Kabar Terkini

Selangkah Lebih Maju


Amadeusbrass3Goethe Institut kembali bekerja sama dengan Yayasan Amadeus untuk mengetengahkan konser kedua mereka dengan barisan tiup logam. Brassissimo adalah tajuk konser malam ini yang diadakan di Goethe Haus di bilangan Menteng Jakarta. Diadaptasi dari sebutan Bravissimo yang digunakan untuk memuji pertunjukan yang indah, Brassissimo menjadi sebuah identitas baru bagi yayasan sekaligus sekolah musik yang memiliki barisan orkes gesek yang solid di ibukota ini.

Sebagai bentuk jalinan kerja sama, Goethe kembali mendatangkan musisi muda Jerman untuk menjadi pengajar residen di Amadeus selama satu semester, dan melatih barisan peniup logam (seksi brass) yang akan memperkaya Capella Amadeus sebagai sebuah orkes. Kali ini, adalah trombonis muda Jan-Phillipp Walter yang didatangkan khusus untuk mengajar dan membina barisan tiup di tahun ini.

Malam ini, Amadeus mengetengahkan tiga buah format tiup, Amadeus Brass Ensemble yang dibentuk tahun lalu dan digawangi personil-personil senior gesek orkestra Amadeus, Amadeus Mini Brass Ensemble sebagai barisan muda pemain tiup dan Amadeus Brass Quintet. Jan Philipp Walter sendiri tampil sebagai solois trombon maupun konduktor ensembel ini.

Ditilik dari sisi repertoar, malam ini suguhan cukup beragam, dari karya Enrique Crespo “Trumpets of Jericho” hingga karya “Fly Me to the Moon” karya Bart Howard yang populer. Konser sendiri dimulai dengan “Trumpets of Jericho” dan saduran dari bagian kedua Largo dari Symphony no.9 Antonin Dvorak yang dimainkan oleh Amadeus Brass Ensemble. Selanjutnya Walter tampil solo dalam karya Carl-Maria von Weber “Romance for trombone and piano” bersama pianis Lilian Lenggono. Kepiawaiannya berimajinasi dengan trombonnya terlihat dalam aksi solonya lewat karya A Witches Spell dari Andrew Duncan. Karya Moskau, Moskaudari Dschingis Khan menutup babak pertama.

Babak kedua dibuka dengan Suita for Brass Quintet yang diangkat dari karya komponis Norwegia Edvard Grieg dan diaransemen oleh Alan Civil. Amadeus Brass Quintet turun memainkan karya yang hidup ini, sebuah adaptasi dari karya-karya pendek Grieg untuk piano. Terlihat bagaimana kematangan kelompok lima pemain tiup ini mulai terbina dan kompak. Warna dan artikulasi terlihat dengan cukup jelas dan rapih. “Fly Me to The Moon” pun dibawakan dengan santai, walaupun masih terasa bagaimana kuintet ini agak sedikit sulit untuk keluar dari pakem klasik mereka yang seakan sudah mendarah daging dalam permainan mereka. Alhasil walaupun penonton merasakan warna jazznya namun swingnya belum sepenuhnya terasa dengan padat pembawaan aransemen Jack Gale ini.

Amadeusbrass2Selanjutnya “Intrada” karya Friedemann Schaber dan “In The Hall of Mountain King” karya dari Peer Gynt juga oleh Grieg dalam versi relatif pendek dibawakan oleh generasi muda pemain brass di Amadeus, Amadeus Mini Brass Ensemble. Setidaknya walaupun disebut mini sebenarnya kelompok ini sudah mulai mampu membawakan karya-karya yang sedikit lebih panjang dan menantang. Mereka pun juga memainkan karya Eine Kleine Nachtmusik dari W.A. Mozart yang diaransemen H.U. Nonnenmann. Berikutnya kembali Amadeus Brass Ensemble tampil untuk menutup acara lewat potongan karya untuk dua paduan suara “Denn Er hat seinen Engeln” dari Felix Mendelssohn dan Gypsy Brass yang gegap.

Dari sisi permainan, Jan-Philipp nampak mampu memimpin kelompok peniup keluarga trompet ini dengan cukup luwes. Gayanya yang komedik pun mencairkan suasan konser yang cukup formal ini. Permainannya sebagai solois pun terdengar mempesona dengan kontrol yang luar biasa. Mudah bagi trombon untuk bersuara keras namun ia berhasil mengimbangi permainan Lenggono yang cenderung terlalu halus dan atmosferik. Namun demikian dalam keterbatasan volume itu Walter masih mampu memastikan seluruh kalimat dan intensi musikal tersampaikan dengan tepat dan menggugah.

Sebagai seorang pemimpin, Walter mampu menunjukkan aspek permainan brass Amadeus Brass Ensemble yang semakin matang di tahun kedua berdirinya. Permainan mereka cenderung musikal dan punya warna tersendiri yang cukup kokoh dan berkarakter. Artikulasi permainan pun mulai terbentuk, sedemikian juga dengan tekstur permainan yang mulai tergarap. Walaupun masih ada kekurangan seperti problematika attack yang bersih oleh seluruh pemain. Konsistensi warna nada sungguh terasa, walaupun belum sampai pada taraf padu satu.

Intonasi memang menjadi catatan tersendiri. Permainan ensembel ini bisa dikatakan sudah cukup matang, bahkan lebih matang dari banyak ensembel serupa di Ibukota yang jumlahnya pun memang masih sedikit. Intonasi pun walaupun belum sepenuhnya sempurna sudah mengalami banyak kemajuan. Walaupun secara keterampilan tidak sepenuhnya merata namun kekurangan ini dibayar lunas dengan pendekatan musikal mereka yang bertanggung jawab. Hal ini juga mengingat bahwa instrumen tiup ini bisa jadi instrumen mereka yang yang kedua bahkan ketiga dan bukan prioritas utama, tapi tetap mampu menyampaikan pesan yang meyakinkan.

Namun demikian, pencapaian Amadeus sejauh ini sungguh patut diacungi jempol. Sedemikian juga dengan komitmen Goethe Institut untuk mendatangkan pemain profesional Jerman untuk tinggal di Jakarta dan mengajari instrumentalis ini. Dan tentu saja apabila terus digarap, adalah keniscayaan apabila Amadeus juga memiliki barisan tiup logam yang solid. Dengan kerja sama dan kerja keras dari semua pihak hal tersebut bukanlah hal yang jauh di awang-awang.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: