Kabar Terkini

Sastra dan Keroncong Melejit Bersama


Puisi-dalam-Melodi1Kemarin (Sabtu, 13/09) diskusi publik bertajuk “Puisi dalam Melodi” menandai dibukanya rangkaian Pekan Komponis Indonesia 2014 yang bertemakan “Keroncong Riwayatmu Kini” di Kineforum, Taman Ismail Marzuki. Hadir sebagai narasumber Fikar W. Eda yang juga adalah Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Linda Christanty juga dari Komite Sastra DKJ, dan diskusi pun dimoderasi oleh Aksan Sjuman, ketua Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta.

Sebagai pembuka rangkaian acara andalan Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta, Pekan Komponis Indonesia (PKIna) 2014 yang merupakan pembangkitan kembali dari acara tahunan Pekan Komponis Muda yang digagas oleh Dewan Kesenian Jakarta di bawah pimpinan Irawati Sudiarso di tahun 1979. Setelah dua tahun sebelumnya PKIna telah berhasil menggaet film dan seni rupa, kini giliran seni sastra yang diangkat ke muka sebagai sumber inspirasi bagi para komponis muda. Dua puisi “Kangen” karya W.S. Rendra dan “Que Sera-sera” karya Nenden Lilis Aisyah yang dipilih oleh Komite Sastra sebagai sumber inspirasi bagi komponis dipresentasikan untuk umum.

Dari sana dijembatani oleh Aksan yang cenderung santai dan bahkan mengaku bahwa ini adalah kali pertamanya menjadi moderator, Fikar menjelajahi dunia musikalisasi puisi yang saat ini sudah cukup mewabah di berbagai daerah di tanah air sebagai sebuah bentuk apresiasi terhadap karya sastra. Ia pun berfokus pada romatisme yang mekar dari ungkapan Rendra. Kunci yang harus dipahami oleh komponis muda peserta PKIna yang juga hadir dalam forum diskusi ini adalah mereka harus mendalami karya sastra yang mereka pilih.

Di sisi lain, Linda mengomentari puisi dari Nenden Lilis yang bersifat fantasi, jauh dari kenyataan yang mungkin didapati. Walau demikian, bentuknya yang deskriptif menjadi menarik untuk dicerna dan diresapi. Linda pun menyatakan bahwa bisa jadi karya sastra yang memang secara substansi berbeda dengan karya musik bertolak belakang satu dengan yang lain, dan dalam bentuknya bisa jadi adalah musik yang terbuka untuk interpretasi, dengan ataupun tanpa kata. Hal ini diamini Aksan, bahwa kesulitan selanjutnya yang akan memicu kemajuan adalah kerangka keroncong yang harus ditaati oleh para komponis ini.

Diskusi pun bergulir dengan semarak. Dari forum yang hadir terangkat pula oleh musisi Jassin Burhan, bahwa musikalisasi puisi juga sudah menjadi sebuah kebiasaan di lingkungan Gayo di Sumatera. Migi Parahita, komponis muda pun mengungkapkan bahwa ia pun belum terpikir musik apa yang akan jadi, namun ia menyadari bahwa bagaimanapun keroncong yang mungkin akan tercipta adalah keroncong baru yang berbeda dengan pakem keroncong yang banyak kita kenal saat ini.

Di lain kesempatan, penulis juga bertemu dengan Haryo Soejoto yang menggelar konser di Teater Salihara di malam yang sama, mengungkap bahwa keroncong merupakan salah satu identitas ke-Indonesia-an, sebagaimana kota pelabuhan menjadi kunci negeri maritim bersama dengan bahasa Melayu-Indonesia, dan keberadaan pecinan di kota tersebut. Sebuah pernyataan yang menarik pula mengingat keroncong tidak banyak berkembang sejak 300-400 tahun yang lalu ketika bangsa Portugis datang membawa pengaruh musik-musik ini di Nusantara.

Tentunya, publik kini menunggu bagaimana komponis muda akan bereaksi dengan inspirasi sastra dan tantangan keroncong ini. Dan di bulan Oktober selama sepekan di Kineforum dan Teater Kecil, kita akan melihat bagaimana karya sastra menjadi inspirasi komponis muda kita untuk berkarya. Karya musik yang tercipta pun akan menghidupkan kembali keroncong sekaligus menjadi katalis perkembangan keroncong di masa mendatang. Seru?

~ayo nonton PKIna
Sedikit catatan tambahan dari Aisha Pletscher, anggota Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta di laman FB yg saya rasa perlu dicatat:
Terima kasih resensinya. Sebagai Catatan tambahan… kami melihat bahwa seni masa kini tidak bisa lagi dikotak-kotak kan menurut disiplinnya, tetapi telah menjadi lintas disiplin yang berkesinambungan. Maka kali ini Pekan Komponis Indonesia DKJ bukan hanya bekerja sama dengan komite sastra dengan mengambil karya puisi W.S. Rendra dan Nenden Lilis Aisyah sebagai inspirasi karya komisi PKIna… namun njuga dengan komite film dengan memutar film2 bernuansa keroncong di Kineforum Dewan Kesenian Jakarta pada Pekan Komponis Indonesia mendatang.

Para peserta Pekan Komponis Indonesia adalah berasal dari para siswa Sekolah Tinggi DAN Komunitas di daerah Jakarta dan sekitarnya. Menarik? Ayo.. mari saksikan tgl 21-26 Oktober 2014. Bagaimana keroncong riwayatmu, …. kini?

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: