Kabar Terkini

Ragazze dan Khasanah Kuartet Gesek Baru


Membesut sejarah repertoar untuk kuartet gesek, Ragazze Quartet asal Belanda membuka konser di gedung pertunjukan tertua di Jakarta dengan bagian pertama Allegro con brio karya L.v. Beethoven String Quartet op.18 no.6 yang merupakan salah satu dari 6 karya kuartet geseknya yang pertama. Kental dengan nuansa klasik, warna sang guru Haydn dalam teknik peneulisan kuartet gesek masih sangat kental dalam karya ini. Cello membentuk garis bass dipadu viola merajut ritme dan harmoni sesekali dibantu biolin 2. Di sisi lain biolin 1 mendapat sorotan utama sebagai pembentuk garis melodi, sembari didukung biolin 2.

Konser pun dilanjutkan dengan karya komponis Ceko Antonin Dvorak. Kali ini dengan dua bagian pertama dari String Quartet op.106 dalam G Mayor, kuartet yang beranggotakan Rosa Arnold (biolin 1), Jeanita Vriens (biolin 2), Annemijn Bergkotte (biola) dan Kirsten Jenson (cello) ini terlihat menarikan melodi-melodi indah dalam irama tari-tarian yang segar dari sebuah negara yang di masa Dvorak menjadi bagian dari kerajaan Austria. Suara gesek menjadi lebih tebal dan serasa hidup dalam semangat nasionalisme Dvorak.

Namun suguhan utama sebenarnya adalah permainan kuartet ini akan karya-karya komponis modern. Kuartet yang baru berusia dua tahun dan ditempa di Netherlands String Quartet Academy (NQSA) ini menampilkan kecermelangan karya Philip Glass untuk film Dracula dalam bentuk kuartet. Dalam kesederhanaan terlihat bagaimana Philip Glass dengan ciri khas musik minimalisnya mampu menciptakan kecekaman. Kuartet ini mampu memberi makna pengulangan motif yang membentuk suasana statis yang mengikat pendengarnya, pergerakan tonalitas sesekali membuat karya ini seakan bergerak semu. “Bagaikan air yang terus mengalir di benak”, itulah ungkapan Glass ketika menuliskan sebuah karya. Dan dalam formnya yang beragam itulah ada satu alur yang seakan mengikat dan menghantui pendengar. Di sanalah Dracula menjadi hidup di dalam musik Glass.Ragazze1Sajian kemudian beralih pada karya kuartet komponis Bohemia Erwin Schulhoff. String Quartet no.1 dibawakan secara lengkap oleh kuartet ini. Penuh dengan teknik lanjutan pada instrumen gesek, Schulhoff dengan menjelajah bentukan suara baru dari instrumen gesek yang biasa kita kenal. Harmonik, yang menjelajah nada-nada tinggi terdengar halus berbisik lirih. Karyanya terkesan atonal namun berdaya hidup. Walaupun bukan nama komponis yang populer, karya ini menunjukkan bagaimana komponis kelahiran 1894 ini berada di garis depan pada masanya. Dan presisi Ragazze Quartet inilah yang memungkinkan karya ini terdengar kokoh dan meyakinkan.

Selanjutnya, penjelajahan dilanjutkan pada 6 Esquisses de Jazz yang merupakan salah eksperimen komponis ini akan musik jazz yang telah mewabah di AS. Schulhoff sebagai salah satu yang pertama dari komponis Eropa yang bereksperimentasi dengan musik jazz kemudian menciptakan 6 buah karya pendek yang didasarkan pada ritme dan modalitas jazz. Rag, Boston, Blues, Tango dan Black Bottom adalah beberapa gaya yang ia adopsi dalam musiknya. Alhasil, dipadu dalam kerangka komposisinya yang kaya disonansi, musiknya di satu titik menjadi perpaduan kebebasan jazz dengan formalis musik Eropa. Jazz namun bukan murni jazz. Pendekatan komponis yang menjadi korban kamp konsentrasi NAZI yang mengutamakan warna sesekali menyerupai karya-karya Aaron Copland, namun dibingkai dalam permainan ritme yang kaya dan intrikasi disonansi membuat karyanya berada di cakrawala yang berbeda dari banyak rekanan sejamannya.

Konser pun ditutup dengan karya Bats from Hell yang ditulis oleh Chiel Meijering. yang berawal dari kesunyian yang perlahan-lahan tersilap. Kelelawar-kelelawar dalam ketenangan perlahan-lahan terbangun dari tidurnya dan terbangun hingga klimaks di akhir karya ketika ribuan kelelawar terbang menerjang keluar dari mulut gua. Penonton pun bertepuk dan dibalas oleh kuartet muda ini dengan sebuah sajian encore pendek dari Elgar Salut d’Amour.

Ragazze Quartet yang didatangkan Erasmus Huis ini memang masih berusia sangat muda, begitu pula dengan usia anggotanya. Namun demikian keempatnya telah menunjukkan kematangan teknik yang luar biasa dan intonasi yang tak bercacat, bahkan di bagian-bagian tersulit sekalipun. Permainan mereka yang presisi sedemikian cocok untuk membawakan karya-karya abad 20 dan 21 lengkap dengan eksplorasi warnanya. Kerja sama pun apik tertata di antara keempat musisi wanita ini.

Namun demikian, kematangan bermusik dalam menyeimbangkan tensi dan relaksasi perlu lebih diasah, sedemikian juga kemampuan mereka dalam mengolah saat, terutama dalam karya-karya romantik dan klasik yang membutuhkan pendekatan yang intuitif akan rubato dan konsep waktu. Waktu menjadi begitu penting, terutama karena ruang Gedung Kesenian Jakarta bukanlah ruang yang secara akustik mudah ditaklukkan oleh sebuah kelompok gesek berempat apalagi ketika ingin menciptakan kobaran hasrat yang menggebu dalam musik. Dan nyala musik itu dapat semakin terbentuk sejalan dengan waktu, terutama karena perlunya penyesuaian Kirsten yang relatif baru beberapa bulan saja bergabung dengan kuartet ini.

Dan urusan waktu, rata-rata pemain usia 25 tahun dan baru saja 4 tahun bermain bersama, mereka masih dalam tahap awal menempa diri menjadi kuartet yang semakin tangguh dan berkarakter. Perjalanan karir mereka pun baru saja dimulai.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: