Kabar Terkini

Ngabuburit Bersama 3B


JSO Jahja LingNgabuburit dengan nonton orkestra sepertinya bukan kegiatan yang biasa, apalagi konser sore hari itu menampilkan nama-nama komponis besar Austro-Jerman yang sering dipanggil 3B, J.S. Bach, L.v. Beethoven dan Johannes Brahms. Pun karyanya pun tidak tanggung-tanggung, 2 buah konserto piano dan satu requiem tersaji untuk dinikmati bersama di hari Sabtu ini di Aula Simfonia Jakarta.

Tampil bersama International Artistic Consultantnya, konduktor Jahja Ling, Jakarta Simfonia Orchestra membuka keseluruhan konser dengan format kecil dengan memainkan karya Keyboard Concerto F minor, BWV1056 dari Johann Sebastian Bach. Sebagai solois, tampil pianis cilik belia Priscilla Ling. Di usianya yang masih 11 tahun, Priscilla Ling melakukan debutnya dengan gemilang bersama orkestra yang dipimpin sang ayah. Sentuhannya yang cemerlang mampu berpadu dengan permainan orkes gesek yang simpatik. Ia pun tampil dengan permainan yang tulus dan terbina dari awal hingga akhirnya.

Format orkestra pun membesar untuk mengakomodasi karya konserto berikutnya yang menjadi fokus babak pertama ini, karya Beethoven Piano Concerto no.2 dalam Bes Mayor, Op.19. Kali ini Jakarta Simfonia Orchestra berkolaborasi dengan solois Jessie Chang. Orkes yang kali ini dipimpin oleh concertmaster tamu Lev Polyakin bermain dengan ringan di bawah arahan Jahja Ling yang kini menjabat direktur musik San Diego Symphony Orchestra. Seakan mengiringi permainan Jessie yang terdengar manis dan feminim, orkes pun tampil dengan lembut dan akomodatif. Permainan yang tercipta juga jernih seakan menyatu dengan kalimat piano yang juga jernih dan ringan, seakan mencoba menonjolkan sisi Beethoven muda yang masih lekat dengan gaya tutur sang guru, Joseph Haydn. Walaupun berjudul Konserto no.2, namun dapat dipastikan karya ini ditulis lebih dahulu dari konserto no.1, tidak heran sempat terpatri bahwa, Jahja Ling dan JSO sama sekali tidak mau meregang batas ekpresivitas lebih lagi. Karya pun dimainkan dengan padu terstruktur secara sederhana dan santun ala si jenius Mozart, tanpa karakter Beethoven di usia lanjut yang tegas membara.

Di babak kedua, ditampilkan karya monumental Johannes Brahms “Ein Deutsches Requiem” yang sering dianggap sebagai karya signatur dari komponis yang berkarir di Wina ini. Diangkat dari teks-teks kitab suci favorit Brahms, karya ini ditulis diluar pakem requiem pada umumnya dan menampilkan penguasaan Brahms pada idiom musik instrumental maupun vokal dengan arsitektur sebuah siklus yang luar biasa besar. Di sini komponis ini juga menampilkan betapa ia memahami struktur dan teknik komposisi yang dipakai pendahulunya, seperti Bach dan Beethoven dalam bentuk komposisi fuganya yang rumit namun menarik hati. Ia pun juga menonjolkan kemampuannya melukiskan alur melodi panjang yang indah.

Untuk menampilkan karya ini, Jakarta Simfonia Orchestra tampil bersama Jakarta Oratorio Society dan dua solois, soprano Seo Whal-Ran dan bariton Song Kee-Chang. Kedua solois tampil dengan optimal pada karya ini, Song Kee-Chang mampu menciptakan drama lewat vokalnya yang bertenaga dan ekspresif. Daya tuturnya yang luar biasa memberikan emosi pada setiap kata yang dinyanyikan. Seo Whal-Ran pun tampil dengan lirih dan membuai penonton dengan lembut.

Di sisi lain, Jakarta Oratorio Society yang diarahkan Eunice Tong Holden sebagai chorus master tampil dengan kekuatan penuh. Penguasaan untuk karya yang rumit ini harus diacungi jempol, terutama karena karya ini bertaburan kromatik dan pergerakan harmoni yang kompleks sehingga tidak mudah untuk dinyanyikan, dan JOS mampu mengeksekusi karya ini dengan lancar. Namun harus dicatat bahwa paduan suara ini haruslah memberi perhatian pada teknik vokal yang lebih matang. Seksi sopran dengan proyeksi suara yang kuat tidak dibarengi dengan alto yang hangat. Secara teknik pun, tenor terdengar sangat kesulitan di nada tinggi dan bass seharusnya lebih memberi fondasi yang berkarakter di bagian bawah, seakan seluruh karya dinyanyikan oleh paduan suara remaja yang baru akil balig. Kurangnya penguasaan teknik ini berakibat pada terbatasnya daya tutur paduan suara, teks pun yang menjadi kekuatan utama karya ini seakan diucap sambil lalu saja, agak disayangkan.

Jakarta Simfonia Orchestra sendiri tampil dengan bersih dan terkontrol kali ini. Lev Polyakin memberi tuntunan yang baik bagi seluruh seksi gesek, berakibat pada warna permainan yang cemerlang. Jahja Ling sendiri memimpin dengan kontrol namun memberi keleluasaan bagi para pemain. Beratnya program hari ini bisa jadi mengkonsumsi banyak tenaga dan pikiran, pun permainan ensembel orkes terdengar lebih baik. Namun adaptasi orkes lebih lanjut pada frase dan gerak sang konduktor tamu akan membuat respons orkestra lebih alamiah dan rapih.

Akhir kata, ngabuburit ditemani orkestra Jakarta Simfonia Orchestra bersama Bach, Beethoven dan Brahms adalah sebuah pengalaman yang menarik, terlebih dengan cantik permainan Jahja Ling bersama istri Jessie dan anaknya Priscilla. 3B sore-sore? Mengapa tidak?

Iklan
About mikebm (1289 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Ngabuburit Bersama 3B

  1. Mantap.
    Gw suka gaya penulisannya. Membuai diawal dan tegas di bbrp bagian.
    Trims Michael dah banyak kasi bacaan yg berisi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: