Kabar Terkini

3 Generasi, 4 Harpis Berkolaborasi


4 HarpisPergelaran 3 generasi pemain harpa di Senin malam ini usai sudah. Ya, demikianlah pergelaran dengan tajuk “Kaleidoskop 3 Generations of Indonesian Harpists” terlaksana di Balai Kertanegara.

Empat harpis bergiliran mengambil tempat di panggung auditorium di bilangan Kebayoran Baru ini, yang masing-masing berelasi guru dan murid antar satu dengan yang lain. Sebagai harpis termuda, Jessica Sudarta tampil didampingi dua gurunya harpis muda Indonesia Rama Widi dan Lisa Gracia. Tampil juga sebagai generasi harpis senior, Maya Hasan yang juga adalah guru dari Lisa Gracia sebelum ia menimba ilmu di Conservatorium von Amsterdam, Belanda.

Konser malam ini bisa dikatakan sebagai konser campur sari dari keempat harpis tersebut. Sebagai pembuka, harpis asal Surabaya Jessica Sudarta yang menjadi inisiator acara ini dan tahun ini menginjak usia 12 tahun tampil bersama sang adik Jesslyn Sudarta dalam duo harpa membawakan karya himne yang ternama berjudul ”How Great Thou Art” yang diarransemen oleh Lisa.

Jessica kemudian tampil solo dalam permainan ”Le Source” karya Alphonse Hasselmans yang menunjukkan keterampilan posisi jemari menirukan derai air di atas dawai harpa yang terkenal keras dan cukup menyiksa bagi pemula. Namun Jessica mampu tampil dengan anggun walaupun proyeksi permainan harpanya dapat lebih ditingkatkan agar terdengar sampai ke belakang ruangan. Namun demikian, di lagunya yang kedua Jessica memainkan karya David Watkins ”Fire Dance” kini dengan proyeksi yang cukup. Jessica pun sudah menunjukkan permainannya yang musikal dengan nafas yang teratur.

Lisa Gracia tampil dengan memainkan karya ”Fantasy” dari opera Eugene Onegin karya Tchaikovsky. Sebagai seorang pemain harpa muda sekaligus guru dari Jessica saat ini, Lisa mampu menyihir dengan tutur alur melodi yang sedemikian kuat dan kalimat musik yang terstruktur dalam harmoni yang kaya warna. Karya yang merupakan aransemen dari Ekaterina Watter-Kuhne pun terbilang sulit karena banyak mengandalkan permainan not kromatik yang membutuhkan kelincahan bermain pedal kaki harpa. Walau berhasil dilibas hingga akhir namun agak disayangkan, sepertinya Lisa kurang mengenal instrumen yang ia mainkan sehingga tampak ia agak terburu-buru dalam menyelesaikan permainan dan berdampak pada kerapihan permainan.

Rama Widi yang adalah satu-satunya harpis laki-laki Indonesia saat ini kemudian ambil bagian memainkan karya ”Legende” karya Henriette Renie. Ia yang adalah lulusan Konservatorium Wina dan juga guru Jessica sebelum sekarang menjadi dosen harpa di Thailand, tampil meyakinkan dengan eksekusi teknik yang rapi. Agaknya ia membuktikan pentingnya jam terbang sebagai solois di atas panggung. Rama Widi yang kini bermain untuk Thailand Philharmonic Orchestra memang kerap tampil sebagai solois harpa di berbagai negara dan memang terlihat dari bagaimana ia menguasai suasana panggung.

Di akhir babak pertama, giliran Maya Hasan yang bermain ”Baroque Flamenco” karya Deborah Henson Conant. Permainannya menarik, dan memang bergelut dengan irama-irama khas Amerika Latin. Dari segi teknik terbilang tidak seberapa sulit karena memang tidak banyak bermain nada-nada kromatis dan tidak banyak bermain warna. Namun aksi panggungnya menarik, pun permainan harpanya didukung proyeksi suara pada sistem pengeras suara, yang agaknya disayangkan karena mengurai permainan harpis yang mendalami musik di Oregon, AS ini.

Di babak kedua tampil kembali Jessica Sudarta bersama celis cilik Albert Nathanael yang memainkan ”The Swan” karya Camille Saint-Saens dari set Carnival of the Animals. Jessica memberi warna keanggunan pada permainan Albert Nathanael yang secara mengejutkan sudah mampu menggali kedalaman pada melodi yang akrab di telinga. Sebuah pembukaan manis untuk babak kedua yang mengutamakan permainan ensambel keempat harpis di atas panggung.

Rama Widi, Maya Hasan, Lisa Gracia, dan Jessica duduk berjajar dengan harpa bersandar di bahu masing-masing membawakan karya-karya populer. ”Air on G String” karya J.S. Bach menjadi cita rasa baroque pada pergelaran malam itu. Walaupun serasa janggal mendengarkan harpa yang bergaung-gaung dalam permainan karya yang biasanya terstruktur bersih secara harmoni, namun karya ini patut disimak karena citarasanya yang berbeda.

Selanjutnya bergantian lagu-lagu populer seperti ”Heal the World” yang dipopulerkan Michael Jackson, ”Locked out of Heaven” yang dipopulerkan Bruno Mars dimainkan dengan kolaborasi 4 harpa. Aransemennya sendiri dikerjakan oleh M. Dhany Iskandar. Bergantian keempat harpis membawa melodi, mengiringi satu dengan yang lain, suatu hal yang jarang kita lihat di Indonesia. Lisa Gracia pun urun satu aransemen ”A Whole New World” yang dipopulerkan oleh Peabo Bryson dan Regina Belle untuk OST Alladin. Secuplik-cuplik Lisa pun memasukkan potongan dari soundtrack film Disney lainnya, seperti Beauty & the Beast serta Pinochio. Konser pun ditutup dengan karya ”Cinta Sejati” yang diambil OST film Habibie-Ainun dengan cita rasa Indonesia.

Kolaborasi pun berjalan dengan cukup apik walaupun agaknya permainan satu nafas yang diharapkan dalam sebuah ensembel belum dapat terwujud, mungkin karena terbatasnya waktu latihan bersama. Agaknya sudah cukup lama sejak terakhir mendengar kolaborasi empat harpa setelah sekitar 8 tahun yang lalu dimulai oleh Maya Hasan bersama dengan murid-muridnya.

Dalam pengantar oleh pemain harpa pertama kebangsaan Indonesia Ussy Pieters, harpa memang salah satu alat musik tertua dunia yang bertahan hingga kini. Namun di Indonesia perkembangannya memang harus dikatakan masih kembang kempis. Banyak yang tertarik pada harpa karena keanggunan dan prestisenya, tapi memang harpa merupakan alat musik yang tidak murah, pun tetap membutuhkan ketekunan dalam berlatih sebagaimana alat musik lainnya. Dan bagi penulis dengan berakhirnya konser ini, harapan bahwa harpa akan semakin berkembang dan berkontribusi bagi perkembangan musik Tanah Air tentunya tumbuh semakin kuat. Semoga saja.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on 3 Generasi, 4 Harpis Berkolaborasi

  1. andreasarianto // 12 Agustus 2014 pukul 2:12 am //

    Sbnrnya gue sendiri agak bingung kenapa panggungnya dibangun dgn bahan seperti itu krn rongga di dalamnya akan lbh memungkinkan frekuensi menengah dan rendah bergaung terlalu banyak di aula itu. Permainan tata cahaya yg mgkn dimaksudkan utk menambah dramaturgi pertunjukan jg krg tertata baik, jd malah sdkt mengganggu alur suasana yang berlangsung.

    Gue setuju sekali bahwa musikalitas keempatnya sangat asik, terutama Jessica yg sangat menunjukkan potensi yg amat menjanjikan. Dinamika pemilihan repertoar juga terasa pas dan menarik. Sayang sekali gue ga bisa ikut menyaksikan paruh kedua.

    Itulah serunya dunia panggung seni pertunjukan, setiap panggung yg kita jajal bukanlah titik puncak karir kita karena kita akan terus berevolusi menjadi semakin musikal dgn tantangan2 yg makin besar utk ditaklukkan.

    Ah, kalau ada yg berhasil membuat bukan hanya pergerakan mempopulerkan instrumen ini, tp jg membuat perusahaan penyalur harpa, pasti akan makin banyak lg yg beli dan mempelajari instrumen ini. Gak seperti nasib harpa di bbrp sekolah musik kita yg akhirnya gak kerawat dan cuma jadi properti utk foto doang.

    Salut buat semua musisi malam ini dan salut buat Mike yg terus konsisten nulis resensi pertunjukan musik spt ini!

  2. Yup, Bro Andreas, sangat sepakat dengan penataan cahaya yang malah menjadi pengganggu konsentrasi dan atmosfir pertunjukan yang dibangun…. Sebentar terasa seperti seorang anak lagi asik bermain dengan saklar-saklar lampu….

    Ah kita butuh penata cahaya yang bagus,
    Kita juga butuh pemain penyalur dan dunia harpa yang lebih hidup dan tidak tersegmentasi satu dengan yang lain akibat sindroma diva yang ternyata juga seringkali kental mengendap di antara para instrumentalis…

    Terimakasih bro Andreas untuk regardsnya, mari semua bekerja memajukan musik… kebetulan saya mendapat kesempatan banyak menulis dan menikmatinya hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: