Kabar Terkini

Apa Artinya Pertama dan Satu-satunya


“… sebagai satu-satunya *instrumentalis*…. di Indonesia” dan “…. *instrumentalis* pertama di Indonesia…” adalah sebuah kalimat yang berkesan wah yang tersampaikan dalam sebuah buku acara. Dan pun kata-kata ini kembali berdengung dalam sambutan ditambah dengan “… yang pertama memulai adanya ensembel *instrumen* di Indonesia”.

Seringkali orang berpendapat adalah keren apabila kita menjual kata “pertama” dan “satu-satunya”. Bisa kita saksikan bersama bagaimana orang Indonesia pernah sibuk terobsesi dengan museum rekor yang aktif mencatat hal-hal yang tidak tentu jelas pencapaiannya, bukan pencapaian yang unik, namun nyatanya pencapaian yang dipaksakan.

Lucunya adalah jualan kata “pertama” dan “satu-satunya” ini juga menjangkit di bidang seni pertunjukan musik, suatu bidang yang sama sekali berbeda. Berbeda dari bidang seni penciptaan yang mengandalkan “pertama”, dunia seni pertunjukan musik tidak hanya sekedar bersenjatakan dulu-duluan.

Menjadi yang “pertama” dan “satu-satunya” memang bukanlah hal yang mudah. Menjadi seorang musisi juga demikian. Banyak tembok dan penghalang yang perlu didobrak dan digarap untuk menembus ke ranah baru yang belum pernah terjamah sebelumnya.

Meskipun demikian dalam dunia seni pertunjukan agaknya tidak pantas dua kata di atas disebut-sebut selalu seakan merupakan sebuah senjata keramat. Karena sebagai penampil, ya memang kita harus selalu berinovasi dan sesekali menjadi yang pertama, tapi adalah salah arah apabila kita hanya sebagai yang “satu-satunya” ataupun yang “pertama, mengandalkan jargon itu seakan tidak ada hal lain yang patut dibanggakan.

Nyatanya dalam dunia pertunjukan, yang penting adalah bagaimana menjadi seorang yang menginspirasi sekitarnya dan mendorong lingkungan untuk maju bersama dalam langkah sang penampil. Adalah aneh apabila setelah bertahun-tahun, sang instrumentalis hanyalah tetap menjadi yang “satu-satunya”, seakan tidak ada yang termotivasi untuk mengikuti jejak langkahnya. Apabila demikian, memang kita patut bertanya apakah memang terobosan yang ia lakukan adalah sungguh terobosan ataukah hanya ambisi pribadi semata yang tidak beresonansi dengan sekitarnya.

Kini dimensi musisi lebih berkembang dari sebelumnya. Sebagaimana perkembangan teknologi yang mengarah pada kehidupan sosial, demikian juga peranan sang musisi juga semakin jauh masuk ke dimensi sosial. Tidak banyak lagi kita melihat seorang seniman hanya sebagai seorang pertapa yang menjauh dari keramaian, namun harus mampu juga masuk dan hidup bersama dengan di sekitarnya, menggerakan komponen lingkungan untuk kemajuan seni itu sendiri.

Musisi pun demikian, apabila memang permainan musik dan perilakunya memang mampu semakin sosial dan semakin menginspirasi, mungkin memang ia bisa jadi tetap memegang predikat “pertama” dalam suatu hal. Tapi tentunya tidak lama ia menjadi orang yang “satu-satunya” karena akan banyak orang yang mau belajar dan mencoba menjadi seperti orang itu. Ia tidak lagi sendiri, karena banyak orang telah berjalan bersama dibelakangnya sembari mengikuti teladannya.

Pun apabila musisi tersebut memang rajin berkarya dan produktif, slogan “pertama” sudah tidak perlu lagi menjadi andalan, karena segudang karya yang telah ia hasilkan. Mereka yang mengandalkan ke-pertama-an, mereka adalah mereka yang tidak mampu membanggakan terobosan mereka selanjutnya dan konsistensi. Atau mungkin saja mereka sebenarnya telah berhenti berinovasi dan berkembang?

Jadi sebenarnya sederhana saja, untuk apa kita terlalu membanggakan diri sebagai yang “pertama” ataupun yang “satu-satunya”? Demi sebuah kebanggaan diri yang disebar di mana-mana secara lisan dan tulisan yang akhirnya tidak berbuah apa-apa? Namun yang pasti musisi, demikian juga seniman lainnya, adalah pembuka jalan. Mereka berjalan di depan membabat rintangan supaya yang lain belajar dan mengikuti dengan aman dan menikmati perjalanan. Jargon “pertama” dan “satu-satunya” tidak lagi relevan bagi mereka yang memang menginspirasi.

Sudahkah kita?

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: