Kabar Terkini

Requiem, Sebuah Penyerahan


d'angelicRequiem Aeternam membahana kembali malam ini. Kali ini di Gereja Bunda Hati Kudus Kemakmuran, doa-doa arwah dilambungkan paduan suara D’Angelic Choir. Kali ini D’Angelic Choir memerdanakan karya Requiem yang lahir dari tangan sang chorusmaster Levi Setiadi.

Dibuka dengan sebuah hentakan dan sayup lembut paduan suara, Levi yang juga memimpin paduan suara D’Angelic berjumlah 45 orang ini mengingatkan penulis akan kelembutan Requiem dari Faure yang perlahan tumbuh menjadi kuat. Ya, itulah yang terjadi semalam. Musik yang digubahnya meresapkan kuat dramatisasi kengerian yang menerjang. Pujian perlu disandangkan pada Darmawan Soesilo yang kembali berada di balik Electone Stagea menjelajah beragam bunyi dan warna untuk membentuk suasana kalut yang menghadang. Permainannya yang sigap dan bernuansa menjadikan karya ini mampu berbicara di telinga penontonnya.

Meskipun tidak mengambil formasi lengkap dari Requiem, Levi menitik beratkan pada bagian Dies Irae hingga Lacrimosa yang mengisi 6 dari 9 subbagian komposisinya. Mengeksplorasi power dan bobot, karya Levi secara cerdik menggambarkan drama yang kuat namun secara menarik tidak membuat penonton kelelahan mendengarkan. Pergerakan paduan suara di beberapa titik seakan terinsipirasi dari riff-riff lagu rock yang berulang dan bertenaga.

Suara sangkakala yang menggelegar dalam Tuba mirum dinyanyikan oleh barisan suara pria yang menjadikannya sedemikian kokoh. Keberadaan solo bariton Darwin Liem sungguh memberi corak yang mendalam lewat interpretasinya yang sigap dan konsep yang kuat. Penonton pun terkesima dengan kepiawaian dan proyeksinya yang menyebar di seluruh gedung gereja itu. Di nomor lain, Levi mampu memaksimalkan peran paduan suara wanita dan pria yang sahut-menyahut dengan erat. Sedang Recordare disusun dalam modalitas pelog yang mengindikasikan keIndonesiaan yang liris dan iringan paduan suara diatonis yang hangat.

Bahwa Levi yang kini juga bertugas sebagai chorusmaster Twilite Chorus di bawah pimpinan Twilite Management Addie MS perlahan membawa kengerian dari awal karya hingga ketenangan terlihat lewat duet Elisabeth Ardiana dan Berlian Julyeta pada Lacrimosa. Hingga pada akhirnya ditutup dengan manis lewat Pie Jesu dan In paradisum yang secara mengejutkan menggambarkan ketenangan lewat sejumput irama cak dan cuk kroncong yang sejenak terbersit di telinga. Johnny Nugroho dan Vidya Octaviana juga berperan dalam menjadi solois dalam karya ini. Levi yang adalah lulusan Australian Institute of Music pun memimpin dengan ketegasan dan petunjuk yang lengkap. Paduan suara pun nampak dengan sungguh mengerahkan seluruh tenaga untuk membawakan karya hingga akhir.

d'angelic2Soprano Lauw Kim Fong juga urun suara dalam bagian pertama konser ini. Sebagai solois tamu, Fangfang demikian ia biasa dipanggil, membawakan nomor solo O Divine Redeemer karya Gounod dan juga sebagai solois dalam nomor Kyrie Eleison dari Nelson Mass Haydn yang membutuhkan teknik dan akurasi yang tinggi. Kepiawaiannya dalam melibas melismanya sedemikian musikal, dan suaranya cemerlang terutama di rentang nada tinggi yang mampu menembus paduan suara. Tapi perlu sedikit perhatian lebih terutama dalam proyeksi agar lebih merata diseluruh rentang nada agar jelas tertangkap penonton, menaikkan dinamika hingga 2 tingkat agaknya mampu menjawab tantangan ini.

Dari sisi lain, malam ini juga mengetengahkan sebuah karya Lux Aeterna dari anggota muda paduan suara Jonas Danny. Di usianya yang masih muda, terlihat bagaimana Jonas telah mampu meramu harmoni dengan mendetail, dan membuat paduan suara bertutur dengan indah. Ia pun berani menelipkan warna sahut menyahut dengan interval berdempet untuk mendapatkan efek gelombang pada paduan suara, mengingatkan pada teknik yang lekat pada Whitacre. Sebuah karya pendek yang memiliki kematangan tersendiri.

Konser sendiri dibuka dengan karya Inggris I am Ressurection and Life karya William Croft dan Thou Knowest O Lord karya Purcell yang secara paten menempatkan pengharapan sebagai kunci utama. Dan sebagaimana konser dibuka dengan pernyataan pengharapan, setelah nomor Requiem, D’Angelic Choir yang bermarkas di Gereja Kristoforus Grogol pun menjawab dengan penyerahan diri yang mantap lewat gubahan Levi yang menutup Requiem dengan seruan syahdu amin dan ungkapan yang mendalam, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, Terpujilah nama Tuhan…”

Malam doa, sedemikian suguhan malam ini disebut, juga mempunyai kesan yang tersendiri. Sungguh adalah sebuah kesempatan langka melihat dua world premier Requiem dan Missae pro Defunctis selama dua hari berturut-turut, sebuah karya paduan suara yang sama sekali tidak sederhana. Dan sebagaimana saudara muslimin mendaraskan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” semoga dihadapan kematian setelah mendengarkan karya indah ini, kita bisa dengan mantap berkata, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, Terpujilah nama Tuhan…”

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: