Kabar Terkini

Dari Mata Prokofiev oleh London Symphony Orchestra


IMG_5663-0.JPG

Bukan setiap kali kita bisa menyaksikan salah satu orkestra terbaik di dunia tampil di regio Asia Tenggara. Tentu saja adalah kesempatan langka pula untuk menyaksikan orkestra dari kepulauan Britania ini memainkan karya-karya yang menjadi keunggulan sekaligus andalan orkes ini dan konduktor utamanya. Ya, baru saja malam ini Concert Hall Esplanade Singapura kedatangan London Symphony Orchestra dan konduktor utamanya Valery Gergiev yang kini juga menjadi salah satu figur berpengaruh di dunia musik klasik saat ini.

Tampil dalam format lengkap, orkestra handal dari Britania Raya ini memainkan program penuh dari Sergei Prokofiev. Dua simfoni dan satu konserto piano disuguhkan malam itu, sebagai malam kedua dari tour mereka ke Asia Pasifik Singapura dan Sydney kali ini. Setelah memainkan karya komponis Sergey Rachmaninnoff dan Dmitri Shostakovich kemarin malam, kini giliran karya Prokofiev yang mereka suguhkan malam ini di hadapan publik: Symphony No.1 dalam D mayor Op.25, Piano Concerto No.3 dalam C mayor Op.26 dan Symphony No.5 dalam Bes mayor Op.100.

London Symphony Orchestra (LSO) sendiri sejak tahun 2007 dan dipimpin oleh Gergiev menjadi salah satu interpretator solid untuk karya-karya Rusia abad ke-20, ranah yang juga menjadi keahlian dari sang konduktor utama yang juga menjabat sebagai Direktur Umum Mariinsky Theatre di St. Petersburg sejak tahun 1988 dan pemegang jabatan direktur artistik di segudang festival bergengsi di berbagai negara di Eropa. Tidak heran ia juga didapuk sebagai pribadi paling berpengaruh dalam bidang musik di Rusia dan Eropa, terutama Inggris tempat asal LSO dekade ini. Jadi dalam tur ini, dapat dikatakan LSO walaupun bermain di negara yang jauh seakan bermain di pekarangan rumah sendiri, terutama apabila ditilik dari sisi repertoar yang dimainkan.

Tampil sebagai solois dalam konserto piano, adalah pianis Rusia Denis Matsuev yang juga adalah kolaborator rutin bermain bersama Valery Gergiev. Semenjak kemenangannya di International Tchaikovsky Competition 1998, ia telah membuktikan diri sebagai pianis dengan keterampilan dan musikalitas yang luar biasa dan bermain dengan beragam orkes serta konduktor kenamaan dunia. Di hadapan konserto piano yang ditulis dalam kurun waktu tahun 1913-1921 yang menantang secara teknis, Matsuev tampil dengan mantap dan berkepala dingin.

Dengan karakter musik yang bisa disalahartikan sebagai musik yang kaku perkusif, Matsuev dengan tenang mengeksekusi karya tersebut dengan kefasihan tinggi dan kaya warna. Karya yang sering dianggap semacam marathon untuk pianis ini, digalang dengan kecemerlangan dan terkontrol sehingga sesekali nampak seakan sebagai karya miniatur yang cantik. Sesekali ia berada dibalik orkestra walaupun mengeksekusi bagian-bagian sulit, di tempat lain ia bersinar dengan terangnya. Pun mengherankan bagaimana terbersit sebuah suara klarinet dan fagot serta instrumen gesek keluar dari sebuah piano lengkap dengan polifoni yang terjalin padat. Tapi itulah yang terjadi dalam 2 buah encore yang ia persembahkan kepada penonton yang bertepuk sedemikian antusias setelah konserto yang gemilang ini selesai.

Tur ke Timur ini nampaknya menjadi beban kesehatan juga bagi para pemain malam itu. Mendadak sang pemimpin orkes/concertmaster berhenti bermain dan terlihat tidak mampu berkonsentrasi. Walaupun sempat meneruskan permainan sebentar akhirnya ia memutuskan untuk berdiri dan meninggalkan panggung tepat di tengah permainan bagian ketiga dari konserto. Nampaknya ia tidak mampu lagi meneruskan, pun akhirnya sang asisten Carmine Lauri yg duduk disebelahnya dengan sigap mengambil alih kursi pimpinan dan pemain di belakangnya lgsg maju dan mengisi bangku depan yg ditinggalkan Carmine. Memang tur seperti ini terkenal sangat melelahkan untuk seorang pemain orkes. Roman Simovic sang concertmaster pun tidak lagi nampak hingga acara usai.

photo 2

Sebagai karya pembuka, Symphony No.1 yang bertajuk “Classical” ditampilkan dengan ukuran orkestra yang direduksi agar sesuai pendekatan Era Klasik abad 18. Sebagai seorang komponis pengusung gerakan Neo-Klasik, Prokofiev nampak berusaha menghidupkan kembali idealisme bentuk klasik, baik dari sisi komposisi hingga ukuran orkestra. Gergiev pun secara cerdik menempatkan biola dua berseberangan dengan biola satu, dan memainkan karya ini sebagai sebuah pendekatan musik yang seakan sintetis namun cerdik menawan lewat disonansi. Penonton seakan dibawa untuk menikmati keindahan dari bunga palsu yang tercipta dari tangan seorang pengrajin ulung, seindah atau bahkan lebih indah daripada kembang aslinya namun tetap saja penonton sadar bahwa bunga ini adalah bunga plastik. Inilah sebuah usaha alternatif komponis untuk menghidupkan kembali tonalitas yang dianggap dianggap filsuf Adorno sebagai penipuan terhadap kesejatian perkembangan musik yang semakin atonal.

Symphony No.5 yang jadi pemuncak babak kedua, ditampilkan dengan kemegahan dan kelincahan. Tampil dengan format penuh. 70 gesek, 14 tiup kayu, 14 tiup logam dan 6 perkusionis serta piano dan harpa, karya ini menjadi titik besar konser. Orkestra yang sejak awal konser tampil dengan teknik yang tinggi seakan tidak kehabisan stamina. Not-not cepat dan sangat tinggi dimainkan dengan bersih dan tepat. Namun demikian, Gergiev seakan tidak ingin orkes menjadi mesin yang presisi. Gaya mengabanya terlihat longgar walaupun di sisi lain mampu menyedot arah permainan. Inilah yang mungkin menjadi pemicu spontanitas yang deras dari para pemain orkes yang menjadikan orkes ini bermain dengan hidup. Carmine pun setelah ditinggalkan oleh Simovic yang diawal sempat memimpin dengan semangat, juga mengisi peran pemimpin orkes dengan luwes.

Gergiev beberapa kali terasa memimpin orkes sekitar 2 ketuk di depan orkes dengan gerakan tangan getarnya yang khas dan tongkat sepanjang 10cm dan secara mengagumkan orkes bermain dengan lancar dan sempurna, padahal mengingat karya-karya yang dimainkan semalam membutuhkan teknik tinggi di semua lini baik gesek, tiup dan perkusi pun dengan birama yang berubah-ubah. Terlihat profesionalitas LSO yg telah sering bermain bersama hingga 120 konser per tahun. Menakjubkan melihat perubahan tempo yang mendadak seakan tanpa abaan jelas dari konduktor namun semua rapat dan padu dalam setiap pergantian tempo yg iseng-iseng mengejutkan. Karena memainkan karya Prokofiev, tampak orkes menyimpan dengan hati-hati warna geseknya yang hangat dan bermain dengan ketepatan tinggi yang sesekali menantang untuk disimak. Tapi secara cerdik gesek yang hangat ini ditampilkan di beberapa bagian tertentu dan langsung melelehkan hati pendengar. Barisan tiup kayu pun ekspresif dan kaya karakter. Sedang brass tampil gagah dan dinamis. Perkusi pun tampil dengan sangat menunjang dalam memberi warna khas Rusia yang berbobot.

Tepuk tangan antusias membahana dari penonton malam itu dan memaksa orkestra ini memainkan satu karya encore yang penuh energi dan dinamis. Menonton London Symphony Orchestra merupakan satu pengalaman tersendiri dan Prokofiev semalam adalah bukti nyata kualitas mereka di mata dunia sebagai sebuah interpreter musik Rusia abad ke-20 bersama konduktor Valery Gergiev. Berikutnya perhentian mereka: Brisbane, Sydney dan Melbourne, total 6 konser dalam 14 hari.

~ a bit of the first day concert can be read in the Strait Times review

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: