Kabar Terkini

Berjalan Bersama PSKR


PSKRSemalam di Usmar Ismail Hall di bilangan Kuningan, Paduan Suara Kristus Raja menampilkan serangkaian repertoar musica sacra dalam konser berjudul Perjalanan Doa.

Tampil dipimpin oleh tiga orang konduktor Mercy Corebima, Antonia Valentina dan Andreas Andy Jatmiko, paduan suara ini menjelajah berbagai repertoar musik paduan suara dengan diiringi piano Tadhan Immanuel, organ elektrik Darmawan Susilo dan ditutup dengan orkestra gesek yang mengiringi seluruh paduan suara.

Menarik sebenarnya melihat 3 orang konduktor dan efeknya pada satu buah paduan suara yang sama. Di tangan Andy Jatmiko, tampak seluruh paduan suara bernyanyi dengan penuh semangat. Ketelitiannya dalam menggarap karya sudah terdengar dari karya dari Monteverdi Laudate Dominum. Kemudian berturut-turut karya I Know That My Redeemer Liveth dari Lee Dengler dilanjutkan dengan Laudate Dominum karya Mozart yang menampilkan soprano Onny Caroline yang bernyanyi dengan hangat dipadu paduan suara yang lugas.

Paduan suara bermarkas di Kampung Duri ini pun berubah di tangan Antonia Valentina yang banyak menampilkan suasana lembut dan atmosferik dari bangun karya musik yang dibawakan. The Lord’s Prayer karya Malotte dilanjutkan dengan Be Thou My Vision dari Bob Chilcott dan ditutup dengan Veni Sancte Spiritus karya Mozart. Secara umum, musik di tangan Valentina lebih terasa mengalir secara alami dan luwes, namun kecermatan yang sempat terdengar di tangan Andy sebelumnya juga sedikit terkompensasikan. Namun demikian paduan suara terasa lebih manusiawi dan mampu berekspresi dengan baik.

Di sisi lain, memang teknik menjadi keterbatasan yang ada di antara anggota paduan suara. Walaupun demikian, paduan suara mampu menyeimbangkan kerja keras mereka yang mampu tetap menyanyikan nada-nada yang sulit tanpa terdengar dipaksakan. Ini adalah prestasi yang perlu dicatat, terutama untuk sebuah paduan suara amatir berbasis kesukarelaan seperti ini. Pun intensi musik juga tersampaikan dengan baik.

Paduan Suara Kristus Raja nampaknya sudah siap untuk selangkah lebih maju lagi dari sisi interpretasi, terutama dalam membentuk warna musik sesuai dengan cita rasa dan gaya dimana musik itu ditulis. Adalah baik apabila paduan suara bisa membandingkan dengan lebih kontras gaya musik Monteverdi di abad 17 dengan gaya Mozart abad 18 dan Chilcott abad 20 yang tentunya datang dengan konsepsi paduan suara dan bunyi yang berbeda pula.

Mengejutkan adalah bagaimana Mercy Corebima membawakan babak kedua dari konser dengan Missa dalam G Mayor karya komponis romantik Franz Schubert. Diiringi orkestra gesek, tiga solois tampil ke depan: tenor Ivan Jonathan dan soprano Lauw Kim Fong yang tampil dengan cemerlang ditemani bariton Joseph Kristanto Pantioso. Lau Kim Fong tampil dengan sonoritas dan penguasaan yang mantap pada karya dan mampu berekspresi penuh, menampilkan warna yang sama sekali lain dengan penampilannya yang terakhir di awal bulan November ini.

Selain itu, di tangan Mercy Corebima, tampak paduan suara mampu menggalang suara dengan pendeketan yang fleksibel namun musikal. Memang adalah tantangan tersendiri untuk bernyanyi di hall seperti Usmar Ismail Hall yang cenderung kering dan sedemikian transparan dari segi akustik. Diperlukan jam terbang untuk mampu memanipulasi akustik aula berkapasitas 400 orang lebih ini yang semalam terisi hingga penuh. Namun, PSKR mampu mengakalinya dengan baik, walau masih ada ruang untuk perbaikan.

Orkestra gesek dengan Malvinas Pinem sebagai concertmaster tampil dengan jernih dan tergarap. Mercy sebagai konduktor terlihat mampu menemukan balans antara orkestra dengan paduan suara. Artikulasi permainan orkes pun terdengar jernih juga dengan pengkalimatan yang semakin matang dan tanggap terutama dari nomor Credo, Sanctus, Benedictus dan Agnus Dei. Intonasi terjaga dengan apik dan musik mengalir dengan bebas semenjak Kyrie Eleison dikumandangkan, membuat penonton terpesona sejak frase pertama. Gloria pun berkumandang setelahnya. 

Karya ini di satu sisi memang merupakan karya yang manis dan menggugah, namun di sisi lain juga karya yang diselingi dengan pergolakan-pergolakan yang belum banyak terdengar dalam pertunjukan semalam. Sedikit aroma dramatis tentunya akan dapat mengubah karya ini menjadi lebih menggigit dan membara apalagi bila memasukkan instrumen timpani dan trompet sebagaimana ditulis oleh Schubert. Namun demikian pendekatan Mercy dan seluruh paduan suara yang cenderung feminin terproporsi dengan baik sehingga keindahan keseluruhan persembahan lagu tetap terjaga.

Sebuah sajian yang menarik untuk sebuah paduan suara yang tergolong muda, tahun ini berusia 8 tahun. Dan tentunya sebagaimana konser lainnya, pertunjukan ini bukan hanya sebagai titik akhir, malah sebagai titik awal perjalanan mereka dalam doa dan nyanyian untuk menjadi lebih baik lagi. Perjalanan Doa ternyata memang merupakan perjalanan Paduan Suara Kristus Raja ini.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: