara sekitar kita. Apakah kita sudah membangun ketahanan ekonomi yang solid untuk ikut serta dalam AFTA di tahun 2015 ini? Apakah kita sudah membangun ketahanan mental dan keterampilan yang cukup untuk berkompetisi dalam dunia ekonomi kreatif?

Sejujurnya, apabila ditilik dari sisi kekayaan, jujur saja Indonesia dengan wilayah yang terbesar di seluruh Asia Tenggara dengan ‘Bonus Demografi’ meminjam istilah dalam debat cawapres Hatta Rajasa dan Jusuf Kalla, harusnya memiliki keunggulan yang besar. Pun keragaman kita secara budaya bisa menjadi pemicu sekaligus memiliki potensi yang luar biasa apabila mampu dikembangkan secara kreatif.

Walaupun sayangnya memang ujung-ujungnya indikator keberhasilan dinilai dalam dollar namun ketahanan budaya dan juga ekonomi yang bersumber pada kekayaan intelektual bangsa harusnya bisa menjadi salah satu penyokong ekonomi bangsa. Seni sebagai bentuk kreativitas yang bernilai murni harus menunjukkan kelasnya pula di dalam persaingan dengan banyak negara tetangga.Yang pasti adalah 2015 sudah di depan mata dan siap atau tidak siap, kita akan menghadapi terpaan itu. Yang penting sekarang adalah kita menantikan kerja pemerintah yang baru, siapapun yang terpilih untuk benar-benar konsisten terhadap janjinya untuk juga mengembangkan dunia kreatif dan industrinya sebagai salah satu faktor ekonomi bangsa. Bila pemerintahan SBY berhasil atau tidak dalam membangun ketahanan ekonomi kreatif bangsa dan mengayomi perkembangan musik, bukan saatnya lagi untuk menghakimi telah berhasil atau tidak, karena jujur saja apabila kita telalu sibuk menghakimi yang ada kita akan semakin tertinggal dan tidak fokus untuk perbaikan bangsa.

Presiden dan Wakil Presiden yang baru yang akan terpilih, sudah siapkah Anda dan pemerintahan Anda menyelamatkan ekonomi kreatif dan membangunnya untuk kesejahteraan bersama? Tentunya sebelum kita semua tergilas oleh arus hebat dari negara-negara tetangga kita yang walaupun memiliki potensi yang lebih kecil, seringkali lebih mampu mengelolanya secara lebih terarah dan berdampak? Entah Selamatkan Indonesia atau Indonesia Hebat, tetap saja ekonomi kreatif harus selamat dan juga harus jadi hebat, karena di sini salah satu kekuatan bangsa.

Besok memilih, lalu ditentukan pemenang. Dan Bapak-bapak pemenang pemilu, kami pekerja di industri kreatif menunggu kerja nyata Anda yang sudah dijanjikan!

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: