Kabar Terkini

Cita Rasa dari Flugelhorn Ack van Rooyen


Salamander Ack1Malam ini di Erasmus Huis, Goethe Institut bersama dengan Erasmus Huis mendatangkan Ack van Rooyen, pemain trompet dan tokoh Jazz Belanda untuk bekerja sama dengan grup asal Bandung Salamander Big Band yang didukung oleh Goethe Institut dalam pengembangan dan program pelatihannya. Tampil dengan format penuh, keduanya berkolaborasi selama seminggu sebelum akhirnya tampil di Bandung dan Jakarta. Konser bersama di Erasmus malam ini adalah rangkaian kedua dari tiga konser. Konser ketiga masih tersisa esok hari di Goethe Haus Jakarta.

Membawakan karya-karya swing dan Jazz standar, konser malam bertajuk “A Jazz Life” itu dipersembahkan untuk dua orang tokoh Jazz, almarhum Rob Pronk dan almarhum Jerry van Rooyen yang adalah kakak dari Ack. Route 66, Walking Tip Toe, Because I Love, It Could Happen to You dan Copacobana adalah beberapa karya yang dibawakan oleh Salamander Big Band yang dipimpin oleh Devy Ferdianto dengan Ack van Rooyen memainkan flugelhorn dan solois utama. Sedang aransemen lagu keroncong Di Bawah Sinar Bulan Purnama yang dinyanyikan oleh kuartet vokal andalan Salamander yang padu dalam lantunan swing. Mood Indigo yang dipopulerkan oleh Duke Ellington pun dibawakan dengan indah.

Sebagai seorang pemain jazz yang dihormati, Ack van Rooyen walaupun telah berusia 85 tahun tampak segar dan hidup. Musik dan improvisasinya demikian mengalir dengan presensi panggung yang kuat. Permainan Flugelhorn-nya sangat manis, bersih dan terukur. Walaupun mungkin tenaganya tidak sebesar ketika ia masih muda, namun permainannya begitu kental penuh citarasa meluncur bebas sehingga dengan mudah menonjol diantara jazz band tanpa mengandalkan volume yang keras. Aksi panggungnya tidak aneh-aneh namun begitu subtil dan menyatu dengan indah dengan kontrol intonasi dan virtuositas yang masih melekat erat.

Imelda Rosalin, vokalis sekaligus pianis juga tampil dengan magnet yang luar biasa. Duduk di depan piano sembari berimprovisasi, Imelda bernyanyi dengan suara alto yang membuai sungguh patut dicatat.

Salamander Big Band sendiri tampil dengan formasi yang lengkap. Permainan musiknya berkarakter dan kemampuan improvisasi anggotanya di atas rata-rata. Saxophone, trompet, trombon, flugelhorn, klarinet dan flute diiringi oleh rhythm section, drumset, kontrabas, gitar dan piano serta sesekali synthesizer yang mampu membentuk nuansa mistis dalam karya berjudul Sinta yang ditulis oleh Rob Pronk dengan mengeksplorasi pentatonik menciptakan nuansa keindonesiaan kuat dalam aransemen Jazz Band yang unik.

Salamander Ack2Salamander Big Band sendiri di bawah pimpinan Devy dan pengarahan Ack tampil dengan cukup tegas dan tertata. Namun memang sebagai sebuah bentukan musik yang muncul di tahun 1920-an ketika banyak orang kulit putih di Amerika semakin tertarik dengan musik jazz yang sebelumnya kental dengan budaya Afrika-Amerika, big band memang terbentuk dari dua tradisi musik yang sama-sama saling mempengaruhi: Eropa yang klasik dan tertulis rapih dengan Afrika-Amerika yang lebih improvisatoris.

Maka dari itu, tidak heran ada tuntutan kejernihan intonasi yang dituntut oleh akar klasik musik Eropa untuk permainan BigBand yang sering mengandalkan harmoni yang rapat dan hanya akan terdengar indah apabila bersih secara intonasi. Memang aspek ini masih harus dilatih dan dikembangkan oleh Salamander untuk menghasilkan penampilan yang menggetarkan.

Namun uniknya, ketidakrapihan intonasi ini di sisi lain secara mengejutkan mampu menghadirkan aspek musik jazz dari akar Afrikanya yang tidak terduga dan berakan kuat pada tradisi. Walaupun karakter suara bigband biasanya tergambar bersih khas orkes Eropa, namun Salamander yang tidak selalu bersih secara intonasi sedikit banyak mencerminkan Jazz New Orleans yang mengemuka di 1910-an dengan segala kementahan suara namun memiliki energi yang luar biasa. Akan semakin ideal apabila Salamander yang baru berusia 8 tahun ini mampu menggabungkan ketelitian suara dengan nafas kuat yang mereka miliki saat ini.

Memang big band bukanlah suara yang sering kita saksikan di Jakarta, dan tentunya Bandung beruntung memiliki kelompok seperti Salamander Big Band. Dan permainan Ack van Rooyen semalam yang bercitarasa sungguh merupakan suguhan yang begitu mengena di hati – sebuah pesan dari legenda “A Jazz Life” yang telah berkarya lebih dari 70 tahun untuk teman dan kakak tercinta.

~Salamander dan Ack akan hadir kembali tanggal 10 Sept di Goethe Haus

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: