Kabar Terkini

Sinergi untuk Masa Depan


Pro Art String Quartet JakartaSore ini empat orang pemain gesek kawakan muncul dengan pakaian serba hitam di sebuah auditorium yang agak lengang sore itu di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan. Pro-Art String Quartet yang digawangi biolinis Hery Sunarta dan Ali Hanapiyah, dengan biolis Syafrudin Mangkunegara dan cellis Handiawan tampil membawakan musik-musik kamar untuk instrumen gesek yang jarang terdengar di panggung resital di Jakarta.

Pro-Art String Quartet sebagai satu dari sedikit kuartet gesek berbasis di Jakarta ini termasuk yang selalu berani menampilkan karya-karya kuartet gesek yang kompleks dan menuntut teknik yang tinggi, fenomena yang jarang ditemui di Jakarta. Kuartet gesek kita di Jakarta memang secara jumlah tidak banyak dan terlebih tidak tentu berani dan siap untuk mempersembahkan karya-karya kuartet yang menantang.

Keempatnya tampil dalam nuansa informal namun menampilkan karya-karya yang berkarakter seperti karya Johannes Brahms, String Quartet No.2, Op.51 dan karya Piano Quintet, Op.81 dari Antonin Dvořák. Kuartet ini selalu menampakan energi yang besar dan pergerakan musik yang hidup dalam balutan kerja sama yang lugas. Kuartet yang digawangi pemain andalan berbagai orkes di Jakarta ini mampu menggunakan eksplorasi ritme Brahms yang kompleks untuk semakin menghidupkan permainan tanpa berlama-lama terjebak di dalam kompleksitas karya yang berdurasi cukup panjang ini.

Dalam karya Antonin Dvořák, pianis Adelaide Simbolon bergabung bersama Pro-Art untuk memainkan karya yang digubah dengan cantik oleh komponis Bohemia itu. Instrumen gesek seakan berpadu dengan erat dengan piano untuk menghantar melodi indah. Ketertarikan Dvořák pada register suara yang rendah dan maskulin berkali-kali juga muncul lewat permainan melodi di register tengah yang dieksekusi cukup apik. Adelaide sendiri bermain dengan perhatian pada detail, pun juga mendukung permainan kuartet gesek di depannya dengan kokoh walaupun sedikit tambahan waktu latihan bersama untuk mematangkan permainan bersama akan sangat menolong.

Resital kecil ini sendiri dibuka dengan permainan ASC Music Academy String Orchestra yang dipimpin oleh Heri Sunarta dan kawan-kawan kuartet gesek Pro-Arte sebagai prinsipal dan didukung oleh murid-murid mereka. Sebagai sebuah orkes gesek baru dan tampil sebagai pembuka, nampaknya belum semua pemain panas dan fokus ketika mulai memainkan karya Serenade for Strings dalam E minor, Op.20 karya Edward Elgar. Namun sejalan dengan waktu, tampak bagaimana seluruh ensembel tampil dengan meyakinkan dan penguasaan yang baik pada instrumen. Frase-frase kalimat pun mengalir bersambung satu dengan yang lain. Elgar memang piawai menciptakan melodi-melodi yang menarik hati. Mungkin yang bisa dikembangkan selanjutnya adalah bagaimana dalam penguasaan instrumen dan telinga yang saling mendengarkan, setiap pemain bisa mulai untuk merasakan nafas kolektif yang sebenarnya sudah dieksekusi dengan alami oleh guru-guru mereka ini.

Dalam penampilan perdana ini, Pro-Art String Quartet telah tampil dengan cukup menawan, terlebih mengingat mereka baru bermain bersama selama 1 tahun. Pun ASC String Orchestra ini juga menunjukkan banyak potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Mungkin sudah saatnya Heri Sunarta, Ali Hanapiyah, Syafrudin dan Handiawan pun meningkatkan ekspektasi kualitas permainan String Orchestra dan juga kekokohan kolaborasi mereka dalam Pro-Art String Quartet, terutama dalam detail intonasi terutama dalam karya-karya yang memang berstandar tinggi di sisi teknis.

Meskipun demikian, adalah sebuah kesukaan tersendiri untuk menyaksikan kolaborasi energetik di depan mata kita bersama keindahan musik yang diciptakannya di ASC Music Center Fatmawati sore ini. Semoga dengan tekad dan keteguhan mereka, mereka bisa turun tangan menghidupkan dunia musik kamar di Jakarta.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: