Kabar Terkini

Dua Sisi Keindahan dalam Nada dan Kata


photo 3Malam Kamis ini, Goethe Haus mengharu biru. Frasa demi frasa meluncur dalam balutan nada dan denting piano. Asa dan cinta mengembang indah, sejenak penonton dibuai lantunan romantis tembang puitik, yang menjadi benang merah acara malam hari ini.

Ketika romantisme merambah Eropa Barat di abad 19, komponis Austro-Jerman menjelajah keindahan karya-karya sastra dan mengekspresikannya dalam format kecil namun efektif dan menggugah. Tembang puitik atau dikenal di Jerman dengan nama Lieder atau Art Song bangkit sebagai sebuah gaya musik dan komposisi tersendiri. Solo vokalis diiringi permainan piano yang elastis membentuk suasana yang intim dan syahdu.

Ini pula yang menggugah banyak komponis awal-awal Indonesia di abad-20 untuk menulis musik untuk puisi-puisi cantik Indonesia, sebuah usaha yang akhirnya memperkaya musik seni dan meningkatkan apresiasi seni sastra Indonesia. Nama-nama seperti Mochtar Embut, Iskandar dan FX Sutopo adalah beberapa nama yang mencuat karena komposisinya dalam bentuk ini bersama komponis seperti Ismail Marzuki. Soprano Aning Katamsi, bariton Joseph “Akis” Pantioso bersama dua pianis Ratna Ansyari dan Budi Utomo “Tommy” Prabowo membawakan khasanah musik ini dihadapan penonton yang memadati auditorium di bilangan Menteng itu.

photo 2Resital ini sendiri dibuka dengan karya-karya Mochtar Embut yang diangkat dari kumpulan sajak “Bumi Hijau” karya W.S. Rendra. Delapan karya pendek episodik dibawakan bergantian oleh Aning Katamsi dan Joseph Pantioso dengan manis seperti layaknya puisi Rendra yang kecil namun terdengar bersinar dengan iringan berhias manis dari Mochtar Embut lewat jemari Ratna Ansyari.

Empat karya lain dari Mochtar Embut yang tahun ini diperingati 80 tahun lahirnya “Kasih dan Pelukis”, “Lagu Rinduku”, “Srikandi” dan “Setitik Embun” dipadu dengan empat karya FX Sutopo yang masing-masing terbesut dalam lamunan, “Elegie”, “Puisi Rumah Bambu”, “Cintaku Jauh di Pulau” dan “Lebur”. Karya-karya FX Sutopo terasa pekat dan kuat bersama tembang puitik dari Iskandar “Malam Syahdu” dan “Kisah Mawar di Malam Hari”. Aning bersama Ratna bergantian dengan Akis dan Tommy mengambil tempat untuk menyuguhkan musik yang kerap terasa semakin personal ini. Ya, karya seriosa Indonesia adalah juga kekayaan musik kita.

Di babak kedua, giliran kedua vokalis yang kini aktif membimbing vokalis generasi muda ini memberikan konteks yang menjadi titik tolak karya musik jenis ini di Eropa. Karya-karya dari raksasa Lieder Jerman seperti Schubert, Wolf, dan Richard Strauss, dibawakan bergantian. Dua karya Schubert “Gretchen am Spinnrade” dan “Erlkönig”, empat karya dari “Mörike Lieder” Wolf dibalas dengan “Morgen”, “Allerseelen”, “Liebeshymnus” dan “Cäcilie” dari Strauss.

Malam pun ditutup dengan warna-warni duet Aning dan Akis diiringi denting piano Tommy. Dua karya Mendelssohn “Ich wollt’ meine Lieb’ ergösse sich” dan “Abschiedlied der Zugvögel” ditutup dengan sentimental lewat karya Peter Cornelius “Verrantene Liebe” dan “Ich und Du”.

Aning Katamsi bersama Ratna tampil dengan apik. Keduanya lewat suara dan piano mampu membentuk atmosfer yang kaya warna yang mampu menggetarkan pendengarnya. Arsitektur karya dan perasaan yang menaunginya tergambar jelas dan jujur. Kelincahan Aning dalam mengolah suara diperkuat dengan sentuhan hangat piano yang disulam dengan mempesona oleh Ratna. Juga terlihat bagaimana musik menuntun mereka berdua dalam berekspresi memberikan kesan nikmat bagi para penonton.

Keindahan dalam perspektif lain ditunjukkan oleh Akis dan Tommy. Akis yang kuat dalam menyulam kata, seakan membawa keindahan karya sastra lebih mendalam dan musik menjadikannya lebih kaya. Pendekatannya dalam diksi dilengkapi dengan permainan piano Tommy yang terukur dan selaras. Kecerdikan keduanya dalam menata waktu dan keseimbangan dalam menakar detail musik menjadi bagian integral dari ekspresi mereka. Pendekatan bawah ke atas ini agaknya berkontribusi pada kokohnya bangunan musik yang mereka berdua ciptakan.

Dua pendekatan musik yang berbeda, namun sama-sama indah dan memberi nyawa pada musik dan teks yang dibawakan. Keempat musisi di atas panggung ini juga yang terlibat dalam penyusunan buku kompilas tembang puitik dari Dewan Kesenian Jakarta. Masing-masing dari mereka terlihat sebagai advokat “rasa” dan advokat “logika” yang setelah dipadu, menjadi daya pikat yang luar biasa. Penonton pun berkali-kali tergetar oleh persembahan keempat musisi ini dalam penuturan mereka akan karya musik Jerman dan Indonesia ini yang terasa begitu dekat di hati. Tidak heran memang, tembang puitik atau artsong menjadi sumber keindahan yang tidak habisnya. Sorak pun dilambungkan penonton yang pulang membawa oleh-oleh yang memperkaya batin.photo 1

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: