Kabar Terkini

Antologi: Melihat ke Belakang untuk Maju ke Depan


Rabu lalu (21 Okt) merupakan hari pembuka dari Pekan Komponis Indonesia 2014 yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Dan secara khusus, hari pembuka tersebut dibaktikan bagi para komponis senior lewat ” Progres Antologi Musik Klasik Indonesia”. Antologi Musik Klasik Indonesia sendiri adalah sebuah mimpi besar Dewan Kesenian Jakarta untuk secara aktif mengumpulkan dan mengorganisasikan khasanah musik klasik Indonesia dalam sebuah seri buku yang ditulis secara kritis oleh para ahli. Usaha ini sendiri adalah sebuah usaha untuk memulai melestarikan musik klasik bergaya barat yang ditulis oleh komponis Indonesia sedari awal abad 20 yang lalu.

Harus dikatakan bahwa definisi musik Indonesia seringkali hanya ditilik dari satu sisi. Seringkali publik terjerat dengan pandangan bahwa musik Indonesia adalah musik tradisi dalam kondisinya yang paling murni. Padahal acap kali musik Indonesia adalah musik yang terbentuk sejak 1928 ketika pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda dan mengidentifikasi diri sebagai orang Indonesia yang bersatu. Dan semenjak saat itu sebenarnya musik Indonesia pun juga punya faset lain, yaitu faset yang bersentuhan dengan musik barat namun ditulis dengan perspektif seorang Indonesia, sebagaimana seorang W.R. Supratman yang menuliskan dan memainkan Indonesia Raya dalam peristiwa bersejarah tersebut dengan biolanya – sebuah alat musik dan bentuk musik yang sedemikian barat namun diakui bersama sebagai harta bangsa ini.

Dan seri pertama sebuah buku musik klasik untuk vokal yang ditulis oleh komponis Indonesia, seperti Binsar Sitompul, Ismail Marzuki, Trisutji Kamal, dan nama-nama besar musik seriosa Indonesia diterbitkan malam itu. Malam ini sendiri menjadi sebuah pelaporan atas hasil kerja Dewan Kesenian dan para ahli yang dilibatkan baik musisi maupun musikolog serta para komponis senior atas pengumpulan karya-karya musik insan bangsa Indonesia, sebuah proses yang telah dilakukan secara kontinu sejak 2 tahun terakhir.

Malam ini pun dilanjutkan dengan resital mini musisi-musisi ibukota yang mempersembahkan beberapa karya musik kamar klasik yang ditulis oleh komponis nusantara, yang akan menjadi buku kedua dari seri antologi musik klasik ini. Beberapa karya telah terkumpul dan disunting, sebagaimana dilaporkan oleh sekretaris DKJ Komite Musik Budi Utomo Prabowo. Dan malam ini merupakan sedikit intipan atas karya-karya musik instrumental yang akan diterbitkan dalam antologi tersebut, setelah tahun lalu semua telah mengintip karya-karya vokal seriosa dari buku yang resmi diterbitkan malam ini.

Penampilan malam itu didominasi oleh alat musik gesek, sebuah alat musik yang telah terlebih dulu matang dan dikenal bangsa ini secara lebih luas. Alhasil karya musik kamarnya pun juga cenderung lebih banyak. Sebagai pembuka tampil pianis Teo Minaroy bersama pebiolin Arie Irvan Harjakusumah memainkan karya pendek “Jali-jali” aransemen Nusjirwan Lesmana dan Mochtar Embut. Keduanya bermain dengan hidup, diselingi dengan pause yang jenaka dari kedua musisi muda garapan Sekolah Musik YPM ini. Arie Irvan pun memaksimalkan potensi permainannya dramatik nakal lewat slur dan cengkok yang khas dari permainan almarhum Nusjirwan Lesmana yang menjadi baku dalam warna Jali-jali yang berimbuhan mat keroncong di atas piano.

Pertunjukan pun dilanjutkan dengan permainan Suita Dolanan karya Mochtar Embut yang tahun ini merayakan hari jadinya yang ke-80. Kali ini giliran Yani Listiyani dan Celine Ayunda Meirani yang mengambil tempat sebagai pebiolin dan pianis.  Keduanya bermain dengan  membumi, Celine pun mengambil tempat sebagai pengiring yang cukup tertata sedang Yani mampu membangun nuansa dengan begitu pekat. Gesekan mantan concertmaster Twilite Youth Orchestra ini menunjukkan permainannya yang bersih dengan presisi yang tinggi namun mampu membuat penonton tersontak dan hanyut dalam kefasihannya bermain impresi dan karakter dalam karya empat bagian ini.

Pro Art String Quartet juga tampil dalam penampilan ini membawakan karya komponis Amir Pasaribu, Hikayat Mas Kluyur. Mereka pun memainkan dua bagian dari empat bagian komposisi ini. Pebiolin Hery Sunarta, Ali Hanapiah dan pebiola Safrudin Mangkunegara dan cellis Handiawan memainkan karya yang terbilang tidak mudah ini. Permainan mereka walaupun secara umum ekspresif, namun nampak ketidaknyamanan dalam kelompok yang berdiri hampir 2 tahun ini. Hal tersebut bermula dari ketidaktepatan intonasi yang menyulitkan pemain untuk menyatukan suara dan intensi musik mereka. Penggarapan yang lebih tentunya akan lebih mengena.

Resital ini pun akhirnya ditutup dengan karya juga dari Amir Pasaribu, Suita Cello Piano yang menggambarkan perjalanan Amir Pasaribu di negeri tirai bambu. Dimainkan oleh cellis Asep Hidayat Wirayudha dan pianis Hazim Suhadi, karya ini terkesan kaya dengan impresi. Gesekan cello Asep terdengar membahana dibarengi permainan cantik dari Hazim yang bermain di latar. Karyanya seakan bernafas dengan leluasa dan hidup walaupun intensi musikalnya bisa lebih tergali dengan deklamasi yang lebih lepas dan terarah.

Malam itu menjadi sebuah pelaporan, sebuah bentuk progresi akan apresiasi musik klasik tanah air dan atas prestasi dan kerja keras para komponis pendahulu kita. Dan alangkah nyata niatan Dewan Kesenian Jakarta untuk mendokumentasikan musik klasik tanah air dalam bentuk musik kamar, sebuah kekayaan Indonesia juga yang seringkali terlupakan bahkan oleh penggerak-penggerak musik klasik nusantara. Sebuah upaya untuk menyadari kekayaan bangsa untuk semakin memajukan budaya bangsa.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: