Kabar Terkini

Asertivitas Seorang Pianis


beijer20 Agustus ini, Erasmus Huis secara mengejutkan dipadati penonton yang tumpah ruah menyaksikan resital piano gratis dari seorang pianis yang didatangkan langsung oleh Pusat Kebudayaan Belanda ini. Sebagai sebuah bentuk misi kebudayaan, resital piano ini terbilang sangat sukses dalam menjaring mereka yang ingin merasakan indahnya musik.

Bintang utama malam ini, Thomas Beijer, adalah seorang pianis muda berusia 26 asal Belanda dengan prestasi yang patut dicatat. Memperkenalkan diri sebagai seperempat Indonesia asal Bandung, Beijer dengan cepat menangkap simpati penonton yang satu jam sebelumnya sudah memadati pekarangan auditorium.

Dalam pemilihan repertoar, terlihat bagaimana Beijer dekat dengan karya-karya komponis Spanyol yang secara unik mengawinkan banyak musik klasik Eropa dengan musik tradisi mereka yang khas. Suite El Amor Brujo karya Manuel de Falla yang diangkat dari karya musik kamar sekaligus balet dipadupadan dengan pilihan 2 karya “El Puerto” dan “El Albaicin” dari Iberia Suite karya Isaac Albeniz, dan “El Pelele” sebuah karya Enrique Granados yang mengawinkan cita rasa Spanyol dengan teknik-teknik pianistik Liszt dan Chopin.

Namun seakan sudah terpatri, perawakan permainan Thomas Beijer berbeda dengan gambaran musik Spanyol yang menyala-nyala yang biasa kita kenal. Piano bernyanyi dengan ramping dan transparan di tangannya dengan warna suara yang efisien dan sederhana dengan teknik yang presisi. Seakan semua nada di tangannya harus terdengar indah dan proporsional. Karakter suaranya yang cenderung elegan dan sesekali menyentak secara misterius bertabrakan dengan karya de Falla yang tegas menyala.

Presisi yang tinggi itu sungguh cocok tergambarkan dalam permainannya ketika mengiringi biolinis remaja Indonesia, Giovani Biga dalam karya komponis Arvö Pärt “Mirror in Mirror” yang tenang terbungkus dalam kelompok frase-frase ostinato yang berulang-ulang. Spiritualitas sang komponis Estonia yang adalah seorang mistik dan pengikut gereja ortodoks yang taat secara menakjubkan tergambar jelas dalam minimalisme yang lama-lama terasa seperti sebuah alunan meditasi dan doa yang secara mengesankan juga dirangkai dalam ketenangan oleh Giovani Biga.

Sebelumnya, Biga yang dikenal dengan permainannya yang temperamental berkolaborasi dengan pianis lulusan Conservatorium von Amsterdam ini dalam Sonata untuk Biolin dan Piano op.24 karya L.v. Beethoven. Permainan ini seakan berbeda warna, entah karena Biga yang terkesan muda penuh semangat, berpadu dengan permainan Beijer yang terkesan lebih asertif. Biga sebagai salah satu pemain biolin remaja terdepan saat ini, memiliki kematangan teknis yang melebihi banyak kawan sebayanya, namun moderasi dan menciptakan permainan guyup juga harus menjadi konsentrasi Biga untuk berkembang lebih jauh. Baik dari hal yang sederhana seperti aksentuasi pada musik dan kadar vibrato hingga kolaborasi nafas.

Pianis yang di usia ke-18nya pernah menjuarai Young Pianist Foundation Competition di tahun 2007 ini juga memainkan 3 Klavierstücke D.946 karya Franz Schubert di awal resital. Piawai menghela kalimat-kalimat indah, Schubert yang adalah penulis lagu ulung menantang Beijer yang asertif sedemikian terkontrol untuk bernyanyi dan melukiskan kalimat musik panjang. Menarik bagaimana pianis ini mampu melukiskan kalimat musikal indah, namun karena permainannya yang transparan, penonton seakan bisa melihat mekanisme gerigi audio musik bergerak dibawahnya – sebuah pengalaman yang sedikit berbeda.

IMG_5116Thomas Beijer sebagai pianis muda terdengar cukup telaten untuk menjelaskan setiap musik yang ia mainkan, termasuk juga permainannya yang mengesankan pada “In the Kraton” dari The Java Suite karya pianis-komponis Polandia-AS Leopold Godowsky yang di tahun 1922 berlibur ke Jawa Hindia Belanda. Impresi gamelan mengena erat di tangan Godowsky namun berbalut pentatonik oriental yang sejatinya berbeda dengan laras pelog. Salah kaprah komponis yang secara cerdas dibentuk menjadi indah oleh Beijer.

Tepuk tangan membahana menuntut Beijer dan Biga memainkan Tanah Air karya Ibu Sud dalam aransemen piano dan biola yang berbeda aroma namun tetap menggetarkan penontonnya, sebuah penutup manis di bulan Agustus ini.

Singkat cerita, Thomas Beijer menjadi sebuah kisah tersendiri yang berbeda. Terlepas dari sibuknya beberapa orang yang mengaku jurnalis seni tidak berhenti di sepanjang babak pertama mengambil gambar dengan kamera DSLR yang riuh di gedung resital yang sangat mengandalkan keheningan, Beijer telah berkisah untuk kita semua. Seorang pianis asertif di panggung malam ini bisa jadi mencuri hati Anda, bisa jadi tidak, namun setidaknya musik yang disajikan jujur bertutur apa adanya dan karenanya mengundang simpati pendengarnya.

About mikebm (1184 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: