Kabar Terkini

Sibuk Bermahzab, Bagai Kepiting dalam Ember


Sebarapa banyak kita pernah menemui satu pemusik tidak menyukai pemusik lainnya? Seberapa banyak kita melihat anggota satu komunitas menjelek-jelekkan komunitas lain? Juga tidak lupa cukup seringkah kita melihat perseteruan dua guru dan dua sekolah? Dan bahkan kita lebih sering mendengar gosip tidak sedap tentang orang lain?

Kenyataan di dunia musik seni di Indonesia bahwa banyak dari para pelakunya sibuk mengotak-ngotakkan diri. Ya, sibuk betapa sering kita melihat banyak pelaku seni kita sibuk bermahzab dan sibuk menjelekkan orang lain.

Kebiasaan seperti ini banyaknya sering diakibatkan oleh sikap tidak profesional dari mereka yang terlibat. Musisi jadi sibuk bergunjing, di satu sisi karena memang tidak ada media yang netral dan mampu memberitakan secara imparsial. Harus kita akui, Jakarta hampir tidak mengenal media yang didukung oleh profesional di bidang peliputan seninya, yang benar-benar menggali kehidupan sehari-hari seni. Di sisi lain, seringkali profesionalitas juga satu hal yang perlu diluruskan kembali.

Apakah Anda pernah mendengar kasus bahwa pernah ada penipuan oleh organiser orkestra dengan tidak membayar para pekerja orkesnya? Ya, itu pernah terjadi beberapa tahun lalu dan ini tidak menjadi isu besar di media massa. Padahal ini adalah kasus penipuan ketenagakerjaan. Organisernya pun sampai sekarang masih beroperasi dan tidak pernah diproses secara hukum, peliputan media pun tidak. Memang pada akhirnya gosip dan kabar burung adalah satu-satunya cara para musisi untuk menyebarkan kenyataan ini. Makzulnya media kita bisa jadi mendorong para musisi jadi sibuk bergunjing untuk melindungi kolega mereka dari kenyataan semacam ini.

Banyak musisi dan pecinta seni dalam negeri terlalu sibuk mengagungkan kelompok di mana ia berada, terutama dikarenakan krisis identitas yang mereka idap. Apabila mereka tidak bangga pada komunitasnya, mereka merasa kehilangan identitas dan seakan terombang-ambing tanpa arah. Pun yang terjadi adalah kecintaan ekstrim pada komunitasnya sendiri dan berbuah pada mudahnya mendiskreditkan komunitas yang lain. Sekolah yang satu mendiskreditkan sekolah yang lain, anggota komunitas satu menghina komunitas yang lain. Tidak jarang kita melihat satu guru musik mempergunjingkan guru musik yang lain karena mereka sedang berkompetisi satu dengan yang lain.

Kita memang melihat dari sisi sejarah, musik mencatat perseteruan antara Stravinsky dengan Schoenberg yang saling mengeluarkan maklumat di media massa akan jalur seni yang mereka pilih untuk berkarya. Namun semua dijembatani oleh media dengan cukup sehat. Persaingan pun memang terjadi, tapi pada akhirnya yang terjadi malah di akhir hayat mereka, semakin jelas bahwa masing-masing dari mereka menghormati pilihan seterunya, malahan karya Stravinsky makin atonal sedang Schoenberg semakin tonal (pradigma ini yang sebenarnya mengawali perseteruan keduanya). Perseteruan lain juga tertulis antara Brahms dengan Wagner yang berjalan di jalur yang berbeda, juga Mozart dan Haydn yang malah mempertontonkan persaingan sehat mereka dengan pertunjukan bersama di depan keyboard, untuk meraih pemain pianoforte terbaik. Tapi alangkah baik apabila kita mampu membangun persaingan sehat di antara musisi, komunitas dan lembaga.

Kontraproduktif

Kecenderungan pergunjingan seperti ini sebenarnya sangat kontra-produktif dengan cita-cita memajukan musik seni di Indonesia. Di saat di mana kita harusnya mampu berkolaborasi dan mendukung terbangunnya sebuah lingkungan yang kondusif untuk perkembangan musik seni dan perangkat pendukungnya, kita malah kurang peka dan terlalu sibuk dengan agenda-agenda pribadi dan kelompok yang mendiskreditkan insan lain tanpa kemampuan dan kebijaksanaan dalam penyampaian kritik yang konstruktif dan jujur.

Semua tahu bahwa Indonesia memiliki potensi yang kuat di sisi seni dan budaya. Kearifan lokal yang sungguh beragam menjadi modal awal untuk mengembangkan seni lebih lanjut. Jumlah kita yang 240 juta di Indonesia ini juga harusnya menjadi sebuah potensi lain yang bisa dimaksimalkan apabila dikelola bersama-sama secara profesional untuk menelurkan seniman-seniman yang berkualitas baik dalam karya maupun dalam hubungan interpersonal. Masa ketika seniman adalah orang aneh yang berkarya tapi eksentrik dan menjatuhkan kolega mereka itu sudah lama usang. Bisa jadi tanpa kekuatan kolaborasi yang baik, seniman ini seberapa handalnya tidak akan mampu bergerak dan berkarya dengan optimal.

Nyatanya membangun profesionalitas dan budaya kolaborasi itu sudah sepantasnya dibangun lewat pendidikan, baik pendidikan musik maupun pendidikan umum. Dan seperti yang kita ketahu kecenderungan bergunjing dan bermahzab dalam bermusik sudah kadaluarsa. Pembangunan identitas sebagai seorang musisi dan seniman harus dibangun sejak awal, bukan sebagai musisi yang handal berkarya saja namun juga setia membangun masyarakat dan membuka pintu kolaborasi dengan koleganya. Di lain pihak, kemampuan untuk memberikan kritik dan masukan secara lebih konstruktif juga sangat dibutuhkan oleh seni kita.

Ya, kebiasaan bergunjing dan bermahzab hanya pertanda inkompetensi dan lemahnya profesionalitas kita dalam pendidikan, cacatnya jurnalisme seni dan buruknya sumber daya manusia kita. Mungkin ini bagian dari sesuatu yang lebih besar, bagian dari penyakit bangsa ini. Namun, musik seni yang selalu termarjinalkan, sebenarnya tidak bisa selalu terhalang kemajuannya oleh inkompetensi para pelakunya. Dan di sini peranan pecinta musik menjadi penting, untuk berkarya dan maju bersama di bidang yang menjadi panggilan masing–masing, bukan sibuk menjatuhkan yang lain dan membenarkan diri sendiri, bagai sekelompok kepiting di dalam ember yang tidak bisa keluar ke mana-mana.

~sudah bertahun-tahun ingin menulis ini, tapi baru kejadian sekarang

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: