Kabar Terkini

Organisir Pertunjukan Ala Warteg


Seberapa sering kita melihat gaya organisasi dan pertunjukan konser? Manager panggung, kerja direktur teknis, penanggung jawab acara, leading officer, MC bahkan hingga penata suara dan penata lampu semua bahu membahu untuk menyukseskan sebuah acara. Tidak lupa penampil yang tampil di atas panggung. Namun kenyataannya sering kali tidak demikian di Jakarta.

Bayangkan lebih dari seratus orang yang perlu dilayani dikelola dan diarahkan. Semua dikelola seharusnya bagaikan sebuah restoran cepat saji, dengan ratusan hingga ribuan penonton duduk dan menikmati acara, sedangkan didalam puluhan pihak bekerja dengan terstruktur dan rapih.

Nyatanya: Gaya Warung Tegal
Namun kenyataan yang sering kita lihat di lapangan adalah kita masih sering menemukan gaya pengelolaan yang lebih mirip Warung Tegal.

Ada dua orang duduk di depan counter, sesekali satu dari mereka ke belakang memasak, sesekali mencuci piring, sesekali melayani tamu dan menyendokkan makan. Jam makan siang pun datang dan para pelanggan datang untuk menikmati santap siang. Ramai biasanya, namun warung-warung tipe ini hanya bisa melayani 2 pelanggan sekaligus dengan kisaran 10 orang yang sibuk santap di warung kecil ini. Apabila pelanggan membludak, tentunya perlu cara lain, entah panggil tetangga atau mungkin menyiapkan porsi makan sebelum para pelanggan datang. Belum lagi dengan pesanan ekstra untuk dibawa pulang. Ramai sedikit, yang ada malah kelimpungan.

Serunya di dunia pertunjukan musik pun pernah kita temui yang tidak jauh berbeda. Gaya manajemen panggung resital 2-7 orang tentunya berbeda dengan gaya manajemen panggung orkestra lengkap dengan paduan suara, pemusik orkestra, solois, 2 konduktor dan seabreg pendukung acara lainnya dari tata panggung, tata suara, tata lampu. Lucu bagaimana total-total 120 orang pendukung acara hanya diatur oleh dua orang. Dua orang untuk jaga pintu masuk kiri dan kanan saja sudah tidak cukup.

Absennya Kerendahan Hati
Namun yang paling menarik adalah apa yang akan terjadi apabila bahkan dua orang perpanggungan itu sama sekali tidak mengerti apa yang akan seharusnya terjadi di atas panggung sebuah pagelaran musik simfonik? Ini memang bagaikan seorang pekerja warteg tersesat di dapur sebuah restoran Mc**nald’s. Tidak tahu harus mencuci bagaimana, bagaimana menggoreng kentang dan serentetan pekerjaan lainnya. Lebih-lebih lagi apabila tidak dibarengi dengan kemawasan diri untuk meminta bantuan dan bertanya pada mereka yang lebih mengerti untuk mengajari ataupun langsung membantu mereka mengerjakan pekerjaan tersebut.

Pastinya banyak hal yang tidak tertangani dengan baik. Penataan panggung sebuah orkes saja bisa jadi carut-marut, tata panggung menjadi tidak logis. Tidak ada rundown yang diinformasikan kepada seluruh perangkat penampil. Tidak ada briefing bagi para pendukung acara, tidak ada signal masuk dan keluar dari seluruh pendukung acara. Kru panggung tidak jelas musti bagaimana, penyerahan bunga dan apresiasi tidak rapih. Tidak ada lead officer untuk semua pendukung acara. Bahkan stage manager tidak ada bayangan ataupun bocoran berapa banyak encore yang disiapkan sang bintang malam itu. Mungkin saja sang kepala staf tidak perlu mengerti detil hal teknis, tapi perlu sekali mereka punya gambar jelas bagaimana acara tersebut akan berjalan lengkap dengan seluk-beluknya. Jelas-jelas saja tanpa visi, pertunjukan musik kelas provinsi pun seakan turun kelas jadi tontonan panggung RT.

Kita Punya Ahlinya
Di sisi lain, sebenarnya banyak orang-orang seni kita yang mengerti dan dapat membantu, tapi diperlukan sungguh kerendahan hati bagi mereka yang ingin belajar dan mengarahkan. Meminta pertolongan dari para musisi berpengalaman adalah suatu hal yang biasa dan mampu dibicarakan, banyak dari seniman kita juga bukan orang yang perhitungan soal uang. Namun lagi-lagi meminta dan bertanya adalah hal yang paling esensial. Apabila diminta dan diberikan penjelasan dengan benar kita semua yakin bahwa banyak pekerja seni yang sungguh ahli yang bersedia membantu.

Kalau ingin melihat prakteknya di lapangan, penampil pun bisa jadi merangkap ini dan itu di belakang panggung yang tentunya sah-sah saja untuk sebuah pagelaran kelas kecil menengah. Tapi untuk sebuah pergelaran besar, kasus ini adalah sebuah kebiasaan buruk dan pertanda belum matangnya penyelenggara. Pun bisa jadi ada indikasi mis-manage apabila penyelenggara sama sekali tidak terpikirkan langkah penanganan teknis macam ini dan atau parahnya terpikirkan namun memandang remeh hal ini.

Singkat cerita, penyelenggaraan mentah macam ini terselamatkan oleh mereka kebetulan yang mengerti dan sungguh mencintai seni itu sendiri dan tidak tega pergelaran tidak berjalan dengan lancar dan mengorbankan para penontonnya. Mereka-mereka ini yang akhirnya turun tangan dan membereskan hal-hal yang sebenarnya diluar lingkup kerja mereka. Dan tentunya kealpaan penyelenggara macam ini menjadi preseden buruk bagi mereka yang bekerja di dapur, yang melihat proses berantakan ini secara langsung – sebuah catatan yang bisa dipetik dan diingat kedepannya.

Dan pada akhirnya komentar, “Wah pendukung acaranya pintar, bisa jalan sendiri.” tanpa campur tangan pihak penyelenggara dan tanpa penyelenggara memberikan skema yang lengkap adalah bukti inkompetensi dan barangkali indiferensi penyelenggara tersebut.

Sudah saatnya penjaga warteg mengupgrade diri, dan belajar beroperasi.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: