Kabar Terkini

Selintas Tentang Dewan Kesenian Jakarta – Komite Musik


Dewan Kesenian Jakarta adalah salah satu lembaga yang berusia sudah cukup tua. Memasuki usianya yang ke-45, Dewan Kesenian memiliki peran yang sebenarnya cukup sentral dalam pengembangan seni di Ibukota. Cakupannya cukup luas, mengingat Jakarta adalah titik temu budaya di Republik Ini.
Namun sesuai dengan umurnya, organisasi yang diregenerasi setiap 3 tahun sekali ini juga cukup misterius di mata banyak orang. Tidak banyak warga Jakarta tahu apa itu Jakarta Arts Council (Namanya dalam bahasa Inggris) dan fungsinya. Jangankan warga Jakarta, mereka yang mengaku sebagai seniman dan pendidik seni ataupun aktivis seni sering acuh tak acuh terhadap organisasi yang berakar di DKI ini. Karena itu dalam kesempatan ini untuk membuka sedikit tabir misteri itu, kita sedikit ngobrol dengan Aksan Sjuman, Ketua Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta periode kepengurusan 2013-2015. Berikut cuplikannya:

Q: Halo Mas Aksan, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dari website terungkap bahwa DKJ didirikan oleh Gubernur Ali Sadikin tahun 1969 untuk memajukan seni. Saya sebagai bagian dari generasi muda termasuk seniman muda, banyak yang belum aware dengan DKJ. Apakah itu DKJ, Mas?
AS: Basicly, DKJ didirikan dan dilantik oleh gubenur untuk memberikan masukan kebijakan kesenian untuk gubenur (DKI Jakarta red.). Juga menyelenggarakan program-program unggulan untuk masyarakat baik hiburan dan seni experimental. Kutipan Gubenur (DKI Jakarta 1966-1977) Ali Sadikin bahwa masyarakat butuh hiburan yang layak dan juga kesenian yang mengedepankan sisi artistik bukan komersial.

Q: Dewan Kesenian Jakarta kalau dari website disebutkan didirikan oleh Gubernur Ali Sadikin tahun 1969 untuk memajukan seni. Kalau dari sisi organisasi sendiri, sebenarnya bagaimanakah posisi Dewan Kesenian Jakarta?
AS: (Menjawab dengan artikel berikut)
(Ringkas: Awalnya memang Dewan Kesenian Jakarta dibentuk untuk menangkis campur tangan birokrasi yang membatasi kreativitas di dunia seni yang diinisiasi oleh para budayawan, seniman dan aktivis 66. Saat itu juga ada kekhawatiran adanya campur tangan golongan kiri yang merupakan sisa-sisa golongan Orde Lama, dan tentunya isu pengelolaan dan bentuk pusat kesenian agar tidak ada ancaman dari kedua pihak tersebut. Namun Ali Sadikin selaku Gubernur Jakarta mampu menghalau friksi dengan melakukan langkah yang baik, yaitu memutuskan dibangunnya pusat kesenian, lengkap dengan fasilitas dan dana, namun pengelolaannya diserahkan kepada seniman dan budayawan pada tanggal 9 Mei 1968 dibentuklah tim formatur. Tanggal 24 Mei disampaikanlah hasil kerja formatur pada Ali Sadikin dan membentuk Badan Pembina Kebudayaan yang beranggotakan 19 orang. Tiga hari kemudian disepakati Badan Pembina Kebudayaan diubah namanya menjadi Dewan Kesenian Jakarta dengan Trisno Sumardi sebagai ketua pertama.)

Q: Berarti sejak awal mula, dewan kesenian memang dibentuk sebagai langkah politik menangkis pengaruh kiri dan membatasi campur tangan birokrasi di dunia seni. Lantas bagaimana dgn keadaan sekarang? Apakah ada perubahan dr sisi itu?
AS: Kalau sekarang kita ga mikirin politik…

Pementasan Ubiet dan Keroncong Tenggara

Q: Jujur saja, di luar negeri banyak Dewan Kesenian menjadi pintu keran subsidi pemerintah untuk pengembangan seni. Alhasil perannya seperti perpanjangan tangan kuratorial dari pemerintah, apakah ini yang juga coba diwujudkan di Jakarta?
AS: Dewan Kesenian berperan untuk melakukan kebijakan kesenian, menawarkan trend kesenian pada masyarakat, khususnya Jakarta sebagai centra seni Ibukota. Dewan melakukan kegiatan-kegiatan yang  didanai hibah pemerintah yang sifatnya pengembangan seni, dengan arah trend seni dunia, menggali potensi-potensi pelaku seni di Indonesia, dan mengkurasi seniman-seniman muda untuk bisa jadi wakil kegiatan-kegiatan seni dunia.

Q: Dewan Kesenian seringkali dianggap sebagai bagian dari elite seni apalagi karena sering bersinggungan dengan pemerintah daerah, alhasil banyak yang menghindari bersinggungan dengan DKJ. Bagaimanakah cara Komite Musik saat ini untuk menepis anggapan yang sedemikian?
AS: Kami sangat terbuka,  juga pada kegiatan2 seni hiburan, kami sangat menjunjung kesenian yang matang, baik seni hiburan , seni pertunjukan panggung, experimental dan mencoba selalu mendukung dan meningkatkan kesempurnaan seni itu sendiri agar masyarakat bisa menikmati hiburan yang mendidik dan berkualitas.

Diskusi pemutaran film oleh Pertemuan Musik Jakarta didukung Dewan Kesenian Jakarta

Q: Kepemimpinan Jakarta akan segera berganti dari Jokowi ke Ahok, bagaimanakah ekspektasi dari DKJ khususnya Komite Musik setelah pergantian kepemimpinan ini?
AS: Kami menjalankan peran secara indipenden, walaupun kami diangkat oleh gubenur, artinya kami dengan sebaik-baiknya, sedapatnya memberikan masukan dan membuat program-program bermutu untuk dinikmati masyarakat. Kami berharap gubenur mendukung dari segi manapun, untuk kegiatan-kegiatan yang kita akan laksanakan, juga bisa membuka diri dan melihat jauh kedepan bagaimana kehidupan seni di Jakarta di masa sekarang dan yang akan datang

Q: Adakah langkah khusus dari Komite Musik untuk memperluas jangkauan, terutama awareness di kalangan seniman generasi muda akan peran dan manfaatnya?
AS: Dalam hal awareness ke generasi muda, kami acap kali mengadakan kegiatan-kegiatan kesenian, yang berfokus kepada pendidikan dan mengajak kaum muda dari institusi musik formal, komunitas dan perorangan. Sejauh ini seperti Pekan Komponis Indonesia selalu melibatkan generasi muda.

Pameran alat musik keroncong

Q: Di sisi lain keberadaan Dewan Kesenian Jakarta belum banyak beresonansi dengan kepentingan para penikmat seni, apakah yang sudah dilakukan Mas oleh DKJ, terutama Komite Musik untuk benar-benar menjadi jembatan seniman dengan masyarakat umum?
AS: Kami rasa setiap langkah yang dilakukan dewan kesenian sudah berfokus terhadap hal tersebut, memang kan butuh waktu, dan dana untuk mensosialisasikan rancangan kegiatan kita. Dan, kita yakin di tahun-tahun mendatang lewat program-program yang kami rancangkan akan berhasil.

Q: Mungkin bisa dishare Mas, langkah strategis seperti apakah yang akan diambil kedepannya oleh DKJ dan juga komite musik?
AS: Kami akan berkonsentrasi salah satunya untuk pengembangan komunitas-komunitas seni di Jakarta, memberikan bantuan untuk pengembangan. juga memproduksi event-event yang yang melibatkan komunitas di Jakarta dan juga daerah.

OK Terimakasih Mas Aksan, jangan bosan-bosan ya menjawab pertanyaan kami.. Sukses terus!

Photos:
Courtesy of dokumentasi Dewan Kesenian Jakarta
About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: