Kabar Terkini

Guzman, Proses Menunjukkan Kelas


Guzman2Suara alat musik tiup kembali berkumandang diiringi denting piano. Viviana Guzman, dalam hembusan nada flute bermain diiringi permainan piano Mahani Teave, keduanya seniman asal negara Amerika Latin Chile. Ini adalah kali kedua Viviana dan Mahani mampir di Usmar Ismail Hall setelah Oktober 2012.

Viviana dan Mahani memilih untuk membuka konser dengan alunan Prelude no.1 dari Bach Well-Tempered Clavier I yang diadaptasi menjadi lagu Ave Maria oleh Charles Gounod. Dan kemudian dilanjutkan dengan permainan piano Mahani Teave yang adalah Steinway Artist yang mengecap pendidikan musik di Hans Eisler Music Academy Berlin, dengan permainan karya-karya pujangga piano Frederick Chopin, Polonaise No.1 op.26 dilanjutkan dengan karya yang tidak kalah populer di kalangan pianis, Scherzo No.1 op.20.

Mahani Teave pun secara kental sudah menunjukkan permainannya sebagai seorang solois dengan teknik yang ulung. Permainannya yang menonjolkan sisi maskulin dari Chopin tidak berlarut-larut tenggelam dalam sentimentalisme yang berlebihan, namun terkesan tanggap dan responsif. Proyeksinya yang membahana mampu mengisi ruang auditorium berkapasitas 430 orang hingga keujung-ujungnya. Memang terkadang terasa permainannya agak tergesa, namun kepiawaiannya memilah nada dan alur suara menjadikan permainannya lebih bervariasi walau nafas bisa menjadi satu masalah tersendiri.

Di sisi lain sebelum menutup babak pertama, Viviana kembali ke atas panggung dan memainkan karya Franz Schubert, Introduction & Variations D.802 untuk flute dan piano. Jujur saja kali ini performa keduanya agak kurang maksimal walaupun permainan mereka sangat musikal. Guzman yang telah aktif bermain di 118 negara ini agaknya belum mampu memaksimalkan potensi alat musiknya. Kontrolnya pada warna nada pengkalimatan agaknya sedikit terhambat, alhasil permainannya seringkali timbul tenggelam di balik derai denting piano. Telisik punya telisik, ternyata flute yang ia mainkan bukanlah milikinya sendiri yang ternyata rusak sehari sebelum penampilan malam Selasa ini. Tidak heran, sebab tidak ada instrumentalis yang dapat mengetahui dan menaklukkan satu alat musik yang baru ia pegang hanya dalam satu malam.

Guzman1Di babak kedua, tampil kelompok flute asal Jakarta, JakFlute yang dimotori flutis Marini Widyastari dan Metta Ariono. Delapan belas orang flutis didukung satu fagotis dan bass klarinetis bermain di bawah abaan Metta Ariono dalam memainkan karya komponis yang banyak menulis untuk khasanah musik flute, F.A. Doppler Hungarian Fantasie yang semula diperuntukkan untuk flute dan piano. Barisan flutis terdiri dari flute, flute alto dan fagot dan bass klarinet memainkan aransemen dari bagian piano untuk mengiringi Viviana sebagai solois flute.

Jujur saja permainan malam ini menjadi ciri khas Jakarta dan kebanggaan komunitas pemain flutenya. Secara umum memang permainan bisa lebih tergarap dalam hal artikulasi. namun tentunya ini sangat mengandalkan gaya permainan ensembel dan dalam ensembel instrumen sejenis dengan pemain sebanyak itu, memang diperlukan perlakuan yang tentu saja tidak sederhana, terlebih soloisnya pun juga instrumen yang sejenis. Bisa saja sang solois yang memainkan melodi malah tertutup bunyi-bunyian pengiringnya. Namun demikian, JakFlute sudah menampilkan yang terbaik. Mengumpulkan 20 orang flutis di Jakarta untuk bermain bersama adalah sebuah hal yang teramat langka dan komunitas ini berhasil mengeksekusinya.

Kemudian Viviana dan Mahani kembali ke panggung untuk memainkan karya Himno Rapa Nui yang didedikasikan untuk mengenang raja Chile di abad prasejarah yang membangun patung-patung besar moai yang misterius di Kepulauan Christmas. Permainan Mahani pada piano yang cenderung sederhana mampu memberi ruang bagi Viviana untuk mengeksplorasi nada dan suara lebih lanjut.

Setelah itu sebagaimana dua tahun lalu, Viviana Guzman yang adalah alumnus Julliard School dan juga pemain di Houston Grand Opera, dan New World Symphony di Miami, kembali mengenalkan berbagai seruling di seluruh dunia yang dikoleksinya. Dari seruling ganda asal Indian yang mampu memainkan dua nada bersamaan, sampoña yang mirip seperti panflute yang terbuat dari bambu yang khas pegunungan Andes Amerika Selatan, hingga seruling Irlandia dan seruling giok asal Tiongkok dimainkan bergantian oleh Viviana. Mahani pun juga mengiringi dengan mengetuk-ngetuk piano, menghasilkan ritme yang beragam, sekali tenang sekali tangkas. Sebuah display yang menarik untuk menambah khasanah bebunyian penonton yang hadir malam itu.

Konser pun ditutup dengan karya pendek yang menekankan permainan gaya latin dalam flute yang mampu dimaksimalkan oleh kedua musisi malam ini. Keduanya bermain lebih lepas dan ekspresif di babak kedua ini. Musk & Mascara yang ditulis oleh G. Schocker khusus untuk Viviana mengeksplorasi milonga dan tango dalam balutan tango nuevo. Komponis Chile, S. Berchenko, juga ambil bagian dalam karya Dar y Recibir Son Lo Mismo dan kemudian ditutup dengan irama tarian bersemangat El Choclo karya A. Villoldo. Penonton pun terkesima dan keduanya memainkan Czardas karya Vittorio Monti yang dengan maksimal menonjolkan kepiawaian Guzman dalam mengelola rangkaian nada cepat dengan sedemikian musikal dan terukur. Dibuat awalnya untuk biola, kejelian dalam mengeksekusi menjadi kunci dan Viviana mampu memaksimalkan potensi karya tersebut

Ya, malam ini malam yang spesial. Jujur saja jarang resital flute terdengar di Jakarta. Flute sering menjadi anak bawang, walaupun diminati cukup banyak orang. Kehadirian Viviana Guzman dan Mahani Teave tentunya mampu mengobati kerinduan publik Jakarta akan sebuah pagelaran musik flute. Dan terlihat sebagai seorang seniman kelas dunia Viviana tidak tunduk pada kondisi instrumen yang ada. Terdengar di sepanjang resital, ia berproses bersama flute pinjamannya tersebut dan dalam waktu satu jam lebih itu terdengar bagaimana perlahan ia semakin nyaman dan bersuara semakin baik dengan instrumen sementaranya ini. Dan dari itu saja sudah membuktikan kelasnya.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: