Kabar Terkini

Competitiongate – Terindikasi


Di Amerika sana sedang ramainya skandal Competitiongate yang terjadi di salah satu kompetisi piano di Toronto, Kanada. Diangkat dari salah satu tulisan Norman Lebrecht, salah satu kolumnis aktif dan pengamat seni musik, Toronto International Piano Competition kedua kembali menjadi isu skandal setelah kompetisinya yang pertama.

Kembali menjadi ketua dewan juri Yoheved Kaplinsky yang juga adalah pengajar di Juilliard, kompetisi yang didukung sponsor Rolex ini diduga telah disetir untuk menaikkan pamor murid-murid sekaligus guru-gurunya yang adalah juga juri-juri dari kompetisi ini. Jadi logika konspirasinya adalah juri-juri meloloskan dan memenangkan murid-muridnya sendiri untuk memastikan murid-murid mendapat batu pijakan untuk berkarier di dunia internasional. Ini pun ujung-unjungnya akan menaikkan pamor sang guru sendiri.

Aksi ini tercium Lebrecht di tahun ini karena ternyata dari 24 orang kontestan, lima adalah murid dari Yoheved Kaplinsky, dan tiga lagi murid dari Fabio Bidini. Total-total adalah sepertiga dari seluruh kontestan yang ada. Pun secara hasil kompetisi, ketujuh anggota juri memutuskan untuk memenangkan salah satu murid Yoheved dan lima besarnya tiga murid Kaplinsky dan dua orang murid Fabio Bidini. Serasa seperti reality show yang sudah diskenariokan?

Tanpa melihat bagaimana mereka berkompetisi, memang sulit untuk menjawab apakah memang terjadi pengaturan skor macam ini. Bisa jadi memang peserta ini adalah yang terbaik di antara peserta yang lain, bukan karena pengaturan.

Tapi apakah ini juga terjadi di Indonesia? Kita melihat sekarang di Indonesia, kompetisi bertaburan, paduan suara, penyanyi, piano, ensembel dan sebagainya. Apakah dengan belajar ataupun berlatih dengan salah satu dewan juri akan meningkatkan kesempatan untuk menang? Atau malahan memastikan posisi juara? Atau lebih parah, apabila kita berani bayar uang les lebih mahal, lebih besar juga kans kita jadi kampiun?

~sekedar iseng bertanya
~di sisi lain, susah juga ya jadi juri

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: