Kabar Terkini

Gloriamus, Terjadilah Terang!


phonto(1)Setelah tahun lalu menampilkan oratorio ternama Messiah karya G.F. Handel, kini giliran salah satu oratorio besar zaman klasik akhir yang ditampilkan oleh barisan pemusik Yayasan Gloriamus. “The Creation” karya F.J. Haydn dengan segala kemegahannya ditampilkan malam ini di Aula Simfonia Jakarta.

Sebagai sebuah karya oratorio yang menginterpretasikan kembali kisah penciptaan dalam Alkitab, karya ini menjadi salah satu tonggak dalam penciptaan musik klasik terutama musik komponis Franz Joseph Haydn di akhir abad 18. Ditulis tahun 1796-1798, salah satu dari dua oratorio Haydn ini dibentuk menjadi 3 babak dan dinarasikan oleh tiga orang solois soprano, tenor dan bass yang masing-masing mengambil peran sebagai tiga malaikat yang menceritakan kisah pasal pertama dari seluruh kitab suci Kristen, sembari diselingi renungan-renungan. Paduan suara mengambil tempatnya diiringi bagian orkestra yang besar dan mengandalkan harpsichord untuk mengiringi banyak bagian resitatif. Haydn sendiri mengungkapkan bahwa karya ini menjadi ungkapan keimanannya sekaligus pencapaian dan kerja kerasnya yang menggarap karya ini relatif lama.

Penampilan malam ini sungguh dihadirkan oleh dua paduan suara yang bahu membahu membentuk musik malam itu, Jakarta Festival Chorus dan Gloria Dei Cantores. Penggarapannya terasa mendalam dan menggetarkan pendengarnya, setiap corak dan motif mendapat perhatian yang cukup sehingga paduan suara terdengar hidup dan terasah. Artikulasi pun terucap dengan jelas, dan sigap menggambarkan kemegahan karya ini, dari detail terkecil hingga arsitektur besar. Walhasil, penampilan semalam memancarkan keindahan, kematangan dan ekspresi batin yang sulit untuk ditiru. Beberapa kali terasa bahkan orkes terbawa oleh penjiwaan paduan suara gabungan ini. Tentunya ini tidak lepas dari peran sentral chorusmaster kedua paduan suara yang juga berperan sebagai solois tenor malam ini, Ndaru Darsono yang tampak menggarap paduan suara ini dengan sungguh.

Namun sayangnya peran Ndaru sebagai solois malaikat Uriel malam itu agak di bawah performa. Walaupun tampil dengan pendekatan yang memadai dan proyeksi yang cukup, Ndaru tampaknya secara fisik tampil kurang fit. Beberapa kali pada nada-nada tinggi, ia kesulitan untuk memancarkan suaranya yang dikenal cemerlang. Mungkin ini menjadi satu perenungan bagaimana beratnya menyeimbangkan tanggung jawab seorang pelatih paduan suara dengan beban yang juga harus dipikul sebagai seorang solois. Dan agaknya keseimbangan itu
belum tercapai dalam penampilan malam ini.

phonto(2)Sylvia Wiryadi sebagai solois soprano berperan sebagai malaikat Gabriel, tampil dengan warna yang cerah dan pendekatan yang cenderung beragam. Beberapa kali terdengar pendekatannya yang menyerupai pendekatan menyanyi teater musikal, ada kalanya sungguh romantik dan terkadang lincah meliuk-liukkan suara dalam melisma-melisma. Walaupun interpretasi bisa jadi tidak tentu menyenangkan setiap penonton, namun kehadirannya di panggung mampu menyedot perhatian. Diksinya yang jelas mampu membuat para penonton ingin mendengarnya lebih lanjut.

Bila diksi soprano Sylvia Wiryadi menjadi sumber kekuatannya, ini bukanlah yang terjadi pada Ferry Chandra, penyanyi bass yang berperan sebagai malaikat Rafael. Kekuatan, wibawa dan staminanya dalam seluruh karya sangat patut diacungi jempol, namun penghayatannya yang khas bel canto Italia bisa jadi bukan perpaduan yang tepat untuk karya dari komponis Austria di akhir abad-18. Penonton dalam karya besar macam ini sangat bergantung pada peran setiap vokalis dalam meramu konsonan yang jelas dan mudah ditangkap. Barisan paduan suara menuntaskan tanggung jawab dengan paripurna, namun harus pula diimbangi peran Ferry yang cukup sering memegang peranan narator. Musikalitasnya sungguh terasa natural, namun akan lebih mantap apabila diimbangi dengan kematangan diksi dan ketepatan intonasi, terlebih karya yang dibawakan kali ini dalam terjemahan berbahasa Inggris, dan bukan bahasa aslinya, bahasa Jerman.

Joel Navarro sendiri sebagai pemimpin seluruh barisan pemusik malam itu. Instruksinya tersampaikan dengan jelas dengan pendekatannya yang cenderung akademis. Ia pun memimpin orkes Gloriamus Philharmonia dengan cukup mendetail, namun membuka kesempatan untuk seluruh pemain orkes untuk berekspresi lebih jauh yang hari ini mampu dimaksimalkan oleh flutis Marini Widyastari yang tampil cemerlang malam itu. Memang kematangan orkestra yang sebenarnya sudah cukup padu ini masih menjadi sebuah tugas yang perlu diperhatikan khusus, dengan waktu latihan yang lebih untuk menyeimbangkan warna suara dan ketepatan eksekusi yang harus dikembangkan sejalan waktu. Meskipun demikian, orkes malam ini mampu menghadirkan suasana yang dibutuhkan dan menjadi daya dukung yang baik untuk perangkat solois dan paduan suara.

Navarro berhasil menjahit karya yang cukup kompleks ini menjadi kesatuan, sebuah usaha yang besar. Dengan latar belakangnya sebagai pemimpin paduan suara berprestasi di Filipina, profesor musik di Singapore Bible College ini dengan sigap dan terkontrol menjadi penunjuk jalan yang dapat diandalkan untuk seluruh orkes dan terutama paduan suara. Presisinya yang luar biasa dan kemampuannya memberi ruang suara memampukan paduan suara untuk berekspresi. Abaannya pun terbukti nyaman bagi para vokalis malam itu, dan tentunya mampu menggerakkan seluruh orkestra yang terdiri dari profesional dan amatir.

Sebuah malam yang memang terbukti beda dari yang lainnya. Dan “The Creation” malam ini pun pada akhirnya mampu membawa orang-orang yang hadir di sana dalam perenungan, tentang keagungan dan makna hidup. Dan seruan paduan suara, “And God said, Let there be light! And there was light” masih berdengung di telinga malam ini.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

3 Comments on Gloriamus, Terjadilah Terang!

  1. I was given the link to your blog the morning after the performance. I was only able to have it translated passably with the help of Google Translate.

    Good of you to come and make a review of the performance. I would be eager to do the same for you if I happen to be around in Jakarta during one of your performances. Conductors reviewing each other is fair game, like iron sharpening iron, so I owe you one at my own choosing in a medium which I think would be honorable for men and women of good will.

    I was quite pleased with the end result of my brief time with the orchestra and chorus. While one may decry the yawning lack of homogeneity of experience and expertise in the orchestra–aspiring students, teachers, and seasoned professionals–another may see it as a developing organism which needs proper nurture and guidance through years of training, cohesive playing, and thoughtful and intentional planning and development as a resident orchestra, not as an orchestra of transients. The expectation for it to perform as professionals is unfortunate as it is disingenuous. A more charitable expectation is deserving.

    If the translation is accurate, I would love for you to disambiguate what you wrote as “an academic approach” to the music, whereas in the next paragraph you wrote that I gave ample room for the choir to be expressive with the music. Certainly, a dry reading of the score would not have made room for such expression to take place.

    I hope I didn’t mishear when I learned that you were slated to conduct that same orchestra in the future. I regret that I will miss that opportunity to witness that performance. I wish you good music and the opportunity to inspire young hearts and minds who are bereft of good models of sublime music, transcendent beauty, personal integrity, and depth of the human spirit.

  2. Hi Joel, nice to hear from you and I am honored that you are visiting my blog. On the “academic approach”, i was referring to the gesture and body language you practiced which is very clear and yet robust. And it is not meant anything near derogatory. On the contrary, it is very appropriate for the music of Haydn which is strongly structured, expressive yet not overly melancholic.
    I myself as a conductor was surprised how you have strongly formed the orchestra despite the limitations of rehearsal time that you certainly experienced. As a novice conductor, I have yet to work hard bring that sound quality of yours out which you might have do it with such at ease… Thank you, Cheers!

  3. Very kind of you to write back, maestro, and with gracious words even. I thank you kindly. I am grateful for your explanation and hope that I may do you the honor of writing a review for one of your concerts. I think it important for all conductors to develop an attitude of sharing such as we now have embarked, albeit in cyberspace, in a profession Jose Antonio Bowen, editor of the Cambridge Companion to Conducting, calls as secretive. Hearty wishes for success and deep fulfillment on all your musical endeavors this year!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: