Kabar Terkini

Mochtar Embut dan Ismail Marzuki di Taman Ismail Marzuki


SuB2Seperti layaknya dari tahun ke tahun, Avip Priatna bersama dengan kelompok-kelompok yang bernaung di bawah Resonanz Music Studio di medio Agustus dan September menyuguhkan persembahan yang nasionalistik bertajuk “Simfoni Untuk Negeri”. Kali ini digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, agaknya tepat pula Avip mengangkat dua komponis Indonesia Mochtar Embut dan Ismail Marzuki yang tahun ini dirayakan 80 dan 100 tahun kelahirannya.

Adalah Jakarta Concert Orchestra yang menjadi penampil utama dalam konser kali ini yang mengiringi berbagai ensembel seperti Batavia Madrigal Singers, The Resonanz Children Choir, The Resonanz Youth Choir dan Shantell Vocal Ensemble. Hadir juga para solois, soprano Valentina Aman, mezzo Heny Janawati dan tenor Farman Purnama serta cellis Dani Ramadhan.

Mengambil tema kedua komponis, konser yang dibuka dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan serba-serbi dari dua komponis yang diarransemen untuk orkestra. Karya-karya seperti Varia Ibukota, Bujang Dara, Di Wajahmu Kulihat Bulan, Nyanyian Gembira, membahana dengan aransemen dari Renaldi Wicaksono dan Fero Aldiansya. Juga karya-karya dari Ismail Marzuki juga dibawakan seperti Wanita, Payung Fantasi, Rindu Lukisan, Kopral Jono dan 3 Wajah Ismail Marzuki yang mengetengahkan adaptasi 3 lagu oleh Fero Aldiansya lewat permainan Dani Ramadhan yang ekspresif. Fafan Isfandiar, Joko Suprayitno dan Aubrey Victoria yang mengaransemen karya-karya ini.

Setelah jeda, Simfoni untuk Bangsa mengubah pandangan kepada lagu-lagu Indonesia yang berpijak pada lagu-lagu tradisi. Dibuka dengan Indonesia Djiwaku karya Guruh Sukarnoputra dan aransemen Singgih Sanjaya, Avip Priatna masuk ke seluk-beluk musik vokal paduan suara yang diiringi oleh orkestra. Memang sejak lama musik Folklore selalu menjadi andalan paduan suara Indonesia di kancah dunia, namun sedikit berbeda, kali ini diiringi orkestra. Lembe-lembe, Cik-cik Periuk, Yamko Rambe Yamko, Janger yang diarasemen oleh penggerak paduan suara seperti Budi S. Yohannes, Lilik Sugiarto, AB. Jusana, berpadu dengan orkestrasi dari Avin Witarsa, Renaldi Wicaksono. Fero Aldiansya juga mengaransir Sarinande dan Lisoi, sedang Paris Barantai dari Renaldi Wicaksono tampil ke muka.SuB1

Soprano Valentina Aman menyanyi lirih, bersama Henny Janawati yang berkarakter serta Farman Purnama yang mengena melibas banyak karya. Sedangkan paduan suara anak tampil gemilang dengan disiplin, keluwesan dan antusiasme yang tinggi. Sungguh, The Resonanz Children Choir adalah bintang yang bersinar malam itu lewat suara dan koreografi yang cantik dan banyak mendulang tepuk tangan audiens. Sedang Shantell bernyanyi dengan mengandalkan kerja sama yang kompak. BMS sendiri lebih banyak tampil di latar dan tidak terlalu mengambil peranan besar dalam banyak aransemen sebagai koor campur namun seperti biasa tampil dengan total dan volume yang luar biasa.

JCO sendiri tampil rapih dan konser kali ini memang lebih bersifat menghibur dan untuk itu tampil dengan cukup tergarap. Kenyataan bahwa banyak karya-karya ini adalah daur ulang dari konser-konser “Simfoni untuk Bangsa” yang diadakan setiap tahun sejak 2010, kita memang bisa menyadari bahwa Indonesia sungguh kekurangan karya musik yang layak dipentaskan dalam format orkestra maupun orkestra dan paduan suara. Perasaan agaknya campur aduk, beberapa karya memang ditampilkan dengan menawan dan menggerakkan hati, namun kita pun semakin menyadari bahwa memang pilihan musik orkestra Indonesia sedemikian sedikit dan dalam jumlah yang cukup mengkhawatirkan.

Ya, jujur banyak yang pulang dengan perasaan puas dan senang mendengar konser ini, pertanda juga bahwa kita memiliki keragaman musik, dari musik pop, tradisi hingga musik seni dengan format full orkes dan kesemuanya ditampilkan dengan menarik. Namun jauh di lubuk hati ada kesedihan tersendiri, bahwa ternyata belum banyak karya berkualitas yang tercetus lewat menggali potensi kita yang sedemikian kaya ini. Dan sungguh ada harapan tersendiri bahwa, “Simfoni untuk Bangsa” yang terus mengkomisikan karya baru dari para komponis bisa menjadi suatu media untuk memperkaya khasanah musik orkestra Indonesia.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: