Kabar Terkini

Ketika Calon Guru Berokestra


BCOBekerja sama dalam musik dan menciptakan keindahan tampaknya semakin disadari pentingnya dalam membentuk seorang pribadi yang utuh. Terlebih untuk seorang calon guru musik, pengalaman bermusik bersama sebagai suatu kesatuan adalah pengalaman esensial bagi seorang guru musik. Apabila ia pernah mengalami asyiknya bermusik bersama, tentunya dengan mudah ia mampu membimbing murid-murid juga untuk menyukai kegiatan bermusik bersama secara sederhana di kelas, kegiatan yang mendasar sekali dalam pendidikan musik.

Ini pula yang tampaknya disadari oleh Universitas Negeri Jakarta yang di awal bulan Oktober lalu mendirikan Batavia Chamber Orchestra yang diawaki terutama oleh mahasiswa jurusan keguruan seni musik, sebuah jurusan yang sudah sedemikian lama ada di perguruan tinggi yang dahulu dikenal sebagai IKIP Jakarta ini. BCO ini pun bergabung dalam barisan orkestra komunitas kampus yang mulai bertumbuh di ibukota lewat UI di tahun 1980-an.

Semalam kemarin adalah konser pertama mereka. Bertajuk The Concert, pergelaran semalam adalah sebuah gerakan yang terbilang berani, mengingat orkes ini belum genap berusia dua bulan. Namun demikian, memang dibutuhkan keberanian dan bahkan kenekadan untuk membentuk sekaligus menjalankan sebuah orkestra, apalagi sebuah orkestra baru. Seringkali menantikan terlalu lama dengan harapan persiapan akan lebih sempurna dan matang malah kontraproduktif karena hingga kapan pun persiapan tidak akan pernah sempurna.

Didahului oleh penampilan kuartet dan ensembel, memainkan karya-karya klasik populer seperti Eine Kleine Nacht Musik dari Mozart dan Canon in D dari Pachelbel serta permainan ensemble memainkan Indonesia Pusaka Ismail Marzuki dan Pada Pahlawan dari C. Simanjutak, sajian utama konser adalah orkes Batavia Chamber Orchestra yang dipimpin oleh RM Aditya Andriyanto selaku konduktor.

Aditya yang juga adalah dosen luar biasa di UNJ juga bertindak sebagai arranger dari semua karya orkestra yang dibawakan hari Selasa ini. Winter Games dari David Foster adalah satu-satunya yang dibawakan barisan orkes tanpa kehadiran solois. Sajian berikutnya obois Rafika Primadesti bersama BCO memainkan Gabriel’s Oboe, dilanjutkan dengan sajian yang menampilkan tema umum kepahlawanan sesuai dengan tema 10 November.

Tanah Airku dari Ibu Soed dengan vokal dari Bening yang adalah mahasiswi UNJ, dilanjutkan karya Pantang Mundur dari Titik Puspa yang menampilkan violinis yang pernah menjadi violinis bintang cilik, Didiet yang disambung dengan Kopral Jono dengan permainan Windy Setiadi pada akordeon.

Konser pun ditutup dengan permainan BCO bersama Jakarta Ethnic Music yang mengusung alat musik perkusi yang sangat bertenaga. Adalah keriaan tersendiri melihat permainan alat pukul yang rancak dan bersemangat. Tampak bahwa semua pemain dari Jakarta Ethnic Music ini begitu nyaman dengan permainan mereka, lepas dan menikmati musik yang mereka ciptakan. Sejenak terbersit bahwa memang musik tradisi Indonesia banyak didominasi alat musik pukul, sebuah pilihan orkestrasi yang cerdas dari Aditya untuk medley Janger, Saputangan babuntu Ampat, Bolelebo dan Yamko Rambe Yamko yang menutup konser. Jakarta Serenade Choir pun ambil bagian, walaupun penonton masih kesulitan mendengarkan suara mereka terlebih setelah ditempa oleh permainan perkusi yang dilakukan di sekitaran bangku penonton, bukan di panggung.

Untuk orkestra yang berusia belum genap dua bulan, tentunya masih besar ruangan orkestra untuk berkembang. Memang belum semua pemain fasih dengan alat-alatnya, dan sebagaimana banyak orkes amatir, intonasi masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diperbaiki. Memang harus dikatakan bahwa UNJ bukan diharapkan mencetak pemain bintang, namun seorang musisi yang baik tentunya akan dapat menjadi inspirasi yang kuat buat anak didik agar mengikuti jejak sang guru yang mahir bermusik dan cakap dalam mendengar.

Harus dikatakan bahwa terimakasih pada pimpinan Aditya yang penuh semangat dan tentunya pada bentukan orkestrasinya. Orkestrasinya terbilang ringan untuk orkes baru ini tanpa mengharuskan pemain untuk berkutat pada persoalan not dan eksekusi. Nada-nada panjang dan sesekali nada tinggi dan pendek dipadu untuk membentuk warna ambians pada karya-karya yang dikawal dengan piano untuk membantu persoalan intonasi orkes.

Sedikitnya barisan gesek rendah dibantu seksi rhythm dengan gitar bass dan drumset di belakang untuk mempertebal suara. Di sisi lain perlu perhatian khusus untuk seksi tiup terutama tiup logam untuk bisa bermain lebih bersih. Menarik juga bagaimana Aditya memadukan segmen improvisatoris dalam karya Kopral Jono yang mengharuskan pemain memainkan nada bebas namun harus tanggap pada volume yang ia tunjukkan dengan improvisasi, mengingatkan pada banyak karya-karya musik klasik terkini.

Memang masih banyak pekerjaan rumah untuk kualitas permainan orkes baru ini juga dari sisi kerapihan penyelenggaraan. Namun di sisi lain, ini adalah titik awal yang baik, terlebih untuk orkes yang baru berusia 5 minggu untuk terus maju dan mengembangkan permainan. Dan menjadikan orkes ini sebagai sebuah laboratorium dan wadah pembentukan para anggota adalah sebuah keputusan yang tepat. Dan tentunya dengan semakin berkembangnya kualitas orkes ini, seharusnya semakin berkembang pula mutu pendidikan di institusi yang mencetak pendidik-pendidik musik ini.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Ketika Calon Guru Berokestra

  1. We are the music teacher….
    Ganbatte BCO…
    Semoga qt bs berkarya terus dan terus majuuuu!!!

    Satu hal aja pesanku utk qt,,jadilah guru dan pemain orkestra yg menjunjung tinggj etika sopan santun…

    Wajib dah!!

  2. Reblogged this on Link and commented:
    BCO’s first concert at my birthday🙂
    We can make it better tho

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: