Kabar Terkini

Lewat Messiah Menala Konservatori Musik UPH


UPH1Bisa jadi setiap pergelaran konser “Messiah” dari Georg Frederich Handel merupakan sebuah extravaganza tersendiri. Pementasan ini bisa dikatakan tergolong besar, terlebih apabila kita melihat karya oratorio yang sedemikian monumental ini. Ditulis dalam waktu 24 hari – sebuah kurun waktu yang sedemikian cepat untuk karya sepanjang hampir, karya  yang menurut sang komponis yang hidup di era barok ini diilhami oleh dorongan Ilahi sendiri dan ekstase ini, diselesaikan tanpa tertidur.

Karya inilah yang diambil oleh Konservatori Musik Universitas Pelita Harapan dalam pergelaran mereka besar mereka kali ini. Didukung oleh seluruh civitas akademika, produksi pergelaran kali ini merupakan kerja sama besar yang didukung baik oleh jurusan musik klasik maupun mereka yang mengambil musik kontemporer seperti pop dan jazz. Memang untuk sebuah karya besar seperti ini butuh kerja sama seluruh pihak yang terbukti apik semalam.

Mengambil tempat di Auditorium Gedung D lt.5 Universitas Pelita Harapan, UPH Symphony Orchestra dan UPH Chorus Class membawakan musik selama hampir 1.5 jam lebih ini, 2 babak dari keseluruhan karya Handel sepanjang 3 babak. Dengan libretto ditulis oleh Charles Jennens karya ini banyak berkisah nubuat tentang kedatangan Almasih dan ditutup peristiwa Natal di babak pertama dan ditutup dengan penggenapan nubuat tersebut lewat peristiwa Paskah disematkan di babak kedua. Menarik bahwa libretto ini tidak menyingkap narasi akan kedua peristiwa itu, namun lebih kepada sejumput-jumput kalimat-kalimat dari kitab suci yang berbicara tentang peristiwa itu secara tidak langsung.

Menarik memang bahwa di bawah direktur paduan suara, seluruh mahasiswa jurusan musik dengan non mayor alat musik orkestra diharuskan bergabung dalam paduan suara UPH Chorus Class ini. Banyak diantara mereka bahkan memang lebih berpengalaman sebagai musisi band jazz dan pop dibanding menjalani tarik suara paduan suara, apalagi musik klasik abad 18 ini. Walaupun secara kualitas belum benar-benar merata dan kompak, namun bagaimana paduan suara ini mampu menyanyikan Chorus dari Messiah ini hingga selesai adalah sebuah prestasi tersendiri. Karya ini bukan karya yang mudah, selain panjang juga cukup rumit dengan alur polifoni yang sahut-menyahut, beberapa penuh melisma yang meliuk-liuk dan membutuhkan kelincahan dan kematangan vokal.

Memang apresiasi perlu diberikan kepada beberapa personil yang secara bertanggung jawab memegang tugas sebagai jangkar di tiap kelompok suara yang secara tidak langsung mengarahkan seluruh paduan suara. Ada kalanya memang terbersit harap bahwa paduan suara mahasiswa jurusan musik akan membahana dan lebih baik dari paduan suara amatir lainnya. Namun nyatanya tidak selalu demikian, mahasiswa ini memang sibuk berlatih instrumennya masing-masing dan memang kelas Choir yang dipimpin oleh Helen Hosanna ini sebagai kelas wajib adalah sebuah pembibitan yang berbeda akan bermusik secara kolektif. Sehingga bukan serta merta kualitas paduan suara yang ingin kita lihat di sini, namun lebih sebagai bentuk kelas apresiasi bagi mahasiswa-mahasiswa jurusan musik akan dimensi musik lain yang mungkin belum pernah mereka sentuh sebelumnya.

Tenor Ridolf Hehanussa tampil dengan daya dorong yang tinggi. Dengan semangat, dosen sekaligus dekan Fakultas Ilmu Pertunjukan UPH ini menyanyikan bagian solo tenornya dengan lantang dan menawan. Terlihat bagaimana ia sungguh mencintai karya ini dan betapa karya ini telah melekat dengan dirinya. Di sisi lain, soprano Hwang Hwasook tampil dengan pendekatan yang cukup mendetail untuk pembawaan karya barok ini. Dengan suara yang cenderung lebih lembut, Hwasook mampu menunjukkan agilitas suara yang baik dan maksud yang jelas, walaupun di beberapa tempat sempat terhalang volume orkestra. UPH2

Soprano Delima Simamora kebetulan mendapat tantangan yang berat untuk membawakan bagian solo alto. Dengan warna yang cenderung gelap, Delima tetap berusaha membawakan karya ini dengan penuh tangguh jawab. Walaupun sulit terdengar dan terkesan berat, namun tutur musiknya masih dapat terdengar. Jujur saja, tantangan untuk menjadi penyanyi alto sangat sulit terlebih harus memiliki daya tembus yang luar biasa diantara kebisingan alat musik di sekitarnya dan keputusan yang luar biasa nekad untuk meminta seorang dramatik soprano membawakan rentang suara alto untuk sebuah karya barok.

Christian Lukas sebagai solois bass tampil dengan kepercayaan diri yang tinggi, ia nampak paham dengan musik yang harus ia sampaikan, namun perlu perhatian untuk diksi  danvokal yang cenderung tertelan. Padahal, bagian resitatifnya sungguh mengutamakan wibawa dan bobot yang terfokus memancar keluar.

Di tangan konduktor Tomislav Dimov, UPH Symphony Orchestra bermain dengan cukup bersemangat. Seksi gesek terutama biolin dan biola bermain dengan cukup kompak. Warna pemainan sudah cukup terasa sejak pertama memasuki bagian pertama Simfonia, tapi juga kesulitan untuk mampu merekatkan permainan French Overture dengan permainan not bertitik yang bisa lebih bertenaga. Ini terbawa terus hingga akhir permainan. Secara nuansa dan aristektur cukup jelas, namun detail seperti aksentuasi hemiol, konsistensi motif yang krusial belum sepenuhnya tercapai, sebagaimana definisi awal kalimat dan ritardando yang sulit serentak.

Pujian perlu diarahkan pada para pemain baris depan yang dengan sigap mengeksekusi pengkalimatan dan menggerakkan seluruh orkestra. Warna biolin dan biola terdengar bersinar dan secara mandiri  mampu mengeluarkan corak-corak apabila diperlukan, intonasi pun terjaga dengan baik. Ini tentunya atas campur tangan Dimov dalam proses latihan yang juga adalah dosen biolin di UPH. Barisan woodwind, trompet dan timpani pun mampu memberi warna yang setimpal walaupun di beberapa tempat bisa terdengar lebih berani.

Pujian ketangkasan dan keajegan juga perlu dilayangkan pada permainan Erick Hidayat pada keyboard yang sayangnya tidak diikuti oleh rekan kontinuo cello dan kontrabass. Selain harus menjadi dasar yang kokoh, basso kontinuo dituntut untuk mampu menjadi rekan yang sepadan dengan seksi lainnya dalam hal kemandirian dan ketepatan eksekusi. Ketiga hal ini yang tampaknya belum terlalu dituntut Dimov dari barisan kontinuo semalam. Alhasil daya dukung musik komponis Jerman yang banyak mengutamakan kefasihan dan kekokohan ritme seakan hilang begitu saja, seakan musik lincah bak menjangan lincah di register atas namun bak kuda nil jinak di register bawah.

Ya, tentunya banyak harapan tertumpu pada musisi-musisi muda dari UPH ini, satu dari sejumput konservatori musik di Tanah Air ini. Di satu sisi, pergelaran kemarin adalah sebuah pencapaian. Dari mahasiswa-mahasiswa inilah, akan lahir musisi, pemikir, pendidik dan budayawan yang diharapkan mampu berbicara banyak di lingkungan ia berkarya, lokal maupun internasional. Dan dari pertunjukan konser dengan memainkan karya ternama macam ini, kita bisa menimbang-nimbang penalaan Konservatori Musik UPH berada saat ini dan menanti gebrakan macam apa yang akan digelontorkan UPH untuk menjadi pembibitan yang semakin layak untuk musisi muda Indonesia.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: