Kabar Terkini

Belajar Irama Bersama STOMP


Semalam mendapati beberapa kawan-kawan musisi senior mempertanyakan hingar-bingar di Teater Jakarta. Memang lampu berpendar terang, parkiran pun ramai dan penonton memadati pelataran di Taman Ismail Marzuki. Bahkan mungkin ada yang berpendapat bahwa sajian yang telah disampaikan sejak 1 Oktober hingga berakhir di 6 Oktober ini tidak tergolong sajian yang berkualitas.

Tak kenal maka tak sayang. Memang walaupun dikemas dalam sajian teater musikal, STOMP yang lahir di Inggris Raya adalah salah satu terobosan dalam sajian teater musikal. Sebagai sajian yang unik, karya yang ditelurkan dari ide Luke Cresswell dan Steve McNicholas asal Brighton ini bisa dikatakan sebagai sajian teater musikal nirkata yang lengkap. Tidak ada sepatah katapun disajikan dalam pagelaran ini. Semuanya digantikan oleh permainan perkusi yang hidup dan mempesona.

STOMP sendiri sepanjang pagelaran hampir sepanjang dua jam, didukung oleh delapan aktor, penari sekaligus musisi. Mereka menari, dan berakting, memancing tawa penonton lewat peran mereka yang komedik. Namun dibandingkan itu semua, setiap dari kedelapannya adalah musisi yang luar biasa energik dan begitu kuat menularkan semangat pada para penonton yang memadati Teater berkapasitas 1200 orang ini.

Setiap hal dapat menjadi sumber musik, dari tepuk tangan, dada dan tentunya hentakan kaki sebagaimana judul pagelaran ini. Semua yang berbunyi menjadi instrumen bagi kedelapan musisi yang datang khusus dari Australia, Inggris dan Amerika Serikat untuk ikut serta dalam pagelaran yang lahir di tahun 1991 dan sejak saat itu telah menjadi ikon musik teater Inggris. Ya, velg mobil, ember, kaleng cat, bak cuci, sapu hingga drum minyak dan drum air menjadi sumber bunyi yang dipukul-pukul dengan suara yang unik. Pipa berbagai panjang pun menjadi alat yang mampu menciptakan nada. Kotak korek api dan korek api klasik zippo dengan suara kliknya bahkan menjadi atraksi menarik di panggung yang gelap.

Tutup tempat sampah dari kaleng, dengan toya yang dipukul-pukul mereka jadikan alat dan berkolaborasi bersama. Bola basket pun dengan suara pantulannya berpadu dalam irama yang kuat dibarengi hentakan kaki yang bertenaga. Tidak jarang kaleng-kaleng, botol air minuman beterbangan di atas panggung karena sang pemain saling melempar alat-alat ini, sembari terus menjaga sinkronisasi dengan irama yang telah mereka bangun. Kantong plastik pun di tangan mereka menjadi maracas yang mengisi irama musik.

Sebagai sebuah pertunjukan yang selalu berevolusi dan berinovasi sejak awal penulisannya, karya ini selalu mampu mengkolaborasikan berbagai barang-barang sehari-hari baru dalam pagelaran mereka. Alhasil, pagelaran mereka selalu segar dan selalu ada komponen baru di dalamnya. Tahun 2013 lalu saja baru dikenalkan tata gerak dan musik baru dari permainan trolley pasar swalayan yang dipukul-pukul dan dihentak-hentakan, bersama dengan pipa fleksibel dari platik yang berbentuk buku-buku yang sering terdengar seperti suara kodok ketika dibengkokkan.

Dari segi musik, pagelaran semalam adalah pelajaran ritme yang luar biasa. Permainan kedelapan aktor kompleks secara ritme. Belum lagi kolaborasi antar mereka yang apik untuk menyusun ritme-ritme tersebut. Suara hentakan di lantai menjadi tulang punggung acara semalam yang memang hadir tanpa musisi di lantai bawah panggung. Mereka yang bermain di atas panggung adalah musisi-musisinya. Dan tidak tanggung-tanggung, stamina mereka luar biasa untuk pertunjukan yang begitu menantang secara fisik selama 120 menit.

Tidak jarang para pemain mengajak penonton untuk menirukan ritme-ritme tepuk yang mereka lakukan, penonton pun secara antusias menjawab dan meniru. Semua dilakukan dengan senyum di wajah, riang karena terhibur, buah interaksi yang luar biasa antara penonton dan pemain di panggung. Musik pun terdengar dengan unik dan indah, dari irama bossanova, pop motown hingga R n’ B terkesan di telinga. Asyik.

Tata cahaya pun berperan prima dalam membentuk suasana di panggung pertunjukan satu babak selama hampir 2 jam tanpa istirahat ini. Pengaturan lampu ini semakin memperkuat efek dramatis musik dan hentakan yang mereka hasilkan. Pengaturan tata suara di atas panggung pun juga tidak kalah baik, semua detail pukulan di tubuh, gemersik kertas koran dan pasir yang bergesek dengan sepatu terdengar jelas. Tanpa kerja baik dari tata suara, mustahil pagelaran kemarin mampu dinikmati dengan paripurna.

Akhir cerita, STOMP bukan sekedar pertunjukan, tapi adalah pertunjukan yang mengajarkan bahwa musik ada di mana saja. Instrumen pun bisa ditemukan di mana saja selama kita mau mengeksplorasinya. Selama kita hidup dalam irama, demikian juga musik akan mengalir bersama kita, tidak perlu mewah-mewah. Tangga besi pun bisa jadi alat musik. Musik ada di antara kita selama kita mau mendengar.

Sorak-sorai penonton semalam membuktikan bagaimana para pemain berhasil mengajarkan hal yang sedemikian mendalam dengan alat yang sederhana. Tapi tentunya dengan pertunjukan yang penuh semangat dan energi yang luar biasa macam ini.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: