Kabar Terkini

Gelitik Slamet Abdul Sjukur dalam Tulisan


Tidak semua ide dan pemikiran itu bisa tak lekang zaman. Banyak ide dan kecerdasan akal berhenti bermakna setelah beberapa saat, tidak lagi relevan dan berbicara bagi mereka yang menangkapnya. Beberapa bahkan tenggelam dan serasa tidak lagi memberi manfaat dan lebih baik ditinggalkan begitu saja.

Tapi tidak halnya dengan pemikiran Slamet Abdul Sjukur yang ditulis dan dimuat dalam media massa dalam kurun waktu 37 tahun ini (1976-2013). Pemikirannya dan gaya tuturnya yang lugas, humoris dan sarat makna itu seakan terus menggoda untuk dicermati. Tulisan seorang begawan, mungkin itu yang layak kita pelajari dan renungkan bersama. Dan adalah tidak berlebihan apabila kita menempatkan seorang berusia 79 tahun ini yang lebih nyaman dipanggil “Mas” oleh mereka yang mungkin layak disebut cucu, menjadi pilar dan “Bapak Musik Kontemporer Indonesia”, istilah yang hingga saat ini apabila kita sampaikan kepadanya akan dengan santainya ia garap dan putar sebagai sebuah umpan pikiran bagi mereka yang masih peduli dan mau untuk berpikir dan merenung apa itu “Bapak” apa itu “Kontemporer” dan siapakah itu “Indonesia”. Itulah yang bisa kita baca dalam buku berjudul “Sluman Slumun Slamet: Esai-esai Slamet Abdul Sjukur (1976-2013)” yang diterbitkan oleh Art Music Today.

Ide-idenya dalam tulisan juga selalu serasa jahil, mengajak berpikir dan merenung. Terkadang melompat dari satu topik ke topik lainnya, namun seakan memaksa nalar untuk mencari asosiasi dan meresapi fenomena lebih mendalam lagi, suatu ciri yang menjadi andalan komponis jebolan Paris Conservatoire dan tinggal di negara Menara Eiffel itu selama 14 tahun lebih dalam menggarap karya-karya ciptaan musiknya. Musik baginya adalah sebuah ekspresi dan kedekatan dengan alam dan manusia tentu seakan menjadi buah meditasi dan pemikiran yang memaksa kita berpikir bukan dalam nada, namun dalam hening dan suara (suara apapun). Kejahilannya yang seakan terasa lucu, pedas namun mengandung kebenaran itu seakan melekat pada tulisannya, sebagaimana pada sosoknya.

Komponis yang menjadi pengajar dan dosen komposisi di berbagai perguruan tinggi musik Indonesia ini dalam tulisan-tulisannya yang termaktub dalam antologi yang disusun musikolog Erie Setiawan sebagai editor ini memang banyak berangkat dari dunia yang ia akrabi, musik klasik Prancis dan musik klasik abad 20 dan musik klasik barat. Namun demikian dari sana ia berangkat untuk berpikir mengenai musik tradisi kita, fenomena seni pertunjukan, pendidikan, antariksa dan bahkan kemanusiaan itu sendiri. Dan pada akhirnya tulisannya tidak serta merta diam dan sempit memandang dunia, namun malah memandang dunia yang sedemikian luas dalam banyak kacamata dan mencoba mengintip dunia seni musik yang ia cintai dalam spektrum yang ingin ia pilih.

Tulisannya tidak menempatkan Slamat Abdul Sjukur (SAS) hanya sebatas sebagai seorang kritikus yang memandang sebuah fenomena dan katakanlah pertunjukan dan mengkritisinya, namun lebih sebagai pemikir yang melihat fenomena sebagai titik tolak refleksi yang mendalam. Caranya menulis sebagaiaman kabarnya caranya mengajar komponis, ia menyemplungkan komponis yang ingin belajar padanya untuk langsung nyemplung dan berenang sendiri, ia mengawasi. Tulisannya menggelitik namun tidak membeberkan semua dalam detail namun menuntun pembaca untuk berpikir, mengeksplorasi dan menyimpulkan sendiri. Alhasil, tidak terdengar menghakimi ataupun bertele-tele, dan selalu asyik untuk diikuti.

Kurangnya pemikir-pemikir seperti Mas SAS di dunia musik Indonesia dalam 40 tahun terakhir bisa dikatakan bukan karena kelemahan kita namun memang karena seorang pemikir seperti dia tidak banyak atau memang tidak ada duanya. Gaya berpikir dan kesinambungan ide yang ia miliki walaupun ada perubahan dalam detail namun secara garis besar tidak banyak berubah. Suaranya yang konsisten dalam mengikuti perkembangan musik seni Indonesia menunjukkan kepedulian dan ketajamannya dalam berpikir dan keteguhannya dalam berkarya selama 40 tahun ini di Indonesia, setelah ia kembali ke Indonesia tahun 1976. Itulah sebabnya Dewan Kesenian Jakarta, Dewan Kesenian Jawa Timur dan Pertemuan Musik Surabaya yang digagas oleh Slamet Abdul Sjukur sendiri 57 tahun yang lalu mengumpulkan dan turut berkontribusi untuk terbitnya naskah-naskah ini.

Anggota Akademi Jakarta ini memang sungguh layak disebut sebagai begawan yang pemikirannya. Dan buku yang disusun untuk merayakan ulang tahun sang begawan ke-79 ini mengungkap seorang yang tidak lelah berpikir dan senantiasa mengajak pembacanya untuk berpikir, melihat dan mendengar dunia dan diri sendiri. Sebuah buku yang layak untuk dibaca bagi mereka yang mencintai musik dan tentunya bagi mereka yang mencintai kehidupan. Kata-kata yang tidak mengenyangkan namun membuat kita berselera untuk ikut berpikir dan turut sumbang pikiran, tidak akan pernah basi. Sebagaimana disebut Erie Setiawan sang editor, sebuah potret seniman yang konsisten dan ikhlas dalam pengabdian.

~ Here for book link by publisher.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Selamat Jalan, Mas Slamet | A Musical Promenade
  2. Tentang Pemikiran Slamet Abdul Sjukur | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: