Kabar Terkini

Nonton Opera di Sydney Australia


~Tulisan ini adalah sebuah sharing pengalaman dari seorang pembaca sekaligus dosen kawakan IKJ, Bowie Djati, akan pengalamannya menonton sesi pertama dress rehearsal opera kuno karya Antonio Salieri di Australia. Sesuai janji untuk mendorong semakin berkembangnya apresiasi seni, blog ini pun menerbitkan tulisan kontribusi yang dikirimkan pada saya lewat email ini. Berikut tulisan “Nonton Opera di Sydney Australia” diterbitkan sebagaimana ditulis oleh Sdr. Bowie:

ffb67acc96deaae57473fbc8e62e453dMenyaksikan sebuah karya opera yang panjang dan melibatkan unsur lainnya seperti tari, vocal bahkan dialog, merupakan sesuatu yang belum pernah saya alami. Sebagai musisi orkestra, barangkali karya Carmina Burana saja yang pernah saya bawakan bersama Orkes Kamar Erasmus di tahun 1994, lalu pada Gala Konser Jerin 17 tahun kemudian. Namun karya yang dimainkan hanyalah music dan vocal saja, tidak ada akting pemeranan tokoh serta dialog dsb. Terus terang saya sangat awam akan karya opera, sehingga definisi sederhana bagi saya, opera adalah sebuah karya musikal melibatkan tidak hanya pemain orkestra, namun juga para aktor yang memainkan perannya dengan dialog dan nyanyian.

Yang saya saksikan pada hari Jumat 4 Juli 2014 di Recital Hall Angel Place adalah sebuah karya cipta Antonio Salieri berjudul Chimney Sweep yang disadur dari judul asli Der Rauchfangkehrer. Sebuah cerita komedi tentang seseorang yang mencoba untuk menggoda dua wanita kaya, demi masa depan dirinya bersama kekasihnya yang bekerja disitu.

Karya yang dibawakan apik oleh Pinchgut Opera Australia ini adalah pertama kalinya dibawakan di Australia bahkan pertama kali selama 250 tahun. Orkes ini memakai instrumen yang sesuai dengan periode pada masa itu. Conductor Erin Helyard bahkan mengaba sekaligus memainkan pianoforte, yang ketika saya lihat dari dekat sepintas mirip harpsichord. Adapun yang saya saksikan pada hari itu bukanlah pergelaran yang sesungguhnya melainkan dress-rehearsal, atau preview, yang mengundang kerabat dekat dan media, juga untuk kepentingan rekaman dan dokumentasi resmi. Saya sendiri mendapatkan kesempatan ini dari teman saya, seorang pemain timpani, yang juga menggunakan satu set ‘baroque timpani’ lengkap dengan ‘calf-skin’ demi akurasi warna suara yang dibutuhkan.

Saya perhatikan cara orkestra ini melakukan ‘orchestra-tuning’, tidak seperti pada umumnya yang dimulai dengan oboe lalu diikuti seluruh pemain mulai dari woodwind, brass lalu strings.  Disini, principal cello berdiri lalu melakukan tune dari dawai C sampai dengan A yang diikuti oleh kelompok low string lainnya sampai concert master melakukan hal yang sama utk barisan violins. Di program tidak terdapat susunan nama pemain, tapi saya bisa lihat ada 6 violin 1, 4 violin 2, 3 cello dan 1 double bass. Kemudian pada seksi tiup, masing-masing 2 untuk baroque flute, oboe, bassoon, horn, trumpet dan 1 set baroque timpani. Instrumen period ini menjadi tuntutan penting dalam menampilkan karya dari abad 17.

Salieri, nampak betul memiliki kesamaan Mozart. Mendengarkan overturenya, menurut saya mirip. Namun setelah membaca di website Pinchgut, justru Mozart yang meniru Salieri. Dan pementasan Chimney Sweep ini seakan untuk membersihkan namanya sekaligus menghormati musiknya. Saya belum mempelajari lebih jauh, namun dari cerita Brian sang timpanist, Erin Helyard si conductor ini melakukan riset mendalam yang menyatukan seluruh transkrip tulisan tangan, mengedit dan kemudian dilanjutkan dengan terjemahan ke dalam bahasa Inggris. Ini menjadikan sebuah tontonan opera berdurasi 2,5 jam yang padat dengan dialog saling melekat satu sama lain. Sing-spiel atau karya vokal sekaligus dialog dibawakan sangat apik oleh para pemerannya. Tenoris Stuart Haycock, pemeran Vipoli dan Alexandra Oomens seorang soprano sebagai Lisel tampil di awal babak dan memerankan karakternya dengan sangat bagus sekali, juga suaranya.

Di kata sambutan, direktur program Mark Gaal menyebutkan bahwa sesi dress-rehearsal ini adalah pertama kali latihan runthrough musik dengan para vocalist, yang sebetulnya bukan saja vocalist tapi mereka juga adalah aktor yang ulung. Dua setengah jam berlalu tanpa ada kekosongan disana sini, semua saling mengisi dan interlocking dengan perannya bersama iringan musik. Memasuki interval saya coba mencari informasi bagaimana karya ini dipersiapkan. Ternyata latihan juga revisi disana sini pastilah terjadi. Dan apa yang saya saksikan itu bukan cuma premiere, tapi pra-premiere karena setelah pementasan berakhir, conductor meminta para penonton untuk meninggalkan auditorium karena mereka akan berlatih lagi. Pertunjukan Chimney Sweep ini digelar mulai hari Sabtu-Senin 5-7 Juli.

Nampaknya sajian kemarin itu sengaja dibuat khusus bernuansa kontemporer dengan sisipan humor khas Australia, agar tidak membosankan. Press release yang saya baca menyebutkan karya ini sebagai sexy lucu segar dan menghibur. Ya ini memang menghibur saya… pengalaman pertama menyaksikan karya opera yang lama dan panjang namun segar dan tidak membosankan.🙂

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: