Kabar Terkini

Merentang Tradisi dan Masa Kini


JunHongLohMalam ini Erasmus Huis sedikit berbeda dari biasanya. Agaknya publik lupa bahwa pertunjukan resital biola malam hari ini secara kualitas berbanding terbalik dengan jumlah kursi kosong yang hampir tiga perempat dari seluruh bangku di pusat kebudayaan Belanda itu.

Jun Hong Loh, biolinis asal jiran Singapura ini tampil dengan mempesona. Dari atas panggung keindahan musik seakan meluap-luap namun secara istimewa berbalut kecermatan dalam teknik yang memukau. Biolinis yang menyelesaikan pendidikan sarjananya di Yong Siew Toh Conservatory ini di satu sisi memiliki ekspresi menggelora, namun secara mengesankan di sisi lain taat dengan penataan yang apik. Musikalitasnya mengalir dengan alami berkembang dalam tempaan latihan dan disiplin tinggi. Pembawaannya yang cenderung tenang seakan dapat tiba-tiba berubah menghanyutkan penonton yang tidak waspada dalam sekejap.

Tidak heran, alumnus program master Julliard School di bawah asuhan concertmaster New York Philharmonic Glenn Dicterow ini dipercaya memimpin Verbier Festival Orchestra (orkes festival bergengsi bermarkas di Swiss) sebagai concertmaster di bawah arahan konduktor-konduktor ternama dunia seperti Gergiev, Dutoit dan Noseda yang memiliki efek magnet yang serupa. Di permukaan, permainannya tampak bersahaja, namun di dalamnya mengalir arus deras musik yang mampu menggerakkan seluruh orkestra.

Felisitas Nesca Alma, dari balik tuts piano, hadir sebagai daya pacu yang mengesankan malam itu. Permainan alumnus program musik Universitas Pelita Harapan ini menjalin kolaborasi yang menawan yang fasih mendukung setiap pergerakan Loh yang memainkan biolin bersejarah Mantegazza buatan tahun 1780. Sesekali denting piano menyambar dan berbincang-bincang hangat, semuanya dimungkinkan oleh totalitas Nesca dalam menggarap permainan hingga ke seluk-beluknya. Dan karenanya persembahan malam itu menjadi persembahan utuh yang menarik hati.

Dibuka dengan permainan solo biolin dengan karya “Motion” dari Charles Yang, Loh seakan menunjukkan identitas dirinya sebagai biolinis modern dengan virtuositas tinggi. Permainannya yang jernih membuka konteks dengan jalinan nada yang erat, memainkan harmoni yang secara menakjubkan begitu bersih di telinga.

Selanjutnya bersama Nesca, Loh menjelajah karya Tchaikovsky Valse-Scherzo dalam C mayor, Op.34 dan dibalas dengan Violin Sonata No.7 dari Beethoven. Permainan keduanya hidup dan berbalas satu dengan yang lain dengan lincah. Perlahan namun pasti, Loh semakin menghadirkan sosok musisi paruh baya yang mengental. Permainannya tidak lagi hanya mengandalkan teknik namun merupakan dialog musikal yang segar namun menyusup dalam hati.

Di babak kedua, giliran Brahms dengan Violin Sonata No.2 dalam A mayor, op.100 yang sarat ekspresi yang diketengahkan. Di sinilah kematangannya bertutur keduanya mengemuka, terlebih didukung kecerdikan Brahms dalam menyusun suasana. Tergambar dengan sempurna bagaimana hati yang menggebu terbungkus dengan pandangan hidup konservatif ala Brahms, bagai singa lapar yang terkurung dalam kandang yang tergambar jelas dalam permainan Loh sebagai seorang musisi yang memiliki sisi tak terduga namun terbungkus dengan ketenangan hati yang kental.

JunHongLoh2Sebagai penutup, Zigeunerwiesen Op.20 dari Sarasate yang dimainkan malam itu. Dalam karya ini, Loh tampil lepas dengan virtuositas yang mengagumkan. Ia pun menjelma dari seorang biolinis modern yang rancak menjadi perpaduan biolinis modern dengan persona seorang biolinis pertengahan abad lalu yang bermain bebas dan berkarakter di setiap gesekan biolanya. Beberapa saat seakan melihat corak permainan Heifetz muncul dalam sosok pemuda Singapura modern ini. Bobot dan intensi melebur sempurna dengan kejernihan permainan khas biolinis modern yang membuat suguhan ini istimewa. Tepuk tangan meriah pun membahana dan memaksa kedua musisi muda menutup resital dengan nomor pendek dan cantik “Salut d’Amour” karya Edward Elgar.

Sayangnya resital biola dengan kaliber seperti ini lagi-lagi hanya disaksikan seratusan orang saja. Resital yang diselenggarakan Jakarta Conservatory of Music ini sebenarnya sangat disayangkan untuk dilewatkan. Tidak semua resital mampu membawa penonton bercermin pada tradisi permainan biolin romantik, tapi juga tidak lepas dari sentuhan baru abad-21 yang mencerahkan. Dan malam itu Jun Hong Loh dan Nesca Alma telah menyajikan secuplik gambaran musisi abad-21 yang tidak melupakan tradisi.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: