Kabar Terkini

Making Impact: Menciptakan Dampak


Istilah ini memang tidak biasa, entah karena memang tidak dikenal dalam khasanah ke-Indonesia-an, namun memang kita bisa jadi kita tidak mengenal istilah ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Akhirnya pun, jangan heran bahwa memang pandangan hidup dalam kehidupan berkesenian pun tidak banyak menyentuh aspek dampak.

Sejalan dengan perkembangan romantisme seni di abad-19, memang pandangan bahwa seni berdiri untuk dirinya sendiri seperti yang tercermin dalam istilah Theophile Gautier “l’Art pour l’art” atau “Art for art’s sake” mewabah bagi banyak orang terlebih di kalangan pekerja seni. Banyak penciptaan dan pementasan karya seni pun akhirnya cuma berhenti di sisi seni sudah diciptakan atau pementasan usai. Tidak ada tindak lanjut apapun karena keyakinan Sang Seni yang akan berbicara dalam bentuknya yang transenden.

Keyakinan seperti ini sebenarnya tidak pernah salah dan sah-sah saja diadopsi oleh banyak pihak. Namun seringkali dengan distorsi kekinian, yang terjadi adalah pembiaran yang merupakan bentuk ketidakpedulian dari seniman pada para penikmat seni dan ekosistem seni. George Sand, sastrawan Prancis, bahkan di tahun 1872 sudah mengungkapkan bahwa istilah “l’art pour ‘art” adalah sebuah jargon kosong yang malah membatasi apresiasi seni dan bahkan menurut Walter Benjamin mengasingkan aspek sosial dari karya seni itu sendiri.

Selain itu, kita semua melihat dewasa ini penikmat seni seringkali hanya dianggap sebagai konsumen seni, sebuah akibat sampingan dari adanya sebuah karya seni. Dan sayangnya lama-kelamaan mereka hanya jadi sekedar obyek dari pementasan dan penciptaan. Pada titik ekstrim, yang terjadi adalah kegilaan “Anda telan saja, yang penting Anda bayar…” yang akhirnya benar-benar meminggirkan peranan ekosistem dalam berkesenian dan mengutamakan azaz Duit dalam berkesenian.

Aspek dampak dan keinginan untuk “creating impact” seringkali harus kita gali secara lebih mendalam. Jujur saja dalam budaya pop, dampak seringkali tidak pernah dijelajahi oleh para pelakunya, mungkin kecuali dampak popularitas dan dampak finansial. Namun bagi mereka yang mengaku diri sebagai pekerja seni, ketika mereka tidak mampu memperluas dampak dari proses berkesenian, sebenarnya tidak ubahnya mereka dengan industri.

Kemiskinan pola pikir menjelajahi dampak sebenarnya adalah kemiskinan visi dari proses berkesenian itu sendiri. Ketika rasionalisasi adalah bagian dari kebiasaan kita saat ini di dunia modern, ketidaksadaran akan dampak dapat terwujud dari kekerdilan visi yang dianut. Padahal apabila ditelusur dengan menyeluruh, pengetahuan akan dampak apa yang ingin kita ciptakan dapat membantu kita mewujudkan bentuk presentasi seni macam apa yang ingin kita raih serta-merta metodenya.

Memang bagi banyak pihak yang mengkritisi penggunaan istilah ini bisa jadi berpendapat bahwa penciptaan seni dengan paradigma ini hanya berorientasi pada hasil. Seni bisa jadi dianggap harus mewujud di lingkup hasil itu. Bisa jadi ada benarnya, namun kesadaran akan bahaya ini sebenarnya mampu menghindari terperosoknya kita dalam materialisme.

Kepercayaan bahwa seni memiliki potensi untuk mengejawantah dalam dirinya sendiri dapat memperkuat representasi dari seni itu sendiri. Tapi tidak dapat ditepis bahwa dengan kesadaran akan dampak, seni bisa diarahkan tidak untuk mengalienasi dirinya dari kenyataan di sekitarnya, dan tidak hanya berhenti sampai di situ saja, tapi sungguh menjadi sebuah titik pemicu untuk sebuah perubahan dari hal yang paling personal hingga bahkan apabila diperluas dapat membawa gelombang perubahan dan pergerakan di masyarakat.

Sudahkah kita berpikir untuk berdampak? Creating impact untuk para penikmat seni yang setia?

 

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: