Kabar Terkini

Dari Hati untuk yang Terkasih yang telah Tiada


TerraVoce2Kematian dan kehidupan setelah kematian adalah sebuah misteri yang luar biasa bagi kita yang masih hidup dan berziarah di dunia ini. Kematian menjadi sebuah titik akhir sekaligus juga awal baru bagi mereka yang mempercayai kehidupan setelah kematian. Namun demikian kehidupan baru adalah sebuah keniscayaan bagi mereka yang ditinggalkan di dunia ini, sebuah hidup terlepas dari insan yang bersentuhan dengan kehidupan kita itu.

Itulah yang sungguh tergambar dalam karya Misae pro defunctis yang ditulis oleh Benyamin Franklin Manumpil yang diperdanakan di hadapan penonton di Graha Swara di Universitas Tarumanegara Sabtu malam ini. Bersama ensembel vokal yang dipimpinnya, Terra Voce Music Consort dan organis Darmawan Soesilo, Benny menjelajah naskah suci dari ritus gereja Katolik yang diperuntukkan untuk mendoakan mereka yang telah pergi mendahului kita. Dituturkan dalam bahasa Latin, karya ini bukan hanya bersentral pada doa duka namun juga pada pengharapan dan iman. Kisah penghakiman akhir di hari kiamat, sebuah ungkapan eskatologis menjadi bagian sentral dari naskah ini.

Di tangan Benny yang sempat mengenyam pendidikan di bidang musik di Sekolah Teologi Jakarta, naskah ini menjadi ungkapan yang hidup yang bertutur dari kedalaman hati. Terasa bahwa di malam itu, naskah ini bukanlah untuk menangisi mereka yang telah meninggal, bukan pula untuk mengingatkan akan kegemparan di penghujung dunia, tapi sangat sarat ungkapan untuk merayakan kehidupan dari mereka yang telah tiada.

Kengeriaan Dies Irae dan seruan Libera me, tidak menghapus keindahan Absolve Domine dan kerendahan hati Agnus Dei yang mengalun lembut. Karya BFM kali ini di satu sisi seakan mengetengahkan miniatur cantik dalam tradisi musik paduan suara modern bercampur dengan kepiawaiannya mengolah paduan suara dengan nomor solo, duet, trio hingga sextet yang bertanya jawab dengan paduan suara. Dalam 16 nomor yang cenderung pendek, semuanya berkisah dengan intim bagi pendengarnya, kesemuanya disatukan dengan kesetiaan pada teks yang murni. Alhasil, dengan segala kelebihan maupun kekurangan, karya ini seakan menjalar dengan alami dan berbincang dengan hangat bagi para pendengarnya yang mengingatkan akan kenangan yang ditinggalkan oleh yang terkasih. Darmawan Soesilo pun mampu dengan cerdik mengelola suara lewat organ elektroniknya yang semakin menambah drama dan keanggunan karya yang ditulis di tahun 2014 ini.

Konser sendiri dibuka dengan nomor-nomor musik dari himne klasik Inggris yang membentuk atmosfer kekhusyukan. Paduan suara duduk dalam setengah lingkaran, sedang penonton duduk mengelilingi mereka. “O Strength and Stay” dari komponis John Dykes di abad 19, dipadu dengan tutur “Let Thy Merciful Ears O Lord” dari Thomas Weelkes dari abad 16.

Sejak nomor-nomor awal ini terlihat bagaimana Benny yang juga mengolah barisan tenor dan bass dengan teliti. Kedua seksi ini terdengar fasih namun fleksibel, kekayaan warnanya seakan setia dengan tradisi paduan suara kepulauan Inggris yang khas dan terus terjaga hingga masuk dalam bagian Missae pro Defunctis. Balans pun terjaga dengan baik antara barisan pria ini dengan seksi sopran dan alto.

Namun dalam nomor “Hear My Prayer O Lord” dari komponis barok Henry Purcell, terlihat bahwa tidak semua anggota, terutama di barisan wanita memiliki konsep yang kuat akan eksekusi interval. Dalam karya yang mengutamakan polifoni ini, penguasaan interval adalah bagian yang krusial untuk menjaga stabilitas karya. Kecenderungan sopran untuk berada di bawah intonasi yang seharusnya agaknya berpengaruh pada kegamangan paduan suara. Alto pun harus memilih diantara menjadi pendukung sopran yang baik, ataupun memihak pada kejernihan barisan pria. “Surrexit Pastor Bonus” dari komponis Netherland School di masa renaisans Orlando di Lassus dan “Abide with Me” dari William Sterndale Bennett yang menjadi tajuk konser malam ini tergarap dengan mengedepankan warna paduan suara tradisional yang taat pada pakem penggarapan zamannya.

TerraVoce1Instabilitas intonasi sayangnya terus terasa dari karya Purcell hingga bagian Missae yang di banyak tempat mengandalkan gesekan disonansi sebagai bagian dari ekspresi. Presisi yang menjadi titik kunci emosi karya seringkali kurang tergarap dengan maksimal, sebuah hal yang agaknya disayangkan untuk sebuah karya yang membutuhkan keajegan paduan suara dan. Spektra warna yang sebenarnya ingin dihasilkan oleh sang komponis lewat intrikasi tone itu agaknya belum tergarap paripurna, sebuah tantangan yang memang sulit untuk paduan suara manapun.

Sedikit catatan adalah mungkin bagaimana paduan suara dituntut mampu memproyeksikan karya dengan baik, terutama di bagian solo. Tantangan ini sendiri dijawab dengan mengesankan oleh Benny sendiri dalam satu nomor dalam Missae, namun belum semua anggota mampu memproyeksikan diri sebagai solois yang mampu menyedot perhatian penonton. Di lain pihak, perhatian pada akustik juga harus menjadi yang utama, terlebih dengan baragam warna musik yang disajikan. Bahkan dalam nomor-nomor Misa Requiem, terasa kental bahwa komposisi pun dibuat dengan berbagai konsepsi ruang yang berbeda yang sebenarnya harus dijawab oleh para penampil malam itu dengan pendekatan yang berbeda.

Namun demikian, tepuk tangan dan senyum menghiasi seluruh penonton yang menghadiri konser di malam Minggu ini. Terlepas dari kekurangan yang ada, persembahan malam ini sungguh terasa tulus dari hati para penyanyi dan pemusik yang duduk melingkar malam itu. Dan musik yang jujur dari dalam hati, suara dari mereka yang yang hidup di dunia ini demikian nama Terra Voce diambil, beresonansi dengan para pendengarnya, musik terlontar dari hati.

 

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Dari Hati untuk yang Terkasih yang telah Tiada

  1. Terima kasih untuk reviewnya, sangat membantu untuk kemajuan kami dalam menyuguhkan konser berikutnya untuk menjadi lebih baik

  2. Amin… Semoga ya… Kmrn juga sudah baik sekali…🙂 selamat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: