Kabar Terkini

Obat-obatan dan Seniman, Lumrah?


~setelah membaca http://www.telegraph.co.uk/culture/tvandradio/11041804/Addicts-Symphony-drink-and-drugs-widespread-in-classical-world-says-cellist.html

Tidak sedikit kita mendengar banyak musisi yang ketergantungan obat-obatan, baik sebagai penampil maupun sebagai komponis. Dan sepertinya hal itu bukanlah hal yang jauh dari kehidupan kita saat ini di Indonesia. Harus diacungi jempol bagaimana BBC 4 menyajikan dokumenter ini untuk menggambarkan perjuangan para musisi ini untuk terlepas dari ketergantungan yang telah mengakar dalam hidup mereka, musisi musik klasik yang menghadapi ketergantungan obat.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah memang ketergantungan ini adalah sebuah penyakit yang memang menggerogoti ataukah memang sebuah efek samping dari sebuah dunia yang diharapkan terus menampilkan kesempurnaan.

Sayangnya di Indonesia, sepertinya adalah hal lumrah apabila kita melihat musisi/seniman sebagai manusia yang ‘berbeda’. Pemakluman pada mereka yang bergerak di bidang seni bisa jadi begitu kental di masyarakat kita, seakan seniman itu adalah mereka yang hidup asketik untuk mencapai kesempurnaan hidup. Seringkali demistifikasi seni malah dianggap sebagai perendahan dari seni sendiri.

Orang seni itu harus ‘nyeni’ dan ‘aneh’, dari hal yang sederhana seperti gaya berpakaian hingga temperamen yang meledak-ledak. Dan tidak jarang kita memaklumi apabila musisi kecanduan obat, apalagi musisi pop rock yang sering diberitakan keluar masuk penjara dan rehabilitasi.

Profesi musisi di atas panggung seringkali bisa disejajarkan dengan profesi seorang atlet. Pekerjaan mereka mengandalkan kehandalan fisik, stamina, fokus pikiran dan kecerdikan berpikir. Sebagaimana atlet menempa diri selama latihan, pemusik juga menempa diri tiada henti dalam latihan selama puluhan jam seminggu untuk mengenal tubuh dan menjadikan permainan musik bagai berlari di lintasan yang menguras tenaga fisik dan mental.

Di saat penampilan pun demikian. Bagai dalam pertandingan, musisi juga dituntut bermain sempurna setiap waktu. Mengeluarkan segenap tenaga untuk mengeluarkan ilmu dan keterampilan untuk mengesekusi karya, tidak jarang adrenalin pun meningkat. Tidak heran apabila banyak musisi yang tidak bisa tidur cepat setelah penampilan karena memang adrenalin masih mengalir deras.

Perbedaannya mungkin lebih kepada perlakuan terhadap musisi dan olahragawan. Olahragawan secara profesional dituntut untuk bersih dari bantuan obat-obatan. Badan anti-doping bekerja untuk mengambil sampling dan menentukan apakah atlet tersebut bersih dari obat-obatan yang dapat meningkatkan performanya. Tidak jarang gelar juara dilepas dari seorang atlet karena tertuduh doping.

Terlepas dari kontroversi yang juga muncul dalam pemberantasan doping, semisal tebang pilih dan juga lobi-lobi dari petinggi olahraga, agaknya inisiatif macam in yang sebenarnya tak pernah muncul di dunia seni, itupun apabila memang dunia seni ingin membersihkan diri dari penyalahgunaan obat-obatan. Tidak ada lembaga yang ditujukan untuk memonitor penggunaan obat-obatan dan bahkan memberikan perhatian khusus untuk pemulihan kecanduan musisi-musisi ini.

Kini pun di Jakarta, di kalangan pemusik juga telah muncul beberapa lembaga pendidikan seni dan musik yang berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Di salah satu institusi pendidikan seni di ibukota, adalah sebuah kewajaran melihat botol-botol bir bertebaran di lingkungan kampus. Di satu institusi lain, juga dikenal bahwa lulusan dari institusi tersebut pasti pernah terjerat dalam penyalahgunaan obat-obatan. “Kalo dari sana sih, yang dulu bersih pun pasti pernah pake dan jadi kebiasaan di sana,” ungkap seorang musisi muda yang dekat dengan lingkungan tersebut.

Ketergantungan ini seringkali bukan dikarenakan faktor rekreasi namun lebih kepada tuntutan dunia profesional musisi yang menuntut mereka untuk tampil sempurna setiap kali dan produktif dalam mencipta, sebuah tekanan dunia pekerjaan yang cukup berat.

Yang jadi pertanyaan adalah seberapa masyarakat musik kita memaklumi ini dan menjadikan sempurnanya performa musisi yang dibentuk oleh ketergantungan obat sebagai sebuah kewajaran. Redefinisi apa yang lumrah dan tidak lumrah adalah suatu aktivitas yang perlu dilakukan dan disepakati bersema.

Karena apabila tidak ditangani secara benar, bisa jadi kita hanya menyanjung performa semu manusia, sebuah manipulasi atas kemajuan intelektualitas dan budaya kita. Karena sebenarnya tanpa bantuan obat-obatan itu, sebenarnya kita tidak bisa apa-apa. Bisa jadi…

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: