Kabar Terkini

Ketika Penyiaran Pun Jadi Isu


Sepertinya sudah cukup lama semenjak melihat sebuah pagelaran di tempat umum yang didedikasikan untuk pergelaran musik baru. Entah karena memang sedikit yang diperuntukkan demikian, atau karena memang sedikit penampil dan manajemen yang mau terlibat dalam bermusik?

Apakah musik baru itu kekurangan pemodal yang mau menampilkan karya mereka? Atau memang banyak orang di Indonesia yang tidak aware akan keberadaan mereka? Apakah penampil yang ogah memainkan karya musik baru dan lebih memilih musik-musik repertoar standar yang memang juga belum semuanya dieksplor di Indonesia?

Tapi kecenderungan kita untuk acuh tak acuh untuk musik baru sebenarnya adalah pertanda bahwa musik kita tidak akan dapat terus berinovasi dan berkembang secara nilai seni. Padahal Indonesia saat ini memiliki banyak insan-insan komponis yang terus berinovasi dan berkarya, baik yang berangkat dari keilmuan musik barat maupun yang berangkat dari keilmuan musik tradisional. Keduanya merupakan kekayaan yang harus terus difasilitasi perkembangannya.

Saya sedikit terketuk bagaimana media dan komponis di Inggris sana bisa angkat suara soal dipotongnya banyak musik baru dalam sajian penayangan beberapa rangkaian konser Proms di channel televisi nasional BBC. Padahal Proms ini dikenal sebagai festival yang memiliki jangkauan luas, baik lewat konsernya yang terjangkau, maupun lewat penyiarannya di televisi dan radio, serta selama ini memiliki keberpihakan pada musik-musik baru.

Jam tayang menjadi alasan sang institusi penyiaran publik, sedang komponis-komponis melihat ini adalah sebuah langkah mundur dalam perkembangan musik baru. Menurut mereka, institusi penyiaran publik harusnya membuka pintu inovasi dan mendukung karya-karya baru anak negeri, bukan menutupnya. Pun berlindung dibalik alasan rating adalah hal yang tak masuk akal dan malahan mendiskreditkan kemampuan audiens untuk memahami dan menikmati musik baru. Artikel dan diskusinya bisa dibaca di sini. Dan salah satu komentar tanggapannya ada di sini.

Kapan ya media dan institusi publik kita punya atensi seperti ini? Dan kapan komponis kita punya suara yang kuat untuk memperjuangkan keberlangsungan musik baru Indonesia?

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: