Kabar Terkini

Menemukan Kembali yang Terlupakan


Oser1Sepasang suami istri mencari kembali cinta yang telah hilang. Membutuhkan sebuah itikad buruk dan sebuah perjalanan yang tidak disangka-sangka ke kota bagi keduanya untuk menemukan kembali makna cinta yang menghidupi keluarga mereka. Memang cinta pada akhirnya akan menemukan caranya sendiri untuk tinggal di hati mereka yang terbuka.

Itulah sepenggal kisah yang diangkat dalam film bisu buatan tahun 1927 “Sunrise: A Song of Two Humans” yang diangkat kembali ke layar Usmar Ismail Hall Sabtu malam ini. Dengan musik gubahan Pierre Oser, film yang disutradarai oleh sutradara kebangsaan Jerman F.W. Murnau ini dieksplorasi bersama oleh Capella Amadeus dan Oser sendiri sebagai konduktor yang bertugas memberikan ilustrasi musik atas film yang berkarakter ini. Film ini pun secara istimewa juga memenangi 3 Academy Award di tahun 1929 di antaranya Penghargaan Produksi Artistik dan Unik. Tidak heran, materi film ini memang disuguhkan secara cerdas, cantik dan berselera.

Pierre Oser kembali ke Jakarta setelah pagelaran “Nosferatu” dengan genre yang sama dua tahun lalu, yaitu musik gubahan baru untuk film bisu, menggubah dengan cantik. Dalam karyanya kali ini, terlihat bagaimana ia menggunakan penempatan waktu sebagai modal utama dalam menggubah. Ketepatan eksekusi waktu pun selalu bertepatan dengan garis besar film berdurasi 95 menit ini.

Oser yang adalah komponis yang spesialis menggubah musik film bisu secara khusus tidak terjun pada gaya penggubahan kaya efek yang lebih marak digunakan di musik film saat ini. Hal ini terlampau sulit apabila eksekusinya dilakukan secara hidup (live) seperti malam ini. Pergeseran satu-dua detik bisa saja menjadikan efek tersebut tidak berarti, terlebih dengan durasi film yang sedemikian panjang ini semakin besar resiko tidak sinkron yang mungkin terjadi. Alhasil memang terkesan sang komponis melewatkan beberapa detail film yang di mata penonton signifikan tanpa pergerakan di musik yang kontras. Namun, agaknya alasan pragmatis praktis cukup dapat dipahami.

Karya Oser yang ditulis tahun 2004 ini mampu membentuk atmosfer keseluruhan film yang sungguh beragam. Perpaduan disonansi dan melodi yang mudah diingat membuat karya ini mampu mengetengahkan pergolakan emosi yang terjadi di layar lebar. Kecerdasan komponis dalam mengolah idee fixee yang lekat dengan sang tokoh wanita desa dalam rangkaian nada yang ear-catching patut diacungi jempol, demikian juga tema nuansa gelap yang didentikkan dengan solo piano dalam oktava yang berdentang dalam. Semuanya dipadu dengan seksi tiup yang beberapa kali tampil menggoda dan sesekali tegas.

Oser2

Capella Amadeus pun yang kini tampil cukup lengkap dengan seksi tiup yang direduksi bermain dengan luwes. Sebagaimana yang kita kenal dari Capella Amadeus, orkes pimpinan Grace Sudargo ini memiliki seksi gesek yang solid. Solidnya seksi ini juga tergambar dalam warna seksi geseknya yang fleksibel dan walaupun terbatas dari segi jumlah, tetap dapat menaklukkan Usmar Ismail Hall berkapasitas 430 orang di bilangan Kuningan ini. Ini pun ditambah dengan seksi tiupnya yang baru dibentuk yang semakin hari semakin matang.

Walaupun di paruh awal orkes ini terkesan mekanistik, namun lambat laun orkestra terasa semakin campur baur dan menyatu dengan film yang diketengahkan. Ini sangat dimengerti, terutama karena kesulitan dalam musik film yang cukup baku dalam dimensi waktu yang seringkali tidak dapat diulur tarik untuk memaksimalkan ekspresivitas nada, suatu kelebihan yang sebenarnya merupakan kelebihan orkes yang bermarkas di Pondok Indah ini.

Kecenderungan untuk rubato bisa jadi menyebabkan permainan melambat dan telat masuk dibandingkan tayangan di layar. Pada akhirnya memang ini menjadi sebuah tantangan bagi seluruh personel orkestra untuk mampu berekspresi dalam ruang waktu yang seringkali sempit, dan ini bukan tantangan yang mudah. Alhasil dalam paruh pertama seluruh orkes bermain bersih dari segi teknis tapi tidak berbicara banyak untuk film yang ditampilkan. Namun semakin film tersebut bergulir menuju klimaksnya, para pemain pun terasa lebih nyaman bermain di panggung yang gelap dan akhirnya musik yang mereka hasilkan semakin mendukung film. Penonton pun akhirnya dapat menikmat film secara nyaman dan semakin larut di dalamnya, tegang sedih senang bahkan tertawa lepas di dalamnya.

Suguhan unik ini memang cantik. Musik ditempatkan secara fungsional untuk mendukung sinematografi film yang ia iringi. Film pun seakan berperan sebagai sang solois di mana orkestra bermain bersamanya. Capella Amadeus di bawah kepemimpinan Pierre Oser pun tampil mengesankan. Tidak semua orkes mampu bertahan memainkan karya 95 menit ini dengan konsentrasi penuh, namun Capella Amadeus membuktikan kualitasnya di atas panggung malam ini.

Sebuah pagelaran unik yang menumbuhkan apresiasi baru pada seni musik dan sejarah sinematografi dunia. Dan sebagaimana kisah di dalam film, pasangan suami istri kembali menemukan cinta yang telah mereka tanam, demikian juga Capella Amadeus dan Oser menyegarkan kembali hubungan seni musik hidup dengan pesona sinematografi, sebuah bentuk seni yang lama mati suri.

~Senin besok giliran Yogya kedatangan pertunjukan ini. 

 

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: