Kabar Terkini

Instrumen yang Mengganjal Musik Baru


~terinpirasi dari video yang dishare oleh cellist Rachman Noor dan pianis Aisha Pletscher

Berapa banyak dari kita pernah mendengar betapa berharganya instrumen historis? Nama-nama seperti Stradivarius, Guarneri, dan banyak pembuat instrumen bersejarah lainnya kita dengar. Berapa banyak dari kita juga bermimpi untuk memiliki instrumen yang kualitasnya baik dan tidak jarang mahal harganya?

Di tengah mosi kita untuk mengembangkan musik dan tekniknya, seringkali komponis dan musisi merentang ke batas. Untuk menghasilkan bunyi baru yang unik, tidak jarang instrumen dimainkan dengan cara yang tidak tentu lazim. Harpa dipukul-pukul, piano dipasangkan baut pada senarnya, klarinet ditiup sekencang-kencangnya, hingga gong yang dibunyikan lalu dicelup kedalam sebaskom air. Ya, semuanya dilakukan untuk mendapatkan efek suara yang berbeda dari instrumen biasa yang kita kenal.

Perlakuan pada instrumen yang demikian bisa jadi memang membuat stress yang berbeda pada instrumen tersebut dan stress ini memang seringkali tidak dipersiapkan oleh sang pembuat instrumen ketika ia merancangnya. Penulis masih ingat ketika Nino Wijaya, klarinetis, di penghujung tahun 2012 ketika memperdanakan karya komponis Matius Shan Boone, berkata, “Wah siap-siap, reed klarinet pecah…” menunjuk pada sebilah kayu seukuran jari kelingking di bagian mulut instrumen tiup itu, “Setiap main karya Matius harus siap, ” sembari tersenyum ke arah sang komponis yang kini sedang menuntut ilmu di Jerman dan duduk tidak jauh.

Ini baru berbicara soal reed yang memang bisa bongkar pasang. Bagaimana dengan badan instrumen yang kini semakin tidak lepas dari eksplorasi para komponis. Tidak jarang dari piano hingga contrabass badan instrumen dipukul-pukul untuk menghasilkan suara yang unik. Alat tiup pun bisa jadi dipukul, ya demikian adanya.

Tapi memang itulah kenyataannya. Dan untuk negara berkembang seperti Indonesia, harga instrumen berkualitas dan perlengkapan pendukungnya seringkali cukup berharga secara nominal uang. Belum lagi instrumen kuno yang bisa seharga jutaan dollar, seperti biola Guarneri dan Stradivarius, yang tentu saja sangat mahal untuk ukuran musisi manapun. Sehingga tidak jarang musisi ini dipinjami instrumen oleh bank, pemilik modal dan kolektor yang memiliki instrumen itu bukan sebagai instrumen musik, tetapi sebagai instrumen investasi.

Karena kondisi instrumen yang tidak murah terlebih di Indonesia, tidak jarang musisi kita sangat menyayangi instrumen mereka. Dan yang patut dicatat adalah hal ini ternyata kontraproduktif dengan eksplorasi musik baru dan instrumen yang banyak dilakukan oleh para komponis modern saat ini.

Banyak instrumentalis yang menghindari bermain musik baru yang menurut mereka “aneh-aneh” dan “bisa ‘merusak’ instrumen”. Jujur saja, seringkali instrumen malah menjadi tameng bagi mereka yang memang secara pribadi tidak mau mengeksplorasi musik baru, dengan alasan ‘sayang instrumen’. “Wah kalau main lagu ini, bow harus hairing lagi,” ujar seorang pemain biola sembari menunjuk penggesek biola yang rambut-rambutnya menjuntai putus.

Di kesempatan lain, banyak instrumentalis yang memiliki lebih dari satu alat akhirnya selalu memilih instrumen cadangan yang lebih rendah kualitasnya untuk dimainkan dalam pagelaran musik baru. Sepertinya ini adalah cara mereka berjaga-jaga agar instrumen andalan mereka tidak terzalimi oleh teknik-teknik extended – sebagaimana teknik eksplorasi lanjut ini disebut. Alhasil ini adalah membatasi kualitas suara yang mungkin bisa dihasilkan dalam musik itu, karena memang instrumen yang digunakan adalah kelas dua.

Di sisi lain, tidak banyak kita melihat para pemain instrumen mahal kelas dunia berani dan mau mengeksplorasi musik baru di atas instrumen ribuan dan jutaan dolar mereka karena memang khawatir kerusakan dan mungkin bisa berbalik merugikan mereka.

Banyak instrumentalis yang dipinjamkan instrumen oleh bank dan kolektor harus menandatangani kontrak bahwa instrumen ini harus dikembalikan tanpa sedikitpun cacat dan seringkali yang terjadi adalah instrumentalis ini akhirnya tidak berani mengambil resiko untuk memainkan karya-karya dengan extended technique. Dan apabila mereka mendapat kesempatan kesempatan bermain karya seperti ini, mereka akan mengeluarkan instrumen kelas tiga atau bahkan empat mereka. Daripada harus mengganti rugi, pilihan ini adalah pilihan yang paling masuk akal.

Berpanjang-panjang seperti ini sebenarnya hanya sedikit kisah bagi semua untuk melihat kembali peran instrumen musik dalam kehidupan para musisi. Instrumen yang sebenarnya adalah alat kekuatan bisa saja menjadi batu sandungan bagi perkembangan musik baru. Terlebih dengan perilaku para instrumentalis yang sebenarnya bisa dimaklumi. Memang ini adalah intrikasi dari mindset musisi dan komponis, para pembuat instrumen dan bahkan pemilik modal.

Dan bagaimana mereka memandang musik baru dan eksplorasi kita ke dunia baru, seringkali membatasi publik dari hak mereka untuk mendapatkan yang terbaik. Bisa jadi, mindset mereka inilah yang menentukan perkembangan musik seni, dari hal yang sesederhana memilih instrumen yang dimainkan.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: