Kabar Terkini

3 Direktur Berbagi: Memulai Karir Musik


Bagaimana memulai karir musik saya?

3 Direktur BerbagiYa, inilah yang seringkali menjadi pertanyaan banyak musisi muda ketika mereka menyelesaikan pendidikan mereka, baik di dalam atau di luar negeri. Tentu saja ada berbagai cara untuk memulai karir musik seseorang, namun untuk lebih jelasnya saya bertanya pada 3 orang direktur yang telah malang-melintang di bidang seni musik klasik saat ini tentang bagaimana memulai sebuah karir musik dan tentunya bagaimana pengalaman mereka ketika memulai karir mereka. Avip Priatna, konduktor, direktur Sekolah Musik Resonanz sekaligus direktur musik Jakarta Chamber Orchestra, Aisha Pletscher, pianis, anggota komite musik Dewan Kesenian Jakarta dan juga direktur akademis Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik, serta Hery Sunarta biolinis, penggerak musik kamar juga direktur The ASC Music Academy, bergabung untuk berbagi pengalaman mereka selama kurang lebih 20 tahun menggeluti karir di dunia musik klasik Indonesia.

Memulai karir musik nyatanya adalah sebuah langkah yang harus diambil sejak dini, bahkan sejak menjalani pendidikan musik. Itulah yang saya tangkap dari obrolan ketiga narasumber, bahkan pada saat belajar dengan seorang guru. Di mata Hery Sunarta, guru memegang peranan penting untuk menjadi katalis dalam proses belajar seorang musisi muda. Mencari guru yang mendukung yang dengan rela hati berbagi ilmu dengan murid adalah tentunya aset utama dari seorang musisi muda untuk berkembang. “Beruntung saya punya Guru yang mau beri informasi yg kita perlukan, sebab tidak semua Guru mau berbagi informasi pada waktu itu,” demikian jawab Hery Sunarta yang sejak 20 tahun lalu sering dipercaya sebagai concertmaster di banyak orkestra yang ia geluti secara profesional.

Avip Priatna pun mengatakan bahwa motivasinya datang dari guru-guru yang ia miliki Pak Oerip Santoso, Bu Catherina Leimena, Bu Trisutji Kamal, menyatakan bagaimana peran guru-gurunya memberi dorongan dalam bermusik. Di sisi lain, Aisha Pletscher melihat bahwa meniti karir harus dilakukan sebelum menjadi “profesional”. Beruntung bagi dirinya yang memiliki orang tua yang juga berkecimpung di dunia seni musik yang membawanya pada pergaulan yang luas dan bukan hanya di musik saja, namun juga lingkungan seni secara umum sejak dini.

Bagi Aisha dan Avip, kontinuitas dalam berkarya di dalam negeri walaupun sembari belajar di luar negeri adalah sesuatu yang cukup krusial bagi Avip yang belajar di Wina dan Aisha yang belajar di New York. Memang harus dikatakan bahwa membangun reputasi di Indonesia yang memang memiliki sindroma ‘cepat lupa’ adalah sesuatu yang harus dibina terus menerus. Beruntung bagi keduanya yang mendapat kesempatan untuk ‘pulang kampung’ dan tampil dalam berbagai resital dan konser, Avip dalam kapasitasnya ketika itu sebagai konduktor paduan suara Universitas Parahyangan dan Aisha sebagai seorang pianis solo dan pemain musik kamar.

Keduanya tampak menyadari bahwa karir harus dibangun bersamaan dengan proses belajar mereka dan tidak boleh berhenti membangun reputasi. Tidak sedikit dari banyak musisi yang belajar di luar negeri kehilangan jejaknya di tanah air karena tidak pernah menyelenggarakan apapun di tanah air, dan dengan gejala ‘cepat lupa’ orang kita, ya lupa pulalah mereka. Sehingga apabila memang memungkinkan, sempatkanlah untuk pulang dan tampil di Indonesia, terlebih bagi musisi muda yang belajar di luar negeri dan memiliki rencana untuk membina karir di tanah air. Walaupun memang musisi yang belajar di luar negeri unggul dalam merasakan nuansa dan hidup dalam lingkup budaya musik barat, namun seringkali malahan terlepas dari akar budaya Indonesia yang ia miliki. Inilah yang saya tangkap dalam jawaban-jawaban Aisha yang tentunya harus dihindari oleh musisi-musisi muda kita.

Hery sendiri sedikit berbeda. Sebagai seorang musisi yang dididik di tanah air di Jogja, ia rela meluangkan waktunya untuk belajar dalam ASEAN Youth Music untuk terus belajar. Dalam konteksnya di tanah air, memang musisi yang belajar di tanah air sedikit banyak mampu membangun jaringannya sendiri di tanah air dengan lebih kuat, namun ia sendiri juga memperluas jangkauannya di luar negeri lewat kegiatan ini sembari terus belajar dan menyisihkan waktu sendiri untuk menggali ilmu yang dimiliki.

Hery Sunarta juga mengungkapkan bahwa memilih untuk bergabung dengan komunitas yang tepat adalah salah satu kunci dalam mengembangkan ilmu dan karir. “Komunitas musik yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan kredibilitasnya untuk pemain” seperti yang dikatakan Pak Hery, demikian murid-muridnya memanggilnya, menjadi sangat penting. Kita pun melihat bahwa kini banyak komunitas musik bertebaran di mana-mana, perlu kecakapan tersendiri bagi musisi muda untuk memilah komunitas berkredibilitas yang akan memberi manfaat dalam proses belajar dan mungkin mulai menapaki karir.

Ingin tahu lebih jauh? Next, 3 Direktur berbagi soal Belajar.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: