Kabar Terkini

Nyanyian Rekorder di Tangan Seorang Seniman


Pedro Bonet1Rekorder atau blokflut bisa jadi adalah alat musik yang paling banyak digauli anak-anak sekolah dasar di negeri ini. Masuk menjadi kurikulum, alat musik ini seringkali menjadi alat musik pertama bagi banyak anak-anak kita. Tentunya ini sangat baik, namun seringkali berakibat pada sering dipandang sebelah matanya alat musik yang menurut sejarah dibuat dari kayu ini. Namun demikian, bagi mereka yang menyaksikan Pedro Bonet tampil di panggung Erasmus Huis kemarin, rekorder sekejap mata berubah menjadi alat musik yang sangat disegani.

Pedro Bonet, profesor musik Royal Conservatory Madrid, tampil dalam sebuah resital bertajuk “Luz de mi Alma” atau “Cahaya Jiwaku” atas karsa Kedutaan Besar Spanyol. Duduk tepat di tengah panggung, terpancar jelas bagaimana ia sungguh mengangkat rekorder menjadi sebuah instrumen yang mandiri dan memiliki nilai artistik yang tidak main-main.

Memainkan karya-karya musik masa renaisans (1550) hingga masa barok (1750), di mana rekorder mendapatkan peran yang sentral dalam perkembangan musik di Eropa, Bonet mengeksplorasi berbagai rekorder, mulai dari rekorder masa transisi hingga rekorder masa barok, dari yang berukuran kecil/sopranino hingga baset flut yang bersuara rendah. Tidak kurang dari 8 buah rekorder tertata rapi di meja yang bersisian dengannya dan ia tampilkan di hari Rabu malam ini.

Membawakan khasanah musik Kerajaan Spanyol di abad 16-17 yang secara kebetulan juga mencakup Provinsi Belanda, Bonet membawakan karya “Riceracadas 1 & 2” dari Diego Ortiz, serta 4 buah karya komponis-komponis Belanda-Spanyol Pieter de Vois “Pavane de Spanje”, Jacob van Eyck “Lus de mi Alma/Replicavan/Sarabande” yang menjadi judul program malam itu dan “Batali” yang menggambarkan peperangan kemerdekaan Spanyol dengan Belanda yang hingga karya itu selesai ditulis, belum selesai yang berakibat pada lagu juga dengan sengaja ditutup dengan nada menggantung.

Berikutnya, Bonet yang sempat mengenyam pendidikan musik rekorder di Sweelinck Conservatory of Amsterdam ini berganti set blokflut dan memainkan karya-karya barok. J.J. Quantz “Sarabande, Gigue”, dan karya barok yang penulisnya tidak diketahui “Marcha, Otra de Nápoles, Amable, Seguidillas, Minuet” dari Museum Antropologi Mexico, dan “Folias de Espanya” yang naskahnya ditemukan di Perpustakaan Catalonia. Konser pun ditutup dengan arransemen Pedro Bonet sendiri untuk Chaconne dari Partita No.2 BWV1004 J.S. Bach yang semula ditulis untuk biolin.

Bonet bermain dengan sangat menawan. Mengingat batas ekspresi dari sebuah rekorder, sensitivitas pemain untuk mampu menjelajah kemungkinan nada dinamika dengan mantap dipraktekkan oleh pemimpin dari ensembel barok “La Folia” ini. Di tangannya, rekorder berubah menjadi sebuah alat musik yang punya kemungkinan yang luas, padahal untuk mampu menahan ketinggian nada saja di rekorder sudah menjadi suatu tantangan tersendiri, lewat permainan rongga mulut dan ambasur mulut. Terlebih ia pun selalu dengan leluasa menjelaskan natur instrumen yang ada di tangannya, juga latar belakang karya yang ia mainkan. Interaksi dengan penonton pun terus terjaga.

Memasuki karya-karya dengan corak barok Quantz, kepakaran Bonet sungguh benar terbukti. Bermain dengan tingkat virtuositas tinggi, ia melibas semua nada lengkap dengan ornamentasinya yang menjadi ciri khas permainan di masa barok yang penuh dengan sifat improvisasi. Namun yang membuat penonton berdecak kagum, bukan hanya keterampilan jemari dan hembusan nafasnya saja yang seakan mengenal instrumen luar dan dalam, namun juga bagaimana Bonet matang secara musikal.

Pedro Bonet2Setiap alur suara polifoni dimainkan dengan paripurna dengan karakternya masing-masing, terjalin satu demi satu membentuk alur harmoni, alur bass dan alur nada atas yang independen namun terkait satu dengan yang lain. Ilusi bahwa Bonet memainkan instrumen harmonis pun tercipta, sehingga apabila kita mendengar musik yang ia lantunkan tentu kita berpikir ada 2 orang lain yang bermain bersamanya, sedemikian hingga akhir karya J.S. Bach yang sangat menantang secara musikal dan teknik. Bahkan beberapa kali ia secara sigap menutup corong suara rekordernya dengan menempelkan corong rekorder dengan pahanya untuk mendapatkan nada yang ia inginkan. Aksi yang mengejutkan tapi efektif, bukti bahwa ia sungguh mengenal instrumen-instrumennya.

Di bawah hembusan nafasnya, rekorder pun mengambil bentuk yang nyata sebagai alat musik andalan di masa itu, lincah dan kaya ekspresi. Hanya seorang seniman yang mampu membuktikan keunggulan instrumen tiup kayu ini dan solois malam ini, Pedro Bonet, hadir untuk mengembalikan nyanyian rekorder sebagai nyanyian yang mampu menawan para pendengarnya.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: