Kabar Terkini

Edith dan Kematangan Bermusik


Edith 1Seniman pengukir waktu, itulah sebutan yang layak bagi seorang seniman musik. Dan malam ini di Balai Resital Kertanegara, pianis muda Edith Widayani menunjukkan kematangannya sebagai pemusik dan pengukir ruang dan waktu.

Tenaganya di depan papan nada dan permainan musiknya yang tergarap bisa jadi menunjukkan kaliber Edith yang seringkali digadang sebagai salah satu pianis muda Indonesia yang menjanjikan. Keterampilan jemari pianis lulusan program master Eastman School of Music ini membentuk setiap nada yang terucap dalam denting piano bercampur dengan kedewasaan dalam membina setiap frasa musik.

Kemahiran pemenang berbagai kompetisi piano di Indonesia ini bukan hanya pada setiap momen suara namun juga pada kemampuannya menentukan saat yang tepat kapan suara itu harus berbunyi yang menjadikan setiap keheningan berarti, sebuah kemampuan yang seringkali kerap disebut sebagai bakat dibandingkan hasil belajar.

Pada kesempatan ini, Edith Widayani menjelaskan setiap karya yang ia mainkan. Babak pertama disusunnya sebagai babak “Tari-tarian” yang berisi karya Franz Liszt Valse-caprice d’après Schubert, no.6 yang sedari awal menunjukkan keunikan permainan sang pianis dan keberaniannya dalam membentuk kalimat dan menjelajah ruang dinamika piano.

Empat Mazurka dari dua komponis Karol Szygmanowski (1882-1937) dan Frederic Chopin (1810-1847), menjadi perbandingan bentuk komposisi dari dua komponis pianis Polandia berbeda zaman dalam menggubah irama tarian negerinya. Op.50 no.1 dan no.6 dari Szygmanowski diselang dua nomor dari Chopin op.17 no.4 dan no.1. Cerdik bagaimana sang pianis memilih 2 karya dengan tempo lambat dan cepat sembari menjahitnya menjadi satu seakan membentuk sebuah suita baru yang berpindah dari satu karya ke karya lainnya tanpa berlama-lama. Patut dicatat juga bagaimana pianis berusia 24 ini secara konsisten menjaga keutuhan ritme mazurka yang rancak walaupun di permukaan tetap menampilkan elastisitas musik yang ditampilkan.

Selain penguasaan teknik, eksplorasi Edith dalam membentuk kalimat yang beraneka warna dibuktikan ketika ia menjelajah karya Chopin lainnya yang berbasiskan Polonaise-fantasie dalam As Mayor, op.61. Walaupun sempat dalam pengantarnya bahwa polonaise ini tidak ketat dan memungkinkan sang pianis ini berekspresi, namun nyatanya Edith mampu menyembunyikan unsur ritmik yang sebenarnya kuat di dalam kepekaannya mengarahkan kalimat.

Babak kedua menjadi babak “Tema dan Variasi” yang dibuka dengan karya komponis pianis asal Rusia Sergei Rachmaninoff, Variation on the Theme of Corelli op.42. Virtuositas Edith kembali diuji dalam karya yang cukup menguras tenaga ini sembari terus menjaga warna tema dan variasi yang ditulis oleh Rachmaninoff yang seringkali memang cukup mengecoh seakan dibentuk dari tema yang sama sekali berbeda. Ditulis pada tahun 1931, warna permainan kromatiknya menjadi semakin pekat, sebagai reaksinya terhadap terobosan musik-musik di dekade sebelumnya, seakan merupakan monolog akan keyakinan jalur romantisisme yang telah dipilih sang komponis.

Rapsodia Nusantara no.8 karya Ananda Sukarlan yang diangkat dari tema “O ina ni keke” menjadi penutup konser yang berisi banyak parafrase pianistik yang menghiasi melodi sederhana yang membuai hati ini. Dalam karya ini, ketenangan bertabur dengan kelincahan dan kedalaman dalam permainan Edith yang ditutup dengan permainan yang bergelora menuntaskan konser.

Tak puas penonton disuguhi tarian dan variasi malam ini, mereka meminta lebih, dan dijawab dengan permainan manis Intermezzo op.118 no.2 karya Johannes Brahms yang menyentuh hati. Tidak cukup, Edith pun menutup seluruh persembahan malam itu dengan Concert Etude karya Franz Liszt “Un Sospiro” yang membelai dengan untaian beragam nada.

Persembahan yang utuh dari seorang Edith Widayani, bermain dengan kepekaan sekaligus keteguhan. Permainannya bisa dikatakan sangat meyakinkan, sehingga apabila kita sebagai tidak akan menyadari ataupun ambil peduli ketika ada salah not apabila Edith tidak berubah ekspresi ketika itu terjadi.

Sejujurnya, sayang sekali bahwa Balai Resital Kertanegara malam itu tidak disesaki penonton. Persembahan Edith malam itu bukan hanya indah yang membuat kita terpana menyaksikan musik yang ia mainkan di atas pentas, namun cukup kuat untuk membuat masing-masing dari penonton merenung dan meresapi kekuatan nada-nada walaupun nada-nada tersebut sudah tidak lagi berbunyi. Sebuah sajian Resital Piano The Rising Stars Concert Series yang membuat setiap penonton tersadar bahwa Edith memang telah semakin matang sebagai seorang musisi.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: