Kabar Terkini

Berlaku Adil kepada Slamet Abdul Sjukur


SAS3Berbicara tentang Slamet Abdul Sjukur sebagai seorang pribadi dan pemikir tidak pernah akan ada habisnya. Namun sebagai acara puncak dari perayaan 79 tahun komponis kelahiran Surabaya ini, semalam adalah pembuktian keseluruhan karya dan pemikirannya bersumber dari satu insan yang khas dan tak pernah berhenti berkarya dan mereka yang menghadiri konser “Pagelaran Karya Slamet Abdul Sjukur” ini melihat bagaimana seorang Slamet Abdul Sjukur (SAS) tumbuh menjadi ikon musik kontemporer Indonesia. Sungguh lewat komposisinya yang ditampilkan malam ini, gelar yang disandangkan padanya oleh banyak murid, pengagum dan koleganya sebagai “Bapak Musik Kontemporer Indonesia” bukanlah sebuah aksi menjilat dan publisitas semata.

Malam itu, memang karya SAS sungguh mendapat focus tersendiri yang berbeda dari biasanya. Beberapa kali Mas Slamet (sebagaimana biasa ia ingin dipanggil) pun turut serta memainkan karya-karya tulisannya. Bermula dari karya Kabut (1960) yang dibawakan oleh soprano Ika Sri Wahyuningsih dan Mas Slamet sebagai pianis dilanjutkan dengan karya Tobor (1961) yang dimainkan oleh pianis Gema Swaratyagita asal Surabaya, kita diajak melihat bagaimana awal mula penulisan seorang Slamet Abdul Sjukur.

SAS1Sedari awal, bagaimana ia mengeksplorasi warna dan karakter terlihat. Kabut yang diangkat dari sajak Sugiarto Sriwibowo, hidup dalam pendekatannya yang melodius dan iringan yang cenderung minimal namun mampu memberi makna pada keindahan dan nuansa tekstual tembang puitik yang ditampilkan. Kabut seakan sungguh turun di ruang pertunjukkan kemarin.

Karya untuk piano Tobor juga sedemikian terbesut dalam suasana yang sering disebut Slamet sebagai minimax, minimal dalam modal dan menghasilkan efek yang maksimal. Tergambar sedari mula bagaimana sang komponis yang kini menjadi anggota Akademi Jakarta ini menjelajah magnet dari nada demi nada membentuk permainan melodi yang berakhir pada klimaks lewat permainan motif yang berulang-ulang. Suasana yang sederhana tergambar lewat pengembangan bunyi hingga masuk dalam harmoni yang terkesan sederhana namun didasari dorongan yang kuat.

SAS5Slamet pun dalam keisengannya melihat fenomena handphone yang mewabah di tahun 1998 juga mengeksplorasi bunyi mulut yang terbuka dan tertutup. Erangan hingga gumaman yang tertahan berpadu dengan improvisasi fonetik serta kata-kata kalimat carut-marut yang ia susun. Gema sebagai suara perempuan dan Slamet memainkan karunding, menjelajah seni panggung dan bebunyian karunding yang sekedar krek, twang, dan klutuk dipadu kata-kata yang acak.

“Haaalooo…”, kalimat bermakna aneh berbahasa Jawa macam “bawang kok diiris nganggo udel” dan bahkan makian “ngent*t”, ia hadirkan untuk membuktikan bahwa musik dan suara manusia tidak seharusnya terbelenggu pada kaidah makna dalam bahasa. Musik pun sebenarnya bisa tersusun dari bebunyian tanpa makna bahasa namun sebenarnya bergerak di ranah fonologi, yang sebenarnya menempatkannya dalam garis ambigu yang semakin memperluas pemaknaan oleh pendengar. Itulah eksplorasi yang ia bawakan dalam “Gelandangan” dengan sepatu sebagai media ekspresi.

Selanjutnya, Slamet kini ditemani oleh Aisha Pletscher dan Aksan Sjuman membawakan karya Game-Land 5 (2012) yang merupakan refleksinya akan musik gamelan Indonesia dan Debussy yang mengaku dipengaruhi musik gamelan. Dalam karya tiga bagian ini harus dikatakan suguhan kali ini sangat kuat, bagian pertama “Biarkan Bunyi Berbicara Sendiri” Slamet duduk menemani sunyi, memainkan ritme dan beragam bunyi tepuk tangan, kemanak dan mulut. Suara-suara tepuk tangan yang ia ambil dari gerongan/paduan suara gamelan ditarik oleh komponis yang selama 14 tahun hidup di Prancis ini dari konteksnya dan membiarkannya berbunyi secara mandiri tanpa konteks budaya yang sering mengikatnya.

Aisha pun kemudian memainkan aliran nada dan nuanasa dalam “Sungai” yang ditulis untuk piano. Lantunan nada berulang menggambarkan gemercik air, bercampur jadi satu dan hidup, beragam tapi hanya terdiri dari modal yang sedikit. Keheningan dan garukan langsung pianis di atas senar piano terasa bergetar kuat. Senar pun beresonansi hebat ketika rangka piano dipukul beraneka dengan telapak tangan, membawakan pesan yang seakan berasal dari kejauhan, bersih dan kotor bercampur dalam nada yang mengalir seakan tiada pernah berhenti. Repetisi nada piano pun menjadi metafora yang sangat kuat akan esensi Sang Sungai ini.

Di bagian tiga “Seandainya”, Gong Ageng Jawa menyatu hebat dengan Aksan Sjuman seorang perkusionis dan komponis. Dan sungguh satu gong besar itu seakan berbicara di tangan Aksan dalam ragam suaranya. Di telinga, Gong yang selalu berperan penting dalam gamelan mengerang, berbisik, mendesah dan berdentang di tangan Aksan duduk membelakangi penonton menghadap gong besar yang terletak di tengah panggung. Berbeda dengan beberapa penampilan karya ini di mana seringkali sang pemain tidak mampu menjalin komunikasi dengan alat musik yang dianggap sakral ini, Aksan sungguh menjadikan gong itu bagian dari ekspresi dirinya. Tentunya ini tidak akan terjadi tanpa rasa respek yang besar dari komponis dan pemain akan instrument musik ini.

Setelah ketiganya undur, Ensembel Gamelan Kyai Fatahillah pimpinan Iwan Gunawan asal Bandung ini kemudian duduk mengambil tempat di depan panggung untuk menyanyikan karya yang ditulis untuk ensemble suara laki dan perempuan “Tetabeuhan Sungut yang membawakan Gamelan dan konteks musiknya ke dalam ranah seni suara. Karya yang memenangkan musik terbaik di Festival de la Musique Folklore tahun 1976 ini bermain ritmis riang yang sering menjadi idiom pemain gamelan ketika belajar gamelan. Laras slendro ia pakai bersama senggakan suara untuk membentuk sebuah bangun utuh yang riang dan seru dan proporsional. Sebuah keindahan yang tersendiri.

Sebagai penutup, para pemain gamelan ini berpindah mengambil posisi di depan alat masing-masing dengan lembar partitur di muka untuk memainkan Game-Land 1 (2003), karya Slamet yang mengeksplorasi musik baru gamelan dalam citarasa Eropa. Potensi perkusif gamelan dijelajah dengan bunyi yang sama sekali berbeda namun di satu sisi mencoba mengukur dan meniru kompleksitas musik gamelan lewat notasi barat. Memang di satu pihak karya ini melambangkan pergerakan maju musik gamelan yang bereksplorasi namun di satu sisi mencoba mempertahankan akarnya. Seruling sunda yang ditiup terbalik lantas diikuti dengan ketok palu di atas kendang, garukan diatas kulit kendang. Ciri khas SAS dalam membina repetisi dalam konsep minimaks yang menciptakan tensi dalam pergolakan ritmis yang monotn tapi terus bergerak, kehadiran sinden di paruh akhir karya ini yang menyanyikan pelafalan vocal semakin menambah pekat karya ini namun memberi semburat yang berbeda akan alam suara.

Sungguh, karya-karya Slamet Abdul Sjukur tidak bisa dipandang sebelah mata. Enam karya yang dibawakan dalam pagelaran ini membuktikan bagaimana Slamet sungguh adalah komponis dan tentu saja layak menjadi seniman yang patut disegani. Pembawaannya sebagai pribadi yang cenderung ramah dan sama sekali tidak menandakan ia telah berusia 79 tahun dan seniman yang memiliki konsep yang sedemikian kuat. Ya, ia adalah seorang seniman dan pemikir yang telah berkontribusi bagi lingkungannya. Dan pertunjukan semalam sungguh menjadi gambaran bagaimana musisi kita selayaknya merayakan Slamet Abdul Sjukur dan berlaku adil pada kualitas dan sumbangsihnya untuk musik Indonesia.

SAS4

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Tentang Pemikiran Slamet Abdul Sjukur | A Musical Promenade
  2. Rajutan Bunyi Slamet Abdul Sjukur | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: