Kabar Terkini

Saat Jurnalis Seni Cuma Jadi Fotografer Amatir


Dentang piano berbisik lirih, rangkaian nada sendu seakan berbalut rindu yang mendalam. Khusyuk dirasa dan penonton pun hanyut dalam buaian suara yang halus namun dapat menggetarkan jiwa. Sang pianis pun bergerak dengan halus seiring dengan halusnya nada-nada yang keluar dari instrumennya.

Mendadak suara “cekrek” berbunyi cukup keras, berturutan hingga 5-6 kali memenuhi ruang auditorium. Rupanya ada jurnalis seni di belakang auditorium yang sibuk mengambil gambar dengan burst, sebuah fitur dimana kamera bisa mengambil gambar secara beruntun.

“Cekrek-cekrek-cekrek-cekrek-cekrek…” sang kamera berbunyi kembali hanya beberapa detik dari sebelumnya, dan lagi… dan lagi… setiap kali hanya diselingi sekitar 5-6 detik keheningan yang ketika saya iseng menoleh sang jurnalis sedang asik mengatur setting kameranya. Celakanya bukan cuma 1 orang, tapi ada 3 orang seperti itu. Alhasil, buyar sudah semua atmosfer keindahan yang susah payah dibangung sang penampil di depan panggung. Karena ini terjadi berkali-kali akhirnya sang direktur gedung pertunjukanlah yang sigap berdiri dari kursi VIPnya, dan menegur langsung beberapa ‘jurnalis seni’ itu.

Ya, itulah sedikit kenyataan yang terjadi di gedung seni kita baru-baru ini. Mungkin ada yang langsung menjawab bahwa “kesan terganggu” yang baru saya ungkapkan adalah sebuah ungkapan elitis dari pecinta musik klasik. Barangkali apabila hal ini terjadi di antara para penonton, mungkin ini adalah sikap elitis yang berlebihan, tapi hal ini secara mengejutkan dilakukan oleh mereka yang menganggap diri jurnalis seni, mereka yang melaporkan peristiwa seni dan ujung tombak apresiasi seni di media massa.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah memang apresiasi seni di kalangan jurnalis seni ini sudah jatuh pada titik terendah? Ketika jurnalis seni tidak lagi mempedulikan nilai seni dari karya seni yang ia ulas dan laporkan di media massa, maka siap-siap terjun bebaslah apresiasi seni khalayak ramai. Lucu apabila jurnalis seni inilah yang karena perannya ini harusnya sedikit tercerahkan malah menjadi ganjalan bagi publik untuk menikmati karya seni yang ada di depan mata.

Apabila yang diliputnya adalah konser musik rock, tidak akan jadi masalah, tapi ini konser musik piano solo dan ketika memainkan lagu yang tenang. Ini masalah apakah mereka mengerti masalah ‘saat’ atau tidak. Bisa jadi apabila mereka mengambil gambar dengan metode burst untuk ini, bisa jadi mereka pun tidak mengerti pentingnya ‘saat’ dalam penciptaan dan pemaknaan kembali karya seni. Karena sebetulnya apabila ditelusuri lebih jauh, fotografer profesional pasti mengerti makna ‘saat’ dan mempersiapkan alat-alatnya dengan seksama untuk mengambil momen visual tersebut.

Nyatanya fenomena inilah yang terjadi. Di saat kita semakin mengagungkan budaya citra, jurnalis seni pun akhirnya berubah menjadi segelintir fotografer amatir. Mengambil gambar berkali-kali karena kurang mampu menyetel kamera untuk mendapatkan hasil yang maksimal untuk satu momen yang tidak banyak berbeda secara visual adalah sebuah tanda ketidakmampuan untuk para fotografer.

Dan celakanya kemampuan fotografi yang masih cetek ini dijadikan topeng jurnalisme seni, seakan berpegang pada mosi bahwa “a picture can paint a thousand words“, yang serta-merta mengerdilkan nilai jurnalisme seni itu sendiri terlebih apabila sang jurnalis juga ternyata tidak fasih dalam membicarakan nilai estetika dalam kata-kata. Alhasil mereka hanya mampu berlindung di balik foto indah mereka yang membuktikan bahwa acara ini telah diliput dengan sebaik-baiknya. Apakah ini salah? Bisa jadi tidak, namun apabila jurnalisme seni hanya didefinisikan sebagai fotografi sendi pertunjukan, alangkah meruginya insan pecinta seni. Apalagi ketika dalam prakteknya, fotografi itu justru menafikkan nilai seni dari karya yang ditampilkan.

Jadi, saran yang mengemuka adalah baik apabila mereka yang berani menyebut diri sebagai jurnalis seni meningkatkan kemampuannya dan pengetahuannya dalam mengapresiasi seni itu sendiri, dan bukan hanya bersenjatakan kamera dan selembar press release tapi juga wawasan dan etika jurnalisme yang kuat. Di sisi lain, apabila memang hanya bersenjatakan kamera, paling tidak jadilah pribadi yang menghargai nilai karya seni dan proses penciptaannya.

Pun sesekali mengambil kursus fotografi supaya mahir dan tidak mengganggu penonton karena inkompetensi menggunakan kamera, juga tidak ada ruginya, ya toh? Paling tidak Anda bisa menghemat memory card Anda dan orang lain tidak terganggu…

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: