Kabar Terkini

Beatles Rasa Elgar, Jimi Hendrix Rasa Copland


Anime Jose 2Seberapa sering kita bisa mendengar Beatles dalam permainan orkes gesek yang terkadang membawa kita pada tutur Elgar dan Tchaikovksy? Iya, bisa dikatakan hampir tak pernah. Di kala musik pop bercampur permainan orkes simfoni yang banyak mewabah, Haryo “Yose” Soejoto lagu-lagu lawas Beatles ke ranah yang sama sekali berbeda, menjadikannya karya populer ini sungguh sebagai karya musik gesek.

Malam ini di Teater Salihara, Animé String Orchestra pimpinan Haryo Soejoto tampil dengan maksimal sebagai gong pembuka dari Festival Salihara 2014. Haryo Soejoto sendiri dalam bincang-bincang di tengah konser memang membagikan bahwa ia mencoba mendekatkan tutur musik klasik di ranah orkes gesek lewat aransemen musik pop berciri klasik, menjadikan peserta didiknya di Bandung di tahun 2001 yang sebelumnya hanya mengenal musik band sedikit demi sedikit lebih dekat ke musik klasik Barat.

“Magical Mystery Tour”, “Eleanor Rigby”, “And I Love Her”, “Let It Be” adalah beberapa musik Beatles yang secara ciamik dipadankan dengan aransemen orkes gesek. “Roll Over Beethoven” dari Chuck Berry juga tidak lepas dari besutan musisi yang berkarya di Jakarta dan Bandung. Orkestrasi Haryo Soejoto yang juga bertindak sebagai konduktor orkes gesek ini nampak rapat dan terstruktur. Pembentukan emosi lewat keberaniannya mengeksplorasi harmoni sungguh mampu memberi warna berbeda.

Pak Yose, demikian ia dipanggil murid-muridnya, juga mengenal sekali karakter instrumen gesek dawai ini yang memampukannya menjelajah instrumen dawai untuk membentuk nuansa dan emosi yang tidak tergambarkan lewat lagu asli yang kita kenal. Musik pun tergambar penuh dan sesekali terbersit di kepala bahwa kemampuannya ini hanya dimungkinkan oleh penguasaannya yang matang pada medium kuartet gesek, yang terkenal sulit dan membutuhkan kepekaan dan visi yang jelas seperti dalam aransemennya “Let It Be”.

Dan itu ia buktikan dalam karya-karya “Suita Beatles” yang ia tulis khusus untuk kuartet gesek. Tujuh buah lagu band terkenal asal Liverpool itu ia besut dalam paduan tempo cepat dan lambat seperti layaknya sebuah Suita, “Taxman”, “The Fool on the Hill”, “Come Together”, “Her Majesty”, “Norwegian Wood”, “Penny Lane”, “Drive My Car” dipadu dalam bagian-bagian terpisah. Terasa sekali bagaimana Haryo Soejoto sebenarnya memilih musik yang memang dekat dihatinya untuk digubah tanpa meninggalkan pakem musik asli, namun seketika mengingatkan penonton akan Britten, ataupun bahkan gaya orkestrasi Korngold dan Rodrigo seperti dalam “Yesterday” yang dibawakan orkes gesek besar dan aspek improvisasi pun ia masukkan dalam karya karya “I Am the Walrus” yang membuat karya ini segar.

Anime JoseDi sesi kedua, giliran lagu-lagu Jimi Hendrix, Emerson, Lake & Palmer, YES, Jon Anderson dan Aaron Copland yang digarap oleh orkes gesek dengan personil 26 orang ini. Animé membawakan “Spanish Castle Magic”, “Crosstown Traffic”, “Changing States”, “Trilogy Opening”, “Hoedown”, “Long Distance Runaround” dan “Roundabout” dalam format orkes gesek. Beberapa teknik lanjut juga digunakan untuk memberi warna berbeda dalam karya musiknya dan digunakan secara cerdik pula oleh sang konduktor-aranger yang kini dikenal sebagai guru cello yang disegani.

Animé sendiri tampil dengan bertenaga dan bersemangat. Permainan dan warna gesek pun kental dan rapih. Sungguh, kecermatan sang konduktor dalam memastikan warna permainan, disiplin dan balans terjaga di sepanjang karya. Viola bernyanyi dengan ekspresif, berbalas dengan cello yang gegap. Biola bersenandung riang ditemani gesekan kontrabas yang mantap. Jelas sekali walaupun Haryo yang mengaku bukan seorang konduktor, ia telah menjalankan kewajibannya dengan sangat baik. Permainan pun tetap terjaga sampai akhir dengan eksekusi teknik yang tidak main-main, pun emosi pun berperan kuat di dalamnya dengan suara orkes gesek yang penuh dan berbobot.

Memang yang perlu dipertanyakan adalah penonton yang memadati Salihara malam itu. Bicara gamblang, program semalam memang sangat panjang untuk penonton. Dua jam 15 menit bukan waktu yang pendek untuk mendengarkan sebuah pergelaran musik gesek. Terlebih dengan kecenderungan materi musik pop yang memang tidak banyak bergerak dan cenderung statis, kepiawaian Haryo, musisi didikan AMI, IKJ, ISI dan Wellington Polytechnic ini, dalam meramu harmoni dan nuansa sudah paling optimal. Karyanya segar, namun memang panjangnya program dan monotonnya materi dasar musik cukup menantang bagi para pendengarnya.

Animé String Orcestra yang dibentuk dari pengembangan Animé String Ensemble di tahun 2001 telah menunjukkan tajinya. Demikian juga kepiawaian Haryo Soejoto dalam mengorkestrasi dan memimpin kelompok ini. Dan apabila ini adalah sebuah proses untuk mengenalkan gaya musik seni orkes gesek pada para murid, tentunya penulis tidak sabar untuk menyaksikan sendiri bagaimana orkes ini beraksi membawakan karya standar orkes gesek di lain waktu. Tentunya itu akan sangat menarik. Demikian juga Festival Salihara tahun ini yang mereka buka, tentunya juga akan menarik.

~Animé dan Haryo Soejoto akan tampil lagi hari Minggu 15 Sept ini.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Beatles Rasa Elgar, Jimi Hendrix Rasa Copland

  1. Roundabout adalah lagu pertama Yes yg gw denger, dan seketika itu juga gw jadi fans. Killer bass line. Ada videonya kah? Pengen tau gimana kalo lagu rock macam gini diaransemen jadi orkesra :p

  2. Jujur gw blm cek ke youtube or apa… Tp kmrn we are not allowed to record… Foto aja kmrn gw sembunyi2…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: