Kabar Terkini

3 Cello untuk Semua


Klasikanan2aKomunitas Taman Suropati dan Kota Seni sudah berlatih secara rutin di Taman Suropati, menyediakan akses untuk pendidikan musik yang terbuka untuk umum dan diadakan di ruang publik. Orkes Simfoni UI Mahawaditra mempelopori untuk bermain di Taman Menteng di bulan Januari lalu. Lalu kini “KumpulKlasik” digagas Yayasan Klasikanan untuk menjadi media penampilan para musisi klasik secara rutin di ruang publik. Memang baru inilah gagasan untuk menjadikan sebuah acara penampilan musik klasik rutin tapi santai.

Jujur saja, acara ini memang sungguh bernuansa informal. Musisi-musisi sahabat datang menonton untuk menyaksikan permainan tiga cellis Dwipa Hanggana Pratala, Putri Juree Batubara dan Muhammad Affan menjadi penampil perdana dari Yayasan Klasikanan yang dibentuk dari masyarakat pecinta dan penggerak untuk pemenuhan fasilitas seni di tanah air. Dan kali ini mengambil tempat di Taman Langsat yang rindang di bilangan Jakarta Selatan.

Ketiganya yang aktif bermain di berbagai orkestra di ibukota memainkan berbagai aransemen rendisi karya-karya klasik ternama dalam bentuk 3 cello. Setelah penonton duduk di rerumputan, berbagai karya mengalir dari instrumen yang sering dikenal sebagai kakak dari biola dan adik dari bass betot ini. Karya-karya Vivaldi dari Four Seasons-nya, Eine Kleine Nacht Musik Berdari Mozart dimainkan bersama dengan karya-karya Tchaikovsky dari Swan Lake dan Nutcracker. Tidak lupa satu buah senandung yang dikenal sebagai lagu Natal “Once in Royal David’s City” juga dibawakan bersamaan dengan karya dari Bach dan lainnya.

Klasikanan1aLucu juga sebenarnya melihat karya yang biasanya dilantunkan di nada-nada tinggi, bak dinyanyikan seorang putri, mendadak bernada rendah maskulin. Unik sebenarnya bagaimana musik seperti Serenade untuk Alat Gesek no.13 karya Mozart seakan penuh dengan suara bapak-bapak bernyanyi dan sesekali menggeram rendah. Namun pendekatan seperti ini dengan jelas memberi warna yang lebih kaya akan musik klasik yang selama ini kita kenal, terlebih dengan jam terbang mereka di berbagai orkes di ibukota.

Jujur saja pergelaran ini santai sekali, bahkan penonton pun yang beberapa adalah sahabat dari para pemain cello ini bisa bertegur opini dengan mereka yang bermain. Bahkan ketika pemain ingin beristirahat sejenak, Santos Nur dan Maria Shanti putrinya – keduanya adalah cellis yang menonton – bergantian posisi dengan para pemain dan bermain bagi para penonton. Derai tawa pun terjadi kalau-kalau ada angin bertiup memaksa lembar-lembar partitur yang sedang dimainkan beterbangan. Permainan pun sebenarnya cukup rapih tapi memang ruang terbuka sebagaimana terjadi dalam penampilan akustik Orkes Simfoni UI di bulan Januari memiliki tantangan tersendiri untuk dapat terdengar oleh penonton, terlebih trio cello memiliki suara rendah yang menjalar lambat di permukaan tanah dan sering terdengar terlalu kecil volumenya di ruang terbuka.

Sungguh sebenarnya apabila digarap secara lebih serius, pergelaran ini bisa jadi rutin dan menjadi wadah tampil bagi banyak kelompok seniman musik klasik. Memang karena kesibukan, terlihat sekali bagaimana para musisi ini berlatih sightreading (membaca partitur spontan) di depan para penontonnya, sesuatu yang kebetulan dimaklumi oleh teman-teman mereka sendiri yang kebetulan menonton.

Namun apabila kegiatan ini menjadi rutin dua mingguan seperti diungkapkan oleh Condro Kasmoyo, adalah sebuah keniscayaan bagi mereka yang tampil untuk mampu menampilkan yang terbaik dengan persiapan yang lebih matang. Bisa jadi, para penampil ini menjadi wajah musik klasik bagi mereka yang barangkali belum pernah mendengar musik klasik dalam hidup mereka. Dan itu adalah tugas yang seringkali tidak mudah.

Klasikanan3aMemang membuka akses akan musik klasik menjadi hal utama dalam pagelaran di ruang terbuka seperti ini, apalagi musisi-musisi ini tampil dengan sukarela. Penonton dengan baju kaos santai, bersendal jepit, sebagian dengan rokok terjepit di jari, menggantikan tuxedo rapi dan gaun malam yang seringkali terlihat di beberapa gedung konser. Adalah baik juga apabila penonton bisa berinteraksi dengan pemain, seperti yang ditampilkan tadi. Tapi, apapun kemasannya semoga kedepan acara ini bisa menjadi kegiatan rutin yang didukung berbagai format musik dan instrumentalis. Dan tentu saja, kemasan tidak boleh berkompromi dengan kualitas musik yang ditampilkan.

Apakah ini sebuah pencapaian? Kita tunggu kegiatan “Kumpul Klasik” Klasikanan berikutnya, semoga menjaring lebih banyak pencinta musik klasik baru. Seringkali semakin ramai, semakin asik bukan?

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: