Kabar Terkini

Bernafas Bersama Dua Akordeon


Toeac1Mendapati dua akordeon bermain bersama agaknya jarang sekali ditemui. Namun kali ini setelah tampil di Salihara minggu lalu, duo Toeac yang diawaki Renée Bekkers dan Pieterniel Berkers kini tampil di Erasmus Huis, Senin malam ini.

Bermain dengan luwes, dua akordeon di tangan dua perempuan muda cantik ini bernyanyi dengan leluasa. Kerja sama keduanya tampak mengalir tanpa dipaksakan bersama dengan diafragma akordeon yang mengembang dan mengempis seakan bernafas bersama dengan kedua akordeonis asal Belanda yang adalah kawan perkuliahan sejak mereka menuntut ilmu di Fontys Academy of Music hingga kini mereka mendalami akordeon di Royal Danish Academy of Music Copenhagen. Kerja sama di antara keduanya juga terjalin dengan kuat dan lepas.

Permainan keduanya yang energik tergambar jelas sejak permainan karya Astor Piazzolla “Tango Nuevo” yang merupakan pernyataan pandangannya untuk meredefinisikan musik Argentina itu dalam bentuk yang lebih kaya dan inovatif. Karya komponis Belanda Jacob Ter Veldhuis “Views from a Dutch Train” menggambarkan erat pergerakan dua akordeon yang fasih bertanya jawab sembari terus menjaga pulsasi yang menggambarkan mesin kereta yang terus bekerja. Betapa jelas penonton dapat menyaksikan intensnya kedua wanita ini menyelami karya dan menghidupkannya dengan permainan musik dan teatrikal sederhana.

Hari ini pun juga menjadi hari premier karya baru dari komponis Gerard Beljon untuk solo akordeon berjudul “Farewell” yang dimainkan oleh Renée Bekkers. Dimulai dengan permainan spektrum suara yang berangkat dari satu nada panjang, perlahan nada panjang ini bertumbuh menjadi sebuah chorale yang bergerak khusyuk seakan mengingatkan pendengar akan chorale di tangan maestro zaman barok J.S. Bach. Nada panjang ini kemudian berubah peran menjadi sebuah drone yang tidak sekalipun berpindah, bertaut dan carut-marut dalam pergerakan harmoni yang di satu sisi sangat kental dengan aroma gaya lampau. Di bagian tengah, justru kesederhanaan yang terbangun dengan sempurna dalam langkah yang natural sebelum akhirnya karya perlahan ditutup dengan impresi lampau yang membekas halus.

Toeac2

Aransemen kedua akordeonis atas karya Stravinsky “The Shrove Tide Fair and Russian Dance” dari ballet Petruska, mampu menjawab dinamika karya yang lincah dan sedemikian hidup ini. Kelincahan tangan keduanya di atas tombol-tombol akordeon sedemikian terasa. Pun juga kematangan bermusik mereka untuk mampu membangun struktur tanpa harus terlibat basah kuyup musik tersebut. Namun keriaan tergambar jelas, dalam ide-ide musikal yang menggambarkan tokoh-tokoh mengalir dan berinteraksi satu dengan yang lain lewat pemilihan register suara yang apik oleh keduanya.

Karya Sebastian Klein “Caricias” yang berangkat dari Tango tradisional hingga masuk ke melodi tango khas Belanda yang bermain di atas hentakan lembut yang selaras. Enam buah nomor pertama dari karya Mussorgsky “Pictures at an Exhibition” juga disadur oleh dua musisi ini untuk dua akordeon untuk menggambarkan kemegahan dan juga bagaimana akordeon mampu mewujudkan beragam warna dan permainan yang imajinatif. Langkah promenade di pameran yang terkadang gagah, terkadang sedih membungkus warna-warni lukisan yang gelap “Gnome” hingga jenaka “Ballet of the Unhatched Chicken”. Konser pun ditutup gaya Tango Nuevo dari karya “(It takes 2) to Tango!” dari Gerard Beljon yang malam itu juga hadir di auditorium pusat kebudayaan Belanda ini.

Adalah sebuah kepuasan tersendiri melihat bagaimana Renée Bekkers dan Pieterniel Berkers bekerja sama. Ada kehangatan interaksi yang muncul di antara keduanya. Dinamika pun tertata dengan rapih dan tidak pernah sekalipun tumpang tindih. Sebuah pergelaran yang cantik dari Toeac, dua akordeonis Belanda ini dibalas penonton dengan tepuk tangan yang meriah, yang berbuah dilantunkannya gaya jenaka khas Betawi lewat saduran lagu “Ondel-ondel” yang disambut tepuk tangan penonton yang ikut bernyanyi. Manis…

 

About mikebm (1184 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: