Kabar Terkini

Totalitas yang Menyelamatkan Seluruh Orkes


JSO1Hampir tidak pernah kita saksikan bagaimana seluruh barisan orkestra bersama solois bahu-membahu untuk menyelamatkan sebuah pertunjukan. Tampak jelas bagaimana dedikasi dan kecintaan pemusik Jakarta Simfonia Orchestra pada musik menyelamatkan babak kedua dari konser yang diselenggarakan di markas mereka Aula Simfonia Jakarta dalam karya terkenal untuk cello, Cello Concerto dalam B minor Op.104 karya komponis Ceko Antonin Dvořák.

Terlihat sungguh bagaimana mereka semua berkonsentrasi untuk memastikan karya utuh dari awal hingga akhir. Padahal karya ini sarat dengan ekspresivitas dan melankoli yang seringkali menuntut fleksibilitas pemainnya dalam merangkai melodi. Irama tari-tarian Balkan pun terdengar kuat di bagian 1 dan bagian 3 dari konserto ini yang menuntut pemain untuk waspada dan bergiat.

Dengan tempo yang sedikit di bawah rata-rata, setiap anggota orkes terlihat membantu satu dan yang lain untuk memastikan semua bermain bersama-sama. Concertmaster Wen Wen Bong juga berperan besar untuk merapatkan barisan seluruh ensembel. Namun bukan hanya Wen Wen, seluruh prinsipal hingga setiap personel terlihat menghitung bersama, dan bertindak sebagai dirigen satu untuk yang lain entah dengan gerakan alat musik, atau bahkan sekedar anggukan kepala. Bahkan pada bagian ketiga, ketika fagot tidak sinkron dengan solois dan concertmaster, seketika ada hentakan sepatu 2-3 kali di antara pemain untuk memastikan semua kembali runut dan pemain pun sadar untuk memastikan semua dalam kerangka tempo yang tepat.

Yang mengesankan adalah bagaimana setiap anggota orkes mampu tetap ekspresif walaupun dalam batas-batas, karena apabila mereka lebih ekspresif lagi (sebagaimana dituntut oleh Dvořák, di bagian 2 dan 3 yang lambat), bisa jadi semua hancur berantakan karena Stephen Tong selaku konduktor agaknya lalai dalam menjaga keutuhan karya dan orkes yang dipimpinnya. Harus dikatakan ensembel yang berada dibawah pimpinannya ini yang luar biasa.

Yao Zhao pun yang tampil sebagai solois cello tampil dengan mengesankan. Dengan tempo yang sedikit lambat, ia maju sebagai pemain dengan elastisitas dan kecermatan dalam merajut nada-nada panjang. Tidak ada satupun nada yang ia biarkan lewat begitu saja, walaupun ekspresi bisa lebih ditonjolkan apabila orkes tampil lebih secure. Pun ia terlihat sabar mengarahkan seluruh orkes yang terkadang terdengar tanpa induk, lewat kalimat-kalimat musiknya yang sangat akomodatif untuk memastikan musik tidak terputus. Sebuah tanggung jawab tambahan tentunya, bagi pemimpin seksi cello di San Diego Symphony Orchestra ini yang seharusnya berperan sebagai penampil utama. Harus dimaklumi bahwa Yao Zhao memang adalah pemain musik kamar kawakan yang berprestasi.

JSO2Di babak pertama, Billy Kristanto tampil sebagai pahlawan. Pertama, memainkan karya Keyboard Concerto dalam D minor, BWV1052 karya J.S. Bach dari galeri organ yang sama sekali berjauhan di atas para pemain, terlihat bagaimana Billy yang adalah ahli musik Eropa abad 17-18 adalah pelaku sebenarnya yang mempengaruhi suara keseluruhan orkes yang ia punggungi 10 meter jauhnya. Walaupun bermain sebagai solois organ, terlihat bagaimana ketelitian yang ia miliki untuk menggarap setiap alur seksi gesek yang mengiringi permainan organnya. Memang, alur basso continuo masih terdengar agak berat, namun corak-corak musik barok yang otentik dan hidup terasa sekali di seksi gesek violin dan viola yang seakan benar-benar telah ia arahkan dengan seksama selama Billy bertindak sebagai asisten konduktor selama latihan sebelum Stephen Tong maju di atas podium.

Selanjutnya, Billy Kristanto turun ke bawah untuk menjadi konduktor untuk sebuah concertante karya Sergei Rachmaninoff, Rhapsody on a theme of Paganini, Op.43. Pianis Indah L. Hertanto yang kali ini bertindak sebagai solois di depan piano. Pianis yang merintis karir di AS dan kini kembali untuk berkontribusi di Indonesia ini memiliki komando penuh terhadap permainan piano. Dengan kepastian teknik dan kelincahannya bermain di atas tuts piano, ia tampak tenang tak bergeming. Namun musik yang ia sajikan penuh dengan kehalusan dan – apabila dibutuhkan – ketegasan dan melankoli. Sungguh adalah sebuah kepuasan sendiri bagaimana melihat sang solois bisa lebih ekspresif dan mampu menjalin kerja sama dengan orkesnya.

Orkes pun tampak lebih tenang kali ini. Bermain dengan arahan Billy Kristanto, orkes mengadopsi warna yang terang benderang dengan eksekusi yang lebih rapih, riang dan ekspresif apabila dibutuhkan, apalagi diperkuat dengan permainan horn yang terlalu kuat di sisi volume. Memang sebagai pendengar ada kalanya, kita berharap ada warna gelap yang temaram sesekali muncul dari alunan nada orkestra di bagian-bagian yang berkarakter sedih dan sentuhan tajam pada setiap awal kalimat, namun agaknya hal itu sulit bisa terjadi tanpa campur tangan arahan emosi dan presisi dari konduktor. Beruntung karya ini memang banyak mengetengahkan kelincahan dan keriangan sehingga karakter gelap tidak terlalu banyak berperan.

Sabtu petang ini memang sungguh mengetengahkan tema ‘Malam Konserto’, 3 konserto yang beragam. Tentunya semua yang menyaksikan konser malam itu adalah saksi mata bagaimana seluruh perangkat orkestra sungguh bekerja sama untuk menyelamatkan karya, total untuk menyelamatkan musik indah yang mereka kasihi.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: