Kabar Terkini

Gegap Bersama Mendelssohn


JSOMendelssohn1

Tidak tentu setiap malam kita bisa menyaksikan dua buah simfoni dimainkan bersamaan dalam sebuah konser orkestra, terlebih di Jakarta. Tapi seperti beberapa waktu sebelumnya ketika orkes ini memainkan 3 buah konserto sekaligus, nampaknya ini adalah kebiasaan bagi Jakarta Simfonia Orkestra untuk berada di luar batas kelaziman dan mempersembahkan dua buah karya simfoni dalam satu sore.

Mendelssohn Night adalah tajuk konser sore ini. Mengeksplorasi dua karya simfoni dari seorang komponis abad 19 yang pada masa kecilnya sering didaulat sebagai penerus Wolfgang Amadeus Mozart karena kemampuan komposisinya yang luar biasa semenjak dini, konser malam ini di markas JSO, Aula Simfonia Jakarta, juga diwarnai banyak hal yang juga luar biasa berbeda.

Dibuka dengan permainan Piece Heroique untuk organ pipa dari Cesar Franck, dengan Lina Runtuwene pada konsol organ. Permainannya yang cenderung lembut dan tidak berjejak di awal karya dibalas dengan kemegahan yang kokoh di akhir karya yang termasuk dalam 3 Pieces for organ dari komponis Belgia-Prancis yang menjadi organis di Gereja Sainte-Clotilde.

Hal yang berbeda dari biasanya kali ini adalah dengan hadirnya konduktor tamu Gabriel Laufer yang juga menuntut ilmu di sekolah yang sama dengan Cesar Franck – Royal Conservatory of Liege. Memainkan karya Mendelssohn yang berjudul Simfoni No.5 “Reformation” karya ini menjadi pembuka rangkaian konser yang kuat dengan tema Kristen Protestan.

Sebagai sebuah karya selebrasi, Gabriel berhasil membawa orkestra dalam suasana yang gegap gempita. Setiap gerakannya mengindikasikan antusiasme dan semangat yang berkobar, yang sangat berpengaruh pada permainan seksi tiup logam yang cemerlang sore itu. Begitu juga dengan permainan timpani Antonius Swastedi didorongnya hingga ambang batas. Intrikasi permainan terasa sangat kuat, terlebih dengan jalinan permainan di seksi gesek dan tiup.

Walaupun bisa digalang untuk lebih padu, namun tampaknya karya ini memang diarahkan Gabriel untuk menampakkan sisi muda dari Mendelssohn yang berterus terang dan penuh gairah muda. Sebagai catatan karya ini memang ditulis lebih dahulu ketika ia berusia 20 tahun. Di sisi lain, apabila didukung oleh seksi gesek yang lebih besar, sebenarnya memungkinkan apabila karya ini tidak hanya digarap untuk mementingkan sudut ritmis yang sore itu telah dimainkan dengan hidup, tetapi juga keleluasaan bernyanyi yang lebih. Dengan seksi gesek yang kemarin tidak terlalu banyak, memang beresiko permainan seksi gesek terdengar kurus dan tidak memiliki cukup ruang untuk berekspresi, mengingat karya ini juga merupakan bagian dari repertoar romantik awal yang menuntut kefasihan frase di sisi biolin yang agak samar dalam eksekusinya kemarin.

Di pembuka babak kedua, giliran tamu khusus biolinis Ayke Agus yang asal Indonesia ini bermain solo dengan memukau di hadapan para hadirin. Memainkan Partita dalam A minor dari J.S. Bach, Ayke yang dikenal sebagai penerus gurunya yang sekaligus adalah raksasa biolinis legendaris abad 20 Jascha Heifetz, memainkan karya ini dengan ketenangan dan ekspresi yang luar biasa dan jarang kita lihat di Indonesia.

Setiap gesekannya adalah khas permainan biola romantik yang sempat menghiasi panggung Eropa hingga pertengahan abad lalu. Setiap nada dibina hingga akhir, ekspresi tersalurkan hingga ke ujung-ujung aula. Gesekannya tidak semata-mata mengandalkan kegesitan ritme dan bersihnya permainan khas eksekusi permainan biola modern, namun pada nyawa setiap nada yang ia mainkan. Ini tentunya adalah hasil kedekatannya sebagai pianis pengiring sang Maestro selama 17 tahun. Ya, Ayke Agus juga adalah seorang pianis yang amat handal. Permainannya sekaligus menjadi jembatan logis bagaimana relasi musikal J.S. Bach yang adalah komponis zaman barok dengan Felix Mendelssohn yang terpaut usia lebih dari 130 tahun.

Kejutan lain juga terjadi di babak kedua, alih-alih konduktor utama JSO Stephen Tong memimpin orkes seperti tertera di buku acara untuk memainkan bagian kedua hingga akhir dari Symphony No.2 “Lobgesang” Mendelssohn, kali ini secara mendadak tampillah asisten konduktor Billy Kristanto di atas lustrum. Memainkan bagian orkes dan paduan suara dari simfoni ini, orkes bermain dengan cukup hati-hati untuk mengiringi paduan suara dan solois malam itu. Memang perannya tidaklah sedemikian sentral namun detail sebenarnya bisa lebih diusahakan oleh Billy yang sebenarnya menunaikan tugas yang lumayan baik sebagai konduktor mendadak menggantikan Stephen Tong yang sakit.

JSO2Bintang semalam adalah soprano Cecilia Yap yang bernyanyi dengan cemerlang. Indah dan sebangun, mungkin itulah istilah yang cocok untuk performa konsisten sang soprano Malaysia yang menuntut ilmu di Conservatoire de St. Caecilia Roma ini. Tapi, konsistensi ini nampaknya memang lebih dibutuhkan oleh soprano Elsa Pardosi juga tampil malam ini. Bernyanyi dengan kalimat yang indah dan musikal, namun secara konsistensi belum mampu menjadi partner duet yang baik untuk Cecilia Yap.

Konsistensi pun nampaknya juga bernilai lain bagi tenor Peter Chung asal Malaysia. Penulis sempat sontak kagum dengan warna dan sonoritas sang tenor yang sempat mengecap pendidikan di Australia ini walaupun agak kaku di register atas. Akan tetapi konsistensinya dalam menggunakan warna yang sama untuk seluruh nomor agaknya mengubah persepsi penulis tentang tenor ini. Padahal banyak bagian karya yang sangat mengandalkan keleluasaan dalam mengguratkan nuansa dalam teks Mendelssohn. Kealpaannya untuk mengoleskan warna-warna dan nuansa menjadikan teks yang sedemikian kaya malahan menjadikan nyanyiannya terkesan semakin hambar di telinga penonton.

Ini pun yang terjadi dalam barisan paduan suara Jakarta Oratorio Society. Nampak bahwa paduan suara yang kali ini tidak turun dalam jumlah besar tidak mampu menampung tenaga dan kekuatan teks dari Mendelssohn yang diambil dari ayat-ayat kitab suci Kristen. Artikulasi sama sekali tidak terjaga, berbanding terbalik dengan permainan biolin Ayke Agus di awal babak. Akibatnya Lobgesang atau Hymne Pujian ini kehilangan daya magisnya padahal ini adalah sebuah cantata yang menitik beratkan pada eksekusi dan pemaknaan teks yang erat.

Mendelssohn memang adalah komponis besar yang namanya tidak banyak berdengung bak Beethoven atau Brahms di dunia musik simfonik, apalagi di Indonesia. Menarik adalah bagaimana para bintang tamu ini mencoba untuk memberikan yang terbaik untuk musik Mendelssohn ini. Dan memang diperlukan tanggung jawab dari sisi orkes maupun paduan suara untuk menjadi advokat yang hebat untuk komponis ini.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: